← Kembali

Drama · Tangerang · 3 menit

Tangerang Sudah Jadi Rumah

Rendi menyeduh kopi sendiri. Kadar gula dia tahu persis: dua sendok makan merek Kapal Api, satu sendok gula pasir, air panas dari dispenser yang sudah dia beli dua tahun lalu di Transmart Ciledug. Ritual itu tidak butuh pikiran. Tangannya bergerak sendiri.

Di luar gang sempit Perumnas Ciledug, Minggu pagi sudah ribut — motor lewat, anak tetangga main di depan pagar, dan suara Pak Hendra di sebelah yang entah kenapa selalu pasang dangdut koplo jam tujuh. Rendi sudah hafal semua itu. Dia tidak lagi terganggu.

Ibunya menelepon tadi malam. Suaranya ramah tapi langsung ke inti: “Kapan pulang, Ren? Lebaran haji bulan depan. Sepupu-sepupu kamu pada pulang semua.”

Rendi bilang mungkin. Dia tahu “mungkin” ibunya sudah hapal artinya.


Tiga belas tahun dia di Tangerang. Pertama datang usia dua puluh satu, dari Lampung, dengan satu koper Polo kecil dan alamat saudara jauh di Karang Tengah. Dua bulan pertama dia makan nasi warteg Rp 9.000 dua kali sehari. Kerja di pabrik garmen Batu Ceper shift malam, naik angkot 01 yang selalu miring.

Sekarang dia kerja di pabrik yang sama tapi sebagai supervisor. Motornya Honda Beat 2021 warna putih. KTP-nya sudah ganti ke Tangerang sejak 2018. Anak kos yang dulu sebanjak tidur di kasur lantai sekarang sudah jadi pemilik kontrakan dua pintu di Poris.

Tapi bukan itu yang membuat dia tidak bisa bayangkan pergi.

Yang membuat dia tidak bisa pergi adalah: dia tahu di mana beli sayur yang tidak pernah basi (warung Bu Asih, masuk gang ketiga dari gerbang Perumnas), dia tahu tambal ban mana yang jujur soal harga (Pak Toha, depan mushola, tidak pernah lebih dari 15 ribu), dan dia tahu persis suara motor tetangga yang artinya dia baru berangkat kerja dan Rendi bisa mandi tanpa antre air.

Semua pengetahuan itu dikumpulkan bertahun-tahun. Tidak bisa dikemas pulang.


Sore harinya dia jalan ke Pasar Lama Tangerang. Bukan karena perlu beli sesuatu. Dia kadang melakukan itu — jalan tanpa tujuan di antara lapak mangga, tukang kue, dan tumpukan bawang — dan merasa sesuatu yang tidak ada nama bakunya. Bukan bahagia. Bukan juga damai. Lebih seperti: pas.

Di ujung pasar ada tukang es tebu yang dia ingat sudah ada sejak 2015. Gelas plastik, es batu kasar, mesin peras tebu yang suaranya seperti gigi rusak. Rendi beli satu. Dua ribu lima ratus. Sama seperti dulu, kecuali harganya sekarang 8.000.

Dia duduk di bangku plastik sambil pegang gelas itu.

Di Lampung ada hal-hal yang dia rindukan — keluarga, udara, makanan ibu yang tidak bisa ditiru warteg mana pun. Tapi rindu itu terasa seperti rindu ke film lama: nyata, tapi dari jauh.

Di sini ada jalan yang dia hafal dengan mata tertutup.

Dia pulang ke kontrakan sebelum maghrib, seperti biasa.


— Tangerang, 31 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →