Reuni Pendukung di Mall
13 Juni 2026 · 590 kata
Hendra masuk Senayan City lewat pintu utara pukul setengah enam sore. Hari Sabtu. Mall ramai keluarga, anak-anak masuk ke playground di lantai tiga, antrian di Auntie Anne’s.
Dia naik eskalator ke food court. Sudut paling jauh, di samping kios sate Padang, sudah disusun delapan meja panjang. Banner kecil: Reuni Komunitas Pendukung Pak Wibowo 2024.
Pak Wibowo. Capres yang kalah dua tahun lalu di pencoblosan kedua. Selisih 1,3 persen dari pemenang.
Hendra ingat malam itu. Dia menangis di mobil, sendirian, di parkiran Plaza Senayan.
Sekarang 47 orang berdatangan. Sebagian besar Hendra tidak kenal langsung — hanya nama-nama dari grup WhatsApp komunitas yang dia ikuti sejak 2023. Sebagian sudah tidak aktif di grup, tapi datang.
Mbak Lia berdiri di depan meja, mengatur registrasi. Dia 33 tahun, masih dengan rambut diikat seperti dulu, sekarang pakai blazer biru tua.
“Hendra!”
“Mbak Lia.”
Mereka berpelukan singkat. Mbak Lia tersenyum. “Lama banget gak ketemu. Kerjaan gimana?”
“Lancar. Tetap di Tangerang.”
“Anak udah berapa?”
“Satu, tiga tahun.”
Mbak Lia mengangguk. “Saya juga satu. Sekarang dua tahun.”
Mereka berdua tertawa kecil. Lalu Mbak Lia menyerahkan name tag Hendra. Hendra Kusuma - Koordinator Bekasi 2024.
Hendra menempelkan name tag di kemeja. Dia jalan ke meja kopi-teh. Dia mengambil teh tawar. Dia duduk di kursi paling pojok.
Pukul tujuh, acara dimulai. MC — anggota komunitas yang Hendra tidak kenal namanya — membuka dengan pidato singkat. Lalu video sambutan Pak Wibowo diputar di layar TV yang dipinjam dari food court.
Pak Wibowo dalam video terlihat lebih tua. Rambut sudah memutih lebih banyak. Background-nya rumah pribadinya di Cibubur — kursi kayu, lukisan abstrak di belakang, satu pas bunga.
“Saudara-saudara seperjuangan saya,” Pak Wibowo memulai, “Saya tahu hasil dua tahun lalu mengecewakan. Tapi perjuangan kita tidak berhenti. Saya tetap di sini, dan saya menyiapkan diri untuk 2029.”
Video tiga menit. Berakhir dengan ajakan: tetap solid, tetap konsolidasi.
Setelah video selesai, tepuk tangan. Hendra ikut tepuk tangan, walau tipis.
Makan malam: nasi padang, sate, es teh manis. Catering dari komunitas, dibayar patungan 75 ribu per orang.
Hendra duduk dengan Mbak Lia dan dua orang lain — Pak Surya dari Bogor, dan Mbak Aisyah dari Tangsel.
“Hendra, lo masih percaya Pak Wibowo bisa menang 2029?”
Hendra menatap nasi padang di piringnya. Rendang, sambal hijau, telur dadar.
“Saya gak tahu, Pak. Tapi saya datang ke sini hari ini bukan untuk Pak Wibowo.”
Pak Surya mengangkat alis. “Untuk apa, Hen?”
“Untuk teman-teman seperjuangan dua tahun lalu.”
Mbak Lia menatap Hendra. Mereka bertukar pandang. Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Pukul sepuluh malam, acara bubar. Foto bersama. 47 orang berbaris di depan banner, beberapa membuat dua jari V, beberapa hanya tersenyum.
Hendra berfoto. Lalu dia berjalan ke pintu keluar.
Mbak Lia mengejarnya di pintu food court.
“Hen, mau ke parkiran mana?”
“Basement 2.”
“Aku basement 1. Bareng sampai eskalator?”
“Oke.”
Mereka turun eskalator pelan-pelan. Tidak banyak bicara. Di basement 1, Mbak Lia berhenti.
“Hen, jaga diri ya.”
“Mbak Lia juga.”
Mbak Lia berjalan ke arah mobilnya. Hendra terus turun ke basement 2.
Di mobilnya — Avanza 2018, putih, sticker komunitas masih ada di kaca belakang — dia duduk lima menit sebelum menyalakan mesin.
Lalu dia pulang ke Tangerang.