← Kembali

Drama · Tangerang · 3 menit

Koran Terakhir di Karawaci

Pak Darsono tiba di pertigaan Karawaci pukul setengah lima pagi. Seperti biasa.

Gerobak kecilnya — besi las sendiri, cat biru sudah pudar — diparkirkan di sudut antara warung kopi Pak Min dan tiang listrik yang kabelnya sudah diganti tiga kali sejak Pak Darsono mulai berjualan di sini. Tahun 1996. Tiga puluh tahun.

Dia mengikat tali plastik merah ke tiang, menggantung koran-koran pagi. Kompas. Republika. Tangerang Ekspres. Dua majalah mingguan yang sudah hampir tidak ada yang pesan.

Pukul lima lebih sedikit, motor-motor mulai lewat. Dulu — dulu sekali — beberapa di antaranya melambat, melempar uang, mengambil koran tanpa turun. Sekarang mereka lewat saja. Mata ke jalan, tangan ke setang, telinga ke earphone.


Pelanggan pertama datang pukul setengah enam. Pak Harto, pensiunan Telkom, tinggal di perumahan Lippo Karawaci blok C. Dia selalu beli Kompas dan satu Republika.

“Gimana kabar, Dar?”

“Sehat, Pak. Alhamdulillah.”

Pak Harto menyerahkan uang pas. Sudah hafal harga. Dia menyelipkan dua koran di bawah lengannya dan berjalan kembali ke arah perumahannya tanpa banyak bicara. Dulu mereka ngobrol sepuluh menit. Sekarang Pak Harto juga sudah punya tablet. Pak Darsono pernah melihatnya baca berita di tablet waktu menunggu di klinik Hermina.

Pelanggan kedua tidak datang.


Pukul delapan, Pak Darsono duduk di kursi lipat kecilnya. Di depannya masih ada dua belas eksemplar Kompas, tujuh Republika, empat Tangerang Ekspres. Dulu jam segini hampir habis.

Dia membuka Tangerang Ekspres miliknya sendiri — satu eksemplar yang selalu dia sisihkan, tidak untuk dijual. Dia membaca halaman dua. Berita pembangunan flyover Cikokol yang sudah diundur tiga kali. Berita honor perangkat desa naik. Berita banjir di Periuk yang fotonya buram.

Berita-berita ini pasti sudah tersebar di HP orang-orang sejak semalam.


Pukul sepuluh, seorang perempuan muda berhenti. Helm masih di kepala, motor masih menyala.

“Mas, koran?”

Pak Darsono berdiri. “Ada, Mbak. Kompas, Republika—”

“Yang ada TTS-nya ada?”

Pak Darsono menunjuk Kompas. “Ini biasanya ada di halaman belakang.”

Perempuan itu mengambil satu. Membayar. Pergi.

Pak Darsono tidak tahu untuk siapa koran itu — mungkin untuk orang tua si perempuan, mungkin memang dia sendiri yang suka TTS. Tidak penting.


Pukul sebelas, Pak Darsono mulai menghitung. Terjual tujuh eksemplar hari ini. Dulu tujuh puluh.

Dia melipat koran-koran yang tersisa, mengikat dengan tali plastik, memasukkan ke gerobak. Besok dikembalikan ke agen di Cikokol, dapat potongan. Ini sudah rutinitas.

Dia mendorong gerobak ke arah rumahnya di gang kecil belakang Pasar Karawaci. Kaki kirinya agak pegel — lutut lama.

Di depan warung Pak Min, dia berhenti sebentar. Memesan kopi hitam. Duduk.

Kopi datang. Dia meminumnya pelan.

Tidak ada yang perlu dipikirkan lebih jauh. Besok pagi dia akan datang lagi. Setengah lima. Seperti biasa.


— Tangerang, 5 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →