Bapak HP Baru Minta Setup
22 Agustus 2026 · 521 kata
Pak Hendra pulang dari Tangcity jam setengah tiga sore. Dia membawa kantong plastik iBox berwarna putih, ukuran sedang, dan senyum yang biasanya hanya muncul kalau Persija menang.
“Reza! Sini bentar.”
Reza, 24 tahun, sedang rebahan di kamar. Dia tahu dari nada itu. Nada yang sama waktu Pak Hendra beli Smart TV tiga tahun lalu dan tidak tahu cara sambungkan ke WiFi.
Di meja makan, Pak Hendra membuka plastik dengan hati-hati. Samsung Galaxy A56. Warna hitam. Masih dibungkus plastik bening dari pabrik.
“Setup-in ya,” kata Pak Hendra. Bukan permintaan. Bukan tolong. Hanya kalimat seperti minta tolong ambilkan remote.
“Bapak mau aplikasi apa aja?”
“Yang biasa. WhatsApp, YouTube. Sama itu — aplikasi bank.”
“Bank yang mana?”
“BRI sama Mandiri.”
“Dua-duanya?”
“Ya dua-duanya. Emang kenapa?”
Reza tidak menjawab. Dia mulai buka plastik, nyalakan HP, setup akun Google. Pak Hendra duduk di sebelahnya, menatap layar dengan ekspresi orang menonton mekanik servis motor — hadir, tapi tidak benar-benar mengikuti.
“Bapak harus ingat password Gmail-nya ya.”
“Emang harus bikin baru?”
“Iya.”
“Pakai nama Bapak aja.”
“Nama Bapak sudah kepake orang lain pasti. Harus dikombinasi.”
Pak Hendra berpikir. “Hendra1965?”
“Jangan pakai tahun lahir, Pak. Gampang ditebak.”
“Lah, siapa yang mau nebak HP Bapak?”
Reza mengetik. Dia pilihkan password sendiri, tulis di notes HP-nya dengan judul “Password Bapak — JANGAN DIHAPUS.”
WhatsApp selesai. YouTube selesai. Aplikasi BRI butuh verifikasi KTP dan selfie.
“Pak, ada KTP?”
“Di dompet. Ambil sendiri, di saku baju yang di belakang pintu kamar.”
Reza mengambil. Dia foto KTP, foto wajah Pak Hendra — yang saat itu sedang nguap — foto ulang, berhasil. Akun BRI aktif.
Aplikasi Mandiri minta nomor rekening, PIN ATM, dan nomor HP yang terdaftar.
“Pak, nomor HP Bapak yang lama masih aktif?”
“Yang mana? Yang Simpati apa yang IM3?”
“Yang didaftarkan ke Mandiri.”
“Gak tau. Coba aja keduanya.”
HP lama Pak Hendra — Nokia jadul yang dia pakai untuk telepon dan SMS — ada di atas lemari. Reza mengambil, mengecek, menemukan nomor Simpati yang ternyata masih aktif dengan kuota nol.
Jam empat kurang sepuluh, semua aplikasi sudah terpasang. Reza menyerahkan HP.
“Nah, ini. Udah beres.”
Pak Hendra menerima, menekan-nekan layar. Dia membuka WhatsApp, foto profil belum ada.
“Foto profil belum dipasang.”
“Bapak pasang sendiri.”
“Caranya?”
Reza menarik napas. Panjang.
Dia mengambil kembali HP itu, memasangkan foto profil dari galeri — foto Pak Hendra di kondangan sepupu tahun lalu, baju batik cokelat, senyum separuh. Pas.
“Nih.”
Pak Hendra menatap foto profil sendiri. Dia mengangguk puas. “Bagus. Terima kasih ya, Za.”
Reza sudah berdiri mau balik ke kamar.
“Za — nanti malam, ajarkan Bapak cara video call juga ya.”
Reza berjalan ke kamarnya tanpa menjawab. Di balik pintu, dia membanting bantal sekali — pelan, supaya tidak kedengeran.