Kasir BSD Jadi TikTok Malam
14 Agustus 2026 · 512 kata
Revan bekerja kasir di minimarket Icon+ dekat perempatan BSD Green Office Park. Shift-nya pagi: masuk jam tujuh, pulang jam tiga sore. Seragamnya biru dongker, ada logo toko di dada kiri, dan namanya dicetak di name tag kecil berbahan plastik yang kaitannya sudah longgar.
Malamnya, dia TikToker.
Bukan yang jutaan follower. 47 ribu. Kontennya sederhana: duduk di depan ring light kecil yang dia taruh di meja kamar kos di Cluster Nusa Loka, main gitar, cover lagu-lagu indie lokal. Hindia. Pamungkas. Kadang Feby Putri kalau suaranya lagi bagus. Komentar-komentarnya penuh “kakakk suaranya…” dan “lagu ini selalu nangis deh.”
Dia tidak pernah bilang ke siapapun di toko soal akun itu.
Bukan karena malu. Lebih ke — males ribet. Kalau tahu, pasti ada yang minta difollow, ada yang minta dinyanyiin lagu ulang tahun, ada yang mulai manggil dia dengan username-nya padahal nama aslinya ada di name tag.
Pagi itu, Kamis, antrian lumayan panjang. Revan menghitung belanjaan seorang ibu dengan dua anak kecil. Tiga kotak susu UHT, satu shampo, dua bungkus mi cup. Total 87 ribu.
Di belakang ibu itu, seorang cewek — kira-kira seumuran Revan, rambut diikat, bawa tumbler Stanley hijau — menunduk ke HP. Pas giliran dia maju, dia naruh satu botol Pocari dan satu Milo kotak di conveyor.
“Dua puluh sembilan ribu.”
Cewek itu mengangkat muka. Sebentar diam.
“Eh.”
Revan menunggu.
“Lo yang kemarin live nyanyiin ‘Secukupnya’ itu, kan? Yang versi akustik pake gitar senar nilon?”
Revan menghela napas pelan. “Iya.”
“Gila, gw langsung muter ulang tiga kali. Suaranya—” dia berhenti. “Sorry, lo lagi kerja ya.”
“Gak apa-apa.”
“Gw follow lo dari bulan lalu. Gak nyangka ketemunya di sini.”
Di belakang cewek itu ada bapak-bapak dengan keranjang penuh minuman isotonik. Revan melirik antrian.
“Makasih ya. Dua puluh sembilan ribu.”
Cewek itu tertawa pendek — sadar. “Iya, iya.” Dia tap QRIS. Mesin bunyi. Struk keluar.
Sebelum pergi, dia bilang satu hal lagi: “Lo harusnya upload lebih sering.”
Revan merobek struk, menyerahkannya. “Lagi nabung buat mic yang lebih bagus.”
“Ah, fair enough.”
Dia pergi. Bapak isotonik maju.
Sore itu, pas Revan ganti seragam di ruang belakang sebelum pulang, dia buka HP. Notifikasi TikTok: 23 follower baru hari ini. Dia tidak tahu yang mana cewek tadi.
Dia pulang naik motor lewat Jalan Pahlawan Seribu, angin BSD sore yang biasanya panas tapi hari itu lumayan. Di kamar, dia lepas name tag, taruh di meja sebelah ring light.
Dia tidak langsung bikin konten. Dia tiduran dulu. Setengah jam.
Jam delapan malam, dia nyalakan ring light, ambil gitar, cek tuning. Mic-nya masih yang lama — suara sedikit tipis kalau frekuensi tinggi. Tapi cukup.
Dia mulai main. Tidak live. Cuma latihan.