← Kembali

Komedi · Serpong · 3 menit

Baju Putih Upacara Anak Kos

Reza baru ingat ada upacara 17 Agustus pukul sebelas malam pada tanggal 16.

Bukan karena lupa. Dia tahu. Dia bahkan sudah bilang ke grup angkatan: sip, besok gw hadir. Masalahnya adalah baju putih satu-satunya — kemeja Oxford tipis yang dia beli di Matahari BSD dua tahun lalu — masih tergantung di kamar mandi kos sejak hari Kamis. Basah. Tidak benar-benar dicuci, hanya disiram air karena ada noda kopi. Lalu dia lupa.

Kamar kos Reza di gang belakang Jelupang, Serpong — 900 ribu sebulan, kipas angin, kamar mandi di dalam, tidak ada setrika. Tidak pernah ada setrika. Reza selalu berpikir nanti-nanti beli, dan nanti itu belum pernah datang selama tujuh semester.

Dia angkat baju dari gantungan. Lembab. Ada bau khas — bukan busuk, tapi mendekati. Dia cium sekali lagi untuk memastikan. Ya, mendekati.

WhatsApp grup angkatan berbunyi.

Btw yang jemur baju jangan lupa setrika, besok upacara jam 7.

Reza menatap kemejanya.

Dia ketuk kamar sebelah. Adi, anak Teknik, tiga bulan lebih lama di kos yang sama. Pintu dibuka. Adi pakai kacamata dan muka mengantuk.

“Di, lo punya setrika?”

Adi menggeleng. “Gw laundry semua. Emang lo kenapa?”

“Baju putih gw basah.”

Adi menatap Reza sebentar. “Udah jam sebelas, Za.”

“Gw tahu.”

“Ibu kos punya setrika tapi dia matiin lampu jam sepuluh.”

Reza kembali ke kamarnya. Dia buka Tokopedia — setrika uap tersedia, pengiriman besok sore. Tidak berguna. Dia buka GoSend — tidak ada toko buka yang jual setrika. Dia buka grup kos lain di WhatsApp yang dia masuk karena dulu ada yang jual kulkas bekas.

Halo, ada yang punya setrika bisa pinjam sebentar? Urgent.

Tidak ada yang balas. Semua orang tidur atau tidak peduli.

Pukul sebelas lebih dua puluh, Reza mengambil keputusan. Dia hampirkan kemeja ke kipas angin. Kecepatan maksimum. Dia duduklah di kasur sambil scroll Twitter — sekarang X, tapi semua orang masih bilang Twitter — dan menunggu.

Pukul dua belas lebih sepuluh, kemeja sudah tidak lembab. Masih ada lipatan aneh di bagian bahu kiri dan lengan kanan terlihat seperti kain bekas dibuntel. Reza coba pakai. Dia lihat di kamera HP depan.

Lumayan. Kalau dia berdiri tegak dan tidak terlalu bergerak.


Keesokan paginya Reza tiba di lapangan upacara kelurahan Jelupang pukul 06.55. Langit agak mendung. Ada ibu-ibu PKK sudah berbaris rapi. Ada bapak RW pakai jas. Ada anak SD dengan topi merah.

Reza berdiri di barisan paling belakang.

Teman satu angkatannya, Dina, datang di sebelah kirinya. Dia lihat kemeja Reza.

“Lo kenapa bajunya kaya habis tidur di dalemnya?”

“Soalnya hampir,” kata Reza.

Upacara dimulai. Bendera naik. Reza berdiri tegak. Lengan kemeja masih sedikit kusut di bagian lipatan siku, tapi tidak ada yang benar-benar melihat ke sana. Semua orang menatap ke atas.


— Serpong, 18 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →