Sejak 2026 · Cerpen edition
Cerpen pendek dari Jakarta yang sebenarnya.
Sebelas cerita pendek, 600-1000 kata. Lokasinya nyata, tokoh-tokohnya tidak. Setiap minggu satu cerpen — dibaca dalam empat menit, ditulis dalam beberapa hari.
Cerpen
109
Genre
6
Total kata
66.2K
Cerpen pilihan
Tiga Jam Empat Belas Kilometer
Empat orang, satu Avanza, satu lagu yang sama diputar enam kali sebelum kami sampai pintu tol Cawang.
Baca cerpen →
Semua cerpen
109 TULISAN
Tangerang Sudah Jadi Rumah
Rendi, 34 tahun, merantau dari Lampung dan tiga belas tahun tinggal di Ciledug. Waktu ibunya menelepon untuk Lebaran, dia bilang tidak pulang — bukan karena tiket mahal, bukan karena cuti tidak ada, tapi karena dia sudah tidak tahu lagi di mana 'pulang' itu sebenarnya.
Grup WA Keluarga Beda Kota
Dinda pulang ke rumah Om Hendra di Gading Serpong untuk acara ulang tahun Nenek — satu-satunya acara dalam setahun yang bisa mengosongkan grup WA keluarga besar, karena semua orang akhirnya ada di satu ruangan tapi masih ngetik.
Ayah Antar Anak ke Pesantren
Reza, 37 tahun, berangkat dari cluster Foresta BSD pagi-pagi dengan mobil penuh koper dan bekal. Anak sulungnya, Farhan, diam sepanjang jalan. Reza tidak tahu apakah itu karena takut atau karena sudah siap.
Gaji Pertama Transfer ke Ciputat
Raka, 21 tahun, mahasiswa sambil kerja paruh waktu di Ciputat, menerima gaji pertamanya dan menghadapi pertanyaan yang tidak pernah dia siapkan: berapa yang harus dikirim ke rumah, dan berapa yang boleh dia simpan untuk dirinya sendiri.
Kantin Pabrik Dua Puluh Lima Tahun
Warso dan Lilis pertama kali bertemu di kantin Pabrik Tekstil Nusatama, Tangerang, tahun 2001 — dua karyawan baru yang sama-sama tidak tahu meja mana yang boleh diduduki. Dua puluh lima tahun kemudian, meja pojok itu masih ada, dan mereka masih datang setiap hari.
Pulang Serpong Setelah Tiga Tahun
Rendra, 31 tahun, tiba di Stasiun Rawa Buntu pukul setengah tiga sore setelah tiga tahun di Surabaya — bukan karena rindu, tapi karena kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Rumah sama. Kamarnya sudah jadi gudang.
Hari Terakhir Angkot 03
Pak Hendra sudah tiga puluh tahun memutar setir di rute Karawaci–Cimone. Hari ini pemerintah resmi menarik izin trayek. Dia tidak mau buru-buru pulang — tapi dia juga tidak tahu mau ke mana lagi.
Warung Padang, Remote, BSD
Reza, 34 tahun, freelancer UI designer, sudah tiga minggu nongkrong di Warung Minang Pak Muis di ruko BSD City buat kerja. Laptopnya Macbook Air, mejanya plastik, dan wifi-nya gratisan dari sinyal sebelah. Hari ini kliennya minta revisi kelima.
Cucu yang Tidak Dikenal
Mbah Siti sudah enam puluh delapan tahun, tinggal di gang belakang Pasar Ciledug, dan hafal suara langkah kaki semua cucunya. Tapi cucu sulungnya — Raka, dua puluh satu tahun — mulai terasa seperti orang asing yang kebetulan menumpang makan siang.
Bapak HP Baru Minta Setup
Pak Hendra baru saja membeli Samsung Galaxy A56 dari iBox Tangcity, tapi satu benda berharga tetap tertinggal di sana: kemampuan setup aplikasi sendiri. Kini Reza, anak sulungnya, duduk di depan HP baru itu — dengan sabar yang makin tipis setiap menit.
Ibu Belajar Bayar Listrik
Dara pulang dari kampus Unpam dan mendapati ibunya panik karena token listrik habis tengah malam. Satu sore itu berubah jadi pelajaran tak terduga — bukan cuma soal aplikasi, tapi soal siapa yang sabar dengan siapa.
GoFood Pertama Tablet Baru
Reva, 32 tahun, ibu satu anak di Alam Sutera, baru terima tablet dari suaminya yang kerja di Singapura. Sore itu ia coba pertama kali order GoFood sendiri — dan menemukan betapa jauh jarak bisa terasa dari sebuah layar sembilan inci.
Aplikasi Lomba Tujuhbelas Berbayar
Dimas dan tim startup-nya meluncurkan Merdeka App — aplikasi lomba 17-an dengan sistem poin, leaderboard, dan paket premium — tepat seminggu sebelum Agustus. Mereka tidak menduga bahwa Twitter Indonesia akan memutuskan bahwa ini adalah masalah nasional.
Baju Putih Upacara Anak Kos
Reza, mahasiswa semester tujuh di kos Serpong, baru ingat ada upacara 17 Agustus besok pagi — padahal baju putih satu-satunya masih tergantung basah di kamar mandi sejak tiga hari lalu. Kamarnya tidak punya setrika. WhatsApp-nya penuh pesan panik dari teman satu angkatan.
Libur Tujuhbelas Agustus Pertama
Rudi, 34 tahun, operator mesin di pabrik garmen Cisauk, mendapat libur 17 Agustus untuk pertama kalinya dalam delapan tahun. Dia tidak tahu harus melakukan apa dengan waktu itu.
Kursi Plastik di Lapangan Karawaci
Pak Suherman, 71 tahun, mantan anggota Kopassus yang pernah berdiri tegak di lapangan upacara Istana, kini duduk di kursi plastik merah di RT 07 Karawaci menonton anak-anak berlomba balap karung. Tidak ada yang tahu latar belakangnya. Bahkan cucu-cucunya hampir tidak tahu.
Bendera Pertama Sejak Ditinggal
Sri, 52 tahun, belum pernah memasang bendera sendiri sejak suaminya meninggal tiga tahun lalu. Pagi 17 Agustus itu, tiang besi di depan rumah Cipondoh berdiri kosong — dan Sri berdiri di depannya, memegang lipatan merah putih yang terakhir kali disentuh Mas Harto.
Kasir BSD Jadi TikTok Malam
Revan kerja kasir minimarket di BSD City, shift pagi sampai sore. Malamnya dia jadi TikToker dengan 47 ribu follower — sampai suatu siang pelanggan mengantri di kasirnya sambil berbisik: 'Eh, lo yang kemarin live nyanyiin lagu Hindia itu, kan?'
Hari Terakhir di Loket
Pak Hendra, 48 tahun, pegawai Bank Nusantara cabang Cikokol selama dua puluh tiga tahun, hari ini menutup loketnya untuk terakhir kali. Digitalisasi sudah mengambil keputusan yang tidak pernah dia minta.
Ketemu Lagi di Puskesmas Gading
Raka, 36 tahun, antre di Puskesmas Kelurahan Pakulonan Barat sudah hampir satu jam ketika perempuan di kursi sebelahnya memanggil namanya. Nama itu dari dua puluh tahun lalu, dari kelas lima SD Negeri Cisauk 3 — dan Raka tidak ingat kapan terakhir kali dia dipanggil seperti itu.
Angkot Terakhir Tanpa Ongkos
Rama dan perempuan yang tidak dia kenal naik angkot terakhir dari Ciputat ke arah Pamulang malam itu — dan keduanya baru sadar di tengah jalan bahwa dompet mereka kosong. Tidak ada pilihan lain kecuali jujur kepada sopir yang sudah tua dan sudah lelah.
Influencer Nyasar, Warung Padang Viral
Keira, 22 tahun, content creator lifestyle Serpong dengan 180 ribu followers, niat konten aesthetic di kafe baru BSD tapi malah nyasar ke warung Padang Pak Edi di gang sempit belakang Pasar Modern. Yang terjadi berikutnya dia tidak sempat skrip.
Tunggu di Lobby
Reza, driver Grab Food yang hampir tiga tahun mondar-mandir ke Elevee Apartment, hari ini bertemu penghuni lama yang baru saja akan angkat koper. Tidak ada yang dramatis — hanya obrolan pendek di lobby, dan sesuatu yang tertinggal tanpa nama.
Rebutan Colokan di Kopitagram
Raka dan Dira sama-sama programmer, sama-sama bawa laptop mati duluan, dan sama-sama mengincar satu-satunya colokan kosong di sudut Kopitagram BSD City. Dari rebutan yang kikuk itu, percakapan yang tidak direncanakan pun dimulai.
Satpam yang Tahu Terlalu Banyak
Hendra sudah tiga tahun jaga malam di Cluster Mahoni, Lippo Karawaci. Dia hafal plat mobil semua penghuni, tahu siapa pulang jam berapa — tapi ada satu malam yang harusnya tidak dia ingat.
Surat Resign di Lantai Dua Belas
Rara, 22 tahun, sudah mengetik surat resign tiga minggu lalu tapi belum dikirim ke supervisor. Pagi itu dia masuk unit 1204 Tower B apartemen Pamulang Square, dan pemiliknya — yang seharusnya sudah berangkat kantor — masih duduk di dapur dengan wajah yang susah dibaca.
Koran Terakhir di Karawaci
Pak Darsono sudah tiga puluh tahun berjualan koran di pertigaan Karawaci, tapi sejak berita pindah ke layar HP, pelanggannya satu per satu menghilang. Pagi ini hanya tersisa tiga eksemplar yang belum terjual, dan hari sudah hampir siang.
Paket Nyasar ke Tetangga
Aldi memesan blender impor seharga 800 ribu dari marketplace, tapi paketnya malah diterima Bu Yanti di seberang gang. Masalahnya, Bu Yanti mengaku tidak tahu apa-apa — padahal tanda tangannya ada di bukti pengiriman.
Lulus SNBT, Tidak Bisa Kuliah
Dani, 19 tahun, karyawan pabrik komponen elektronik di Cikupa, menerima notifikasi hasil SNBT pukul delapan pagi di depan mesin press. Dia lolos. Tapi uang pangkal jurusan teknik industri lebih besar dari tiga bulan gajinya digabung.
Warung Ibu, Suami Sakit
Sri menjalankan warung nasi di gang belakang Pasar Ciledug sendirian sejak suaminya masuk rumah sakit tiga minggu lalu. Setiap pagi dia memasak untuk dua puluh porsi, dan setiap malam dia menghitung apakah hari ini cukup.
Ojol Antar ke Kantor Lama
Rizal, 33 tahun, driver ojek online yang sudah dua tahun keluar dari pekerjaannya sebagai staf gudang di kawasan industri Karawaci, mendapat order pagi itu dengan titik tujuan yang terlalu ia kenal — pintu gerbang PT Sumber Makmur Logistik, tempat ia pernah absen tujuh tahun berturut-turut.
Kafe Specialty di Daerah Banjir
Kafe Earthen, Kemang Selatan, buka pukul tujuh pagi. Harga V60 Rp 75 ribu. Banjir setinggi 30 cm di gang sebelah. Pelanggan datang naik ojol dengan kaki diangkat.
Bos Bilang Kita Keluarga
Pak Devan, CEO agensi kreatif di SCBD, bilang ke tim di all-hands meeting: "Kita ini keluarga." Tiga hari kemudian, layoff 12 orang. WA grup keluarga sudah dimatikan.
Shift Malam di Tangcity
Pak Darto sudah sembilan tahun mengepel lantai Tangcity setelah mall tutup — dan pada satu shift malam yang seharusnya biasa saja, sebuah dompet yang tertinggal di kursi tunggu membuatnya berhadapan dengan pilihan yang lebih berat dari pikirannya.
Konferensi Anti-Kemiskinan di Ritz
Pak Bhayu hadiri Konferensi Internasional Eradikasi Kemiskinan di Ritz Carlton Mega Kuningan. Coffee break: pastry impor dari Perancis. Tema panel: pemberdayaan ekonomi kelas bawah.
Influencer Tinggal Sebulan di Kostan
Mbak Astri, lifestyle influencer 380 ribu followers, pindah sebulan ke kostan Rp 1.8 juta di Tebet untuk konten. Mandi pakai gayung, masak mie. Dokumentasinya pakai kamera 28 juta.
CEO Startup Donasi Foto
Pak Reno, CEO startup edtech valuasi 80 juta dolar, donasi 20 paket beras ke yayasan dhuafa di Setiabudi. Fotografer profesional ikut. Caption sudah disiapkan.
Penjual Lapor Pajak
Bu Lis, pemilik warung sembako di Pasar Jatinegara, antri di kantor pajak KPP Pratama Jakarta Timur untuk SPT Tahunan. Nomor antrian 87. Dia datang pukul tujuh.
Tukang Solder HP di Roxy
Pak Iman buka kios solder HP di lantai dasar Roxy Mas, Blok B Nomor 47. Sehari rata-rata enam servis. Layar Samsung, baterai iPhone, IC charger Vivo.
Mahasiswa Tidur di Mushola
Bagas, semester tujuh teknik mesin, tidur di mushola fakultas dari pukul satu malam. Bantalnya tas ransel. Selimutnya sajadah. Sidang skripsi besok pagi pukul sembilan.
Kue Putu di Lampu Kuningan
Pak Sukirman dorong gerobak kue putu dari Kuningan Barat ke Mega Kuningan setiap sore. Peluit uap yang kecil, bunyinya kalah dengan klakson mobil pejabat.
Magang Naik MRT Lebak Bulus
Tia, anak magang semester enam, naik MRT dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas pukul setengah delapan. Earphone Sennheiser KW. Earphone-nya cuma satu telinga yang jalan.
Warung Bu Ratih Naik ke Layar
Bu Ratih sudah dua belas tahun membuka warung kelontong di gang sempit di Curug, sampai sebuah minimarket berpendingin dingin dibuka di ujung jalan dan pelanggannya satu per satu menghilang. Ketika seorang pemuda menawarkan memindahkan warungnya ke layar telepon, dia tidak percaya sepetak toko kecilnya bisa muat di sana.
Kebersihan TransJakarta Halte Karet
Bu Sri, petugas kebersihan TransJakarta halte Karet, mengepel lantai pukul enam pagi. Bus 1 ke Blok M sudah lewat empat kali. Penumpang masih lewat.
Sopir Bajaj Subuh Cikini
Pak Ramli, sopir bajaj merah di pangkalan stasiun Cikini, mulai narik pukul empat subuh. Setoran sehari Rp 120 ribu. Kopi tubruk di warung Bu Limah Rp 4.000.
Kurir Paket di Tengah Hujan
Rudi, kurir paket 29 tahun, punya satu antaran terakhir sebelum jam sepuluh malam — sebuah kotak kecil ke gang sempit di Tebet, di tengah hujan yang tidak mau berhenti. Dia tidak tahu paket itu berisi apa, dan tidak tahu siapa yang menunggunya di ujung gang.
Tukang Bakso Live TikTok
Bang Toha, tukang bakso gerobakan Setiabudi, mulai live TikTok sejak tiga bulan lalu. Followers 47 ribu. Anak sulungnya yang kuliah komunikasi marah.
Hansip Tidur Sambil Berdiri
Pak Wirta, hansip kompleks Cipinang Indah, ketahuan tidur sambil berdiri di pos jaga pukul setengah tiga subuh. Pencurinya bingung, hansipnya juga.
Hilang Sandal di Resepsi
Pak Marno datang ke pernikahan keponakannya di Cinere pakai sandal Swallow merek lokal. Pulang dengan sandal yang sama, tapi salah kaki — kanan-kanan.
Ojol Hafal Lagu Tata Janeeta
Mas Yono, ojol di Tanjung Duren, mendengarkan playlist Tata Janeeta sejak 2008. Penumpangnya pagi ini perempuan dua puluhan yang mulai ikut bernyanyi.
Pernikahan Salah Tanggal
Reza datang ke pernikahan teman kantornya di gedung Ragunan. Dia menyetel jas, beli amplop. Resepsinya minggu depan, bukan hari ini.
Tetangga Aerobik Subuh
Pukul setengah lima pagi di Pondok Bambu, Bu Endang menyalakan speaker Bluetooth-nya. Senam jantung sehat versi tahun 1998. Tetangga sebelah, RT melapor.
Kucing Mengamuk di Cafe Kemang
Pukul tiga sore di kafe pet-friendly Kemang Raya, seekor kucing oranye bernama Bakwan menumpahkan matcha latte Rp 65.000 ke laptop Macbook Pro M3.
Reuni Pernikahan Tetangga
Bu Sumi datang ke resepsi anaknya Pak Yanto di gedung serbaguna Kebayoran. Dia tidak menyangka mantan suaminya juga diundang. Dia salaman lebih lama tiga detik dari semestinya.
Cinta Pertama di SMA Negeri
Pak Heru, 58 tahun, antar anaknya ke SMAN 6 Pondok Indah. Di parkiran, dia melihat seorang ibu yang dia kenal dari 1985.
Kawin Beda Kelas
Riko mengantarkan Lintang ke rumah orang tuanya di Menteng. Pagar setinggi tiga meter. Riko membawa lamaran. Ayah Lintang menanyakan plat mobil.
Pacar Diam Setelah Lebaran
Selama Lebaran, Dimas dan Salsa beda kota. Pulang ke Jakarta, mereka ketemu di Indomaret Cengkareng. Salsa cuma bilang "hai." Lalu beli pulpen.
Pesan WA Yang Tidak Terkirim
Rara mengetik pesan untuk Galang sejak pukul sebelas malam. Tiga draf. Semua dihapus. Yang keempat dia kirim ke nomor yang sudah diblokir tujuh bulan lalu.
Pertemuan Kedua di Sarinah
Dimas dan Sherly bertemu kedua kalinya di Sarinah, enam bulan setelah pertemuan pertama di pesta kantor teman. Dimas datang lima belas menit lebih awal. Sherly datang tepat waktu.
Ibu Warung Nasi Manggarai
Ibu Siti sudah 22 tahun memasak di sudut Manggarai yang terus berubah — dan satu-satunya hal yang tidak berubah adalah jawaban yang belum pernah dia kirim ke putrinya.
Pacar Pindah ke Bali
Karin memberitahu Reza di kafe Cipete pukul tujuh malam: dia diterima kerja di Bali, mulai bulan depan. Reza menghabiskan kopinya. Dia tidak menanyakan apa-apa.
Tetangga Meninggal di Kostan
Pak Marwan, penjaga kos di Tanah Abang, mendobrak kamar nomor 12 pukul setengah sebelas pagi. Penghuninya, Pak Heri, sudah tiga hari tidak keluar kamar.
Anak Drop Out Kuliah
Bagas memberitahu ibunya lewat WA bahwa dia drop out semester lima. Dia mengetik selama empat jam. Pesan akhirnya: "Bu, aku DO. Maaf."
Mantan di Acara Kondangan
Reni datang ke kondangan teman kuliahnya di Cikini pukul setengah delapan malam. Di pintu masuk, dia bertemu mantannya — Faisal, lima tahun tidak ketemu.
Suami Pulang Tengah Malam
Sinta menunggu suaminya, Bayu, pulang dari kantor pukul satu pagi. Hari ke-12 berturut-turut. Dia tidak menanyakan apa-apa lagi.
Bapak Lupa Nama Saya
Pak Sumardi, 71 tahun, lupa nama anak kandungnya hari Selasa siang. Anaknya, Bowo, 42 tahun, datang menjenguk seperti biasa. Tapi Pak Sumardi memanggilnya "Mas".
Ibu Kena Stroke di Pintu Tol
Pukul tiga pagi, Anggi mendapat telepon. Ibunya pingsan di mobil di pintu tol Cikampek. Anggi menjemput dari Bekasi. Dia tidak tahu nama dokter yang akan dia tanyakan.
Adik Hilang Kontak Sebulan
Aldi, 22 tahun, tidak membalas WA kakaknya selama 31 hari. Story IG-nya tetap aktif. Lokasinya: tidak diketahui.
Anak Pulang Setelah Demo
Pak Hartono menunggu di teras kontrakan Salemba pukul setengah dua belas malam. Anaknya, Adit, belum pulang dari demo. WA terakhir: "Pak, aman."
Fotografer Jalanan Blok M
Mas Fajar, 34 tahun, mantan fotografer agensi periklanan, kini memotret jalanan Blok M setiap hari. Sore itu, majalah Jepang beli satu fotonya seharga Rp 2,5 juta — dan dia belum tahu harus cerita apa ke istrinya.
Reels Politik Capres
Sari, content creator 24 tahun, dibayar 5 juta untuk satu Reels endorsement capres. Dia menerima brief. Dia membuat video. Dia mematikan komentar setelah posting.
Pak RT Jadi Tim Sukses
Pak Solihin, RT 04 Tanah Tinggi, dipanggil rapat tim sukses caleg dapil tiga. Honor: dua juta sebulan. Dia menerima, lalu pulang dengan rasa tidak enak yang dia tidak ceritakan ke istrinya.
Reuni Pendukung di Mall
Komunitas Pendukung Pak Wibowo mengadakan reuni di food court Senayan City. 47 orang datang. Pak Wibowo, capres yang kalah dua tahun lalu, kirim video sambutan.
Mobil Komando Lewat Bintaro
Mobil komando lewat depan rumah Maya pukul sembilan pagi hari Minggu. Pengeras suara meneriakkan nama caleg yang Maya tidak kenal. Anak Maya baru tidur jam tujuh tadi.
Survei Lewat WhatsApp
Dimas, mahasiswa semester lima, dapat WA dari nomor tidak dikenal. Pesan blast: "Pilih siapa di pemilu mendatang?" dengan empat opsi tombol. Dia membalas. Hari itu juga, follower IG-nya naik 200.
Wawancara Caleg Muda
Niko, 26 tahun, caleg termuda dapil sembilan, diwawancara podcast politik di kafe Cilandak. Mic mengkilap. Kamera Sony A7. Niko menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang sudah dia hafalkan dua minggu.
Spanduk Wagub di Pasar Minggu
Spanduk Wakil Gubernur dipasang di atas kios buah Bang Edi di Pasar Minggu. Dipasang malam-malam, tanpa izin. Bang Edi tahu pagi-pagi waktu buka kios.
Reklame LED Capres di Sudirman
Pukul setengah delapan malam, Bagas terjebak macet di Sudirman. Di atas mobilnya, reklame LED 30 meter menyala. Wajah capres tersenyum, lalu wajah capres yang lain tersenyum.
Caleg Bertemu Karang Taruna
Bu Indriana, caleg nomor urut tiga, datang ke pertemuan Karang Taruna RW 05 Tebet. Dia membawa donat 50 boks. Anak-anak Karang Taruna lebih tertarik donat.
KPPS Subuh di Kebon Jeruk
Pak Hambari, ketua KPPS TPS 22 Kebon Jeruk, bangun pukul tiga subuh. Dia menyalakan kompor. Dia menyetrika kemejanya. Pemilu hari ini.
DPR Bagi Bingkisan Banjir
Pak Suryadi, anggota DPR, datang ke Kampung Melayu dua hari setelah banjir. Bawa 300 bingkisan. Wartawan datang. Air masih setinggi betis.
Halte Manggarai, Sore
Kami pacaran dua tahun di Manggarai. Sekarang dia tinggal di Bogor, saya di Bekasi, dan kami janjian tiap Jumat di peron yang sama.
Saksi TPS Bayaran
Yudi diberi amplop berisi 150 ribu untuk jadi saksi caleg di TPS 14 Cipayung. Dia datang pukul enam pagi. Dia pulang pukul sembilan malam dengan amplop yang sama, masih tertutup.
Demo BBM di Patung Kuda
Reza ikut demo BBM hari Selasa siang. Dia bawa air mineral, masker, dan satu spanduk yang ditulis tangan. Pukul empat sore dia dapat WA dari atasannya.
KRL Pertama Pulang Kampung
Pulang lebaran sendirian tahun ini. Tiket kereta jam empat pagi. Tas hijau berat. Tetangga kos belum bangun untuk pamit.
Janji Pavement RT 03
Pak Darmadi datang ke RT 03 Pegangsaan dengan janji satu: paving block. Tiga tahun kemudian, paving block belum ada. Pak Darmadi sudah jadi anggota dewan.
Tukang Pijat Tunanetra Depan Rumah Sakit
Pak Karim sudah dua puluh dua tahun pijat di trotoar depan RSCM. Pasiennya sebagian keluarga pasien rumah sakit yang menunggu.
Baliho Caleg di Pintu Air
Wajah Pak Hendarman, caleg dapil dua, menggantung di atas Pintu Air Manggarai. Banjir sudah surut tiga hari, balihonya masih basah.
Drama Tunggu Klinik Gigi
Antrian ke-empat di klinik gigi murah Cikini. Tiga orang sebelum saya, semua sakit gigi yang lebih parah dari saya.
Pom Bensin Karawaci, Pukul Sepuluh Malam
Hujan deras. Banjir di tol Tangerang. Saya terjebak di pom bensin Karawaci dengan dua orang asing yang juga tidak bisa pulang.
Kafe Anjing di Cipete
Empat anjing besar berkeliaran di kafe. Pelanggannya yang sama setiap minggu — semua tahu nama anjing satu sama lain lebih dari nama pelanggannya.
PT Janji Manis Sudirman
HR ngomong dalam bahasa Inggris yang kaku, sambil ngenalin saya ke 'family' yang baru ketemu hari itu. Onboarding di startup yang lebih besar dari yang dipikir.
Roti Bakar Pukul 11 Malam
Saya datang ke gerobak roti bakar Mas Iwan setiap malam selama enam bulan. Saya tidak tahu kapan saya jatuh cinta — mungkin di malam ke-empat puluh dua.
Anggota DPR Lewat Gang
Pak Hambali, anggota DPR kami, datang ke gang Tanjung Priok. Bagi-bagi sembako. Wartawan mengikuti. Anak-anak diberi instruksi tertawa.
Kedai Pak Wahid
Pak Wahid sudah lima puluh tahun seduh kopi dengan cara yang sama. Anaknya pulang dari Belanda untuk mengubah segalanya.
Sate Sabang, Pukul Sebelas Malam
Kami janjian di Sabang setiap Jumat malam selama tiga tahun. Sampai Jumat dia tidak datang, dan tidak pernah datang lagi.
Hari Pertama Sekolah Anak Pertama
Bu Sari mengantar anak pertamanya ke SD. Tujuh tahun sudah dia tunggu hari ini. Hari ini, justru, dia ingin waktu berhenti.
Pukul Tiga Pagi, Air Sudah Sampai Lutut
Ibu Surti pertama kali kenal Bu Erni saat banjir 2020. Sekarang mereka saling pinjam dapur tiap hari, banjir atau tidak.
Tukang Sayur Pikulan Kompleks
Pak Min sudah tiga puluh tahun memikul sayuran masuk kompleks Cilandak. Anaknya kuliah di Bandung. Anak itu tidak tahu bapaknya masih jualan.
Pelanggan Aplikasi Marah
Pak Yusuf, driver Grab 5 tahun, akhirnya bertemu pelanggan yang complain karena dia tidak punya keset masker di mobilnya.
Bulan Pertama di Tebet
Hari kesepuluh kos di Tebet, dia menyadari pintu kamarnya tidak bisa dikunci dari dalam dengan sempurna.
Pegawai Bank Pensiun
Pak Hardjono 65 tahun, pensiun setelah 38 tahun di bank. Hari pertama tanpa kantor, dia datang ke kantornya untuk minta cap kartu identitas. Tidak diizinkan.
Kafe yang Sudah Tutup Tahun Lalu
Mereka janjian di kafe Kemang yang sudah tutup setahun lalu. Dia tetap datang. Begitu juga si mantan.
Lantai Empat Belas, Pukul Tujuh Malam
Andi sudah dua minggu tidak ke kantor. Dia tetap berangkat setiap pagi, tetap pulang setiap malam, tetap menerima gaji.
Pukul Empat di Pasar Senen
Bu Mar sudah tiga puluh dua tahun jualan sayur di Pasar Senen. Pagi ini dia bertemu cucunya yang sudah lima tahun tidak pernah datang.
Reuni di Cafe Batavia
Sepuluh tahun setelah lulus SMA, mereka bertemu di Cafe Batavia. Yang berubah bukan hanya wajah.
Kilometer 47 Tol Cikampek
H-2 Lebaran, kami terjebak di kilometer 47 selama lima jam. Yang mengganggu bukan macetnya — anak saya bertanya tentang ayahnya.
Single-Origin di SCBD
Bayu membayar Rp 78.000 untuk kopi yang katanya 'notes blueberry'. Dia tidak bisa membedakan kopi itu dari kopi sachet jam tiga sore.