Pak RT Jadi Tim Sukses
14 Juni 2026 · 596 kata
Pak Solihin pulang dari Tanah Tinggi pukul setengah sembilan malam. Dia membawa amplop putih di saku belakang. Isinya: lima lembar 100 ribu. Uang muka tim sukses Caleg Pak Iwan Wahyudi, partai tengah, nomor urut 6.
Total honor dijanjikan: dua juta sebulan, selama empat bulan, sampai pencoblosan.
Tugas Pak Solihin sederhana — sebagai ketua RT 04, dia diminta “mengkondisikan” warga. Bukan pemaksaan, kata tim Pak Iwan. Hanya sosialisasi. Bagi-bagi brosur. Kalau ada keluhan warga, sampaikan ke tim. Kalau ada acara warga, undang Pak Iwan kalau bisa.
Dua juta sebulan.
Istrinya, Bu Endang, masih nonton TV di ruang tamu. Sinetron Indosiar. Pak Solihin duduk di sofa di sampingnya.
“Pak, ada apa?”
“Gak ada apa-apa, Bu.”
“Bapak kelihatan capek.”
“Tadi rapat agak panjang.”
“Rapat apa?”
Pak Solihin terdiam dua detik. Lalu menjawab, “Rapat RT, Bu. Soal acara 17-an.”
Bu Endang mengangguk. Dia kembali ke TV-nya.
Pak Solihin masuk ke kamar. Dia menyimpan amplop di laci pakaian dalam, di tempat yang Bu Endang biasanya tidak buka.
Esok paginya, brosur Pak Iwan datang ke rumah Pak Solihin. Dua kardus. Total 500 brosur. Plus 200 stiker partai.
Pak Solihin menyimpan kardus di belakang rumah, di samping kandang ayam yang sudah tidak dipakai.
Dia membuka satu brosur. Wajah Pak Iwan. Senyum lebar. Slogan: Suara Wong Cilik.
Pak Iwan punya tiga rumah di Kelapa Gading. Pak Solihin tahu — dia sudah cek waktu wawancara penerimaan tim sukses minggu lalu, di rumah Pak Iwan yang besar di Pondok Indah.
“Suara wong cilik.”
Pak Solihin menutup brosur itu. Dia memasukkannya kembali ke kardus.
Hari itu juga, dia mengumpulkan tetangga terdekat — lima orang — untuk minum kopi di teras rumahnya. Dia memberi brosur Pak Iwan ke masing-masing.
“Pak Solihin, ini ada apa?”
“Pak Iwan caleg dapil kita, Pak Hadi. Kalau berkenan, baca dulu.”
Pak Hadi membaca brosur. “Pak Iwan ini siapa?”
“Caleg, Pak. Dari partai… saya juga lupa partai apa. Lihat di brosur.”
Pak Hadi melihat. “Oh. Partai tengah.”
Mereka minum kopi. Tidak ada yang menyatakan dukungan. Tidak ada yang menolak. Mereka hanya menerima brosur, melipatnya, menyimpannya di saku.
Pak Solihin tahu artinya: mereka akan membuangnya di rumah.
Tiga hari kemudian, koordinator tim sukses datang. Mas Reza, 25 tahun, asisten Pak Iwan.
“Pak Solihin, gimana progresnya?”
“Sudah saya bagikan 50 brosur, Mas. Kalau respon… ya, biasa-biasa saja.”
“Maksudnya?”
“Warga terima brosur. Tapi belum ada yang nyatakan dukungan terbuka.”
Mas Reza mengangguk. “Pak Solihin, target kita bukan dukungan eksplisit. Target kita name recognition. Sebanyak mungkin warga kenal nama Pak Iwan. Itu cukup.”
“Iya, Mas.”
Mas Reza memberi amplop lagi. Tiga lembar 100 ribu. “Ini tambahan untuk operasional minggu ini. Cetak ulang brosur kalau perlu, atau biaya makan-makan kecil dengan warga.”
Pak Solihin menerima. “Terima kasih, Mas.”
Bulan berlalu. Pak Solihin total menerima empat amplop. Total 1,1 juta. Sudah dia gunakan: 300 ribu untuk gas dan beras, 500 ribu disimpan, 300 ribu untuk dibagi-bagi ke tetangga sebagai kopi-kopi kecil.
Bu Endang, pada akhir bulan, bertanya, “Pak, bulan ini agak longgar ya?”
“Iya, Bu. Saya dapat order ngecat pagar rumah Pak Hartanto kemarin.”
Bu Endang mengangguk. Tidak bertanya lebih.
Pak Solihin masuk kamar mandi. Dia mencuci mukanya lama. Cermin di kamar mandi sudah retak di pojok, dia belum mengganti sejak tahun lalu.