Caleg Bertemu Karang Taruna
7 Juni 2026 · 612 kata
Dito menerima telepon dari Pak RW hari Senin sore. “Dit, hari Sabtu ada Bu Indriana mau datang. Caleg dapil enam. Tolong atur pertemuan Karang Taruna ya. Dia mau diskusi soal program pemuda.”
Dito menutup telepon. Dia menatap HP-nya. Bu Indriana — dia pernah lihat balihonya di perempatan Tebet Barat. Foto setengah badan, blazer abu-abu, slogan: Pemuda Masa Kini, Pemimpin Hari Esok.
Dito mengetik di grup WA Karang Taruna RW 05: Bro sis, hari Sabtu jam 7 malam ada pertemuan di balai. Caleg mau ngobrol. Datang ya, nanti ada makanan.
Sembilan balasan dalam lima menit. Semua tanya: makanannya apa.
Hari Sabtu, pukul tujuh malam, balai RW 05 Tebet sudah terisi 18 orang Karang Taruna. Plus empat anak ABG yang tidak resmi anggota tapi ikut karena dengar ada makanan.
Bu Indriana datang pukul setengah delapan. Telat tiga puluh menit. Dia memohon maaf — macet di Casablanca. Dia bawa satu staffer dan satu sopir.
Donat 50 boks — J.CO, dari outlet Cipete — disusun di meja belakang. Setiap boks isi enam donat.
Dito mempersilakan Bu Indriana duduk di kursi depan. Dia menyalakan microphone bekas pengajian RW.
“Selamat malam Bu Indriana. Silakan.”
Bu Indriana berdiri. Dia berpidato 15 menit. Tentang “pentingnya pemuda dalam politik”, “platform digital untuk anak muda”, “program magang bersubsidi”, dan “akses ke kursus coding bagi Karang Taruna”.
Selama pidato, lima anak Karang Taruna sudah ke meja belakang dan mulai membuka boks donat.
Setelah pidato, sesi tanya jawab.
Dito bertanya dulu. “Bu Indriana, soal program magang bersubsidi, itu spesifiknya gimana? Apakah ada partner perusahaan yang sudah setuju?”
“Itu sedang kami matangkan, Mas Dito. Insya Allah setelah saya terpilih, partnership akan kami umumkan.”
Setelah saya terpilih. Dito mencatat di kepalanya: jawaban standar.
Anggota lain, Ridwan, mahasiswa Trisakti, bertanya. “Bu, kursus coding-nya pakai bahasa apa? Python? JavaScript?”
Bu Indriana terdiam dua detik. “Kursus coding, ya, tentu yang relevan dengan industri sekarang. Tim kami sudah survei kebutuhannya.”
“Bu, tapi kalau spesifiknya bahasa apa, belum tahu?”
“Itu akan kami diskusikan dengan ahlinya.”
Ridwan mengangguk pelan. Dia kembali ke donatnya.
Pukul setengah sembilan, sesi diakhiri. Bu Indriana foto bersama. Anak-anak Karang Taruna berpose dengan dua jari V di belakang Bu Indriana. Staffer Bu Indriana memotret pakai DSLR dan iPhone.
Bu Indriana pamit. Dia salaman dengan Dito di pintu.
“Mas Dito, semoga kita bisa kerja sama ke depan.”
“Iya Bu.”
“Saya kontak Mas Dito lewat WA ya, nomor Mas saya minta dari Pak RW.”
“Silakan, Bu.”
Bu Indriana masuk mobil. Mobilnya pergi.
Setelah Bu Indriana pergi, anak Karang Taruna duduk-duduk di balai. Donat masih sisa 30 boks. Ridwan mengomong, “Bro, kursus coding-nya kosong. Dia gak ngerti.”
“Yang penting donatnya enak.”
Tertawa.
Dito mengangguk. Dia mengambil satu donat — original, gula bubuk. Dia menggigit pelan.
Pukul sepuluh malam, balai sudah kosong. Donat sisa 18 boks dibagi-bagi untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Dito membawa pulang dua boks — satu untuk dia, satu untuk Pak RW besok.
Di rumah, Dito menaruh donat di kulkas. Dia membuka HP. Ada WA baru dari nomor yang belum disimpan:
Mas Dito, ini Indriana. Senang berkenalan tadi. Saya tunggu kerjasama kita ya.
Dito tidak membalas. Dia menutup HP. Dia masuk kamar.
Besok pagi, dia harus berangkat kerja ke kantor logistik di Kemayoran. Dia tidur.