← Kembali

Drama · Ciledug · 3 menit

Cucu yang Tidak Dikenal

Mbah Siti menyeduh teh pukul enam pagi seperti biasa. Air mendidih di panci aluminium kecil, gula batu dua butir, daun teh Gunung Mas yang dibeli per ons di warung pojok gang. Ritual itu sudah tiga puluh tahun sama.

Raka turun dari kamar pukul setengah delapan. Dia tidak duduk di meja makan. Dia berdiri di depan kulkas, membuka tutupnya, menatap isinya, lalu menutupnya kembali tanpa mengambil apa-apa.

“Raka, sarapan,” kata Mbah Siti.

“Nggak laper, Mbah.”

Dia sudah megang HP. Jari kirinya menggeser layar dari bawah ke atas. Cepat sekali, seperti orang yang mencari sesuatu tapi tidak tahu apa.

Mbah Siti melihat dari sudut mata. Raka pakai kaos warna abu-abu yang ada tulisannya — Mbah Siti tidak bisa baca, hurufnya terlalu kecil dan berbahasa Inggris. Rambutnya agak panjang sekarang, sedikit ikal di ujung, dan ada anting kecil di telinga kiri. Anting itu baru. Tiga bulan lalu belum ada.

Mbah Siti tidak bilang apa-apa soal anting itu.


Siang hari, Raka keluar. Kata ibunya — anak Mbah Siti yang perempuan, Yanti — Raka pergi ke Ciledug Town Square. Ketemu teman. Mau syuting konten katanya.

“Konten apa?” tanya Mbah Siti.

“Ya konten, Bu. Buat Instagram. Reels.”

Mbah Siti mengangguk seolah mengerti.

Dia tidak mengerti.


Dulu Raka kecil sering duduk di sini, di teras yang lebarnya cuma dua langkah ini, mendengarkan Mbah Siti cerita tentang pasar Ciledug lama — waktu masih ada tukang es puter yang bawa gerobak kayu, waktu jalan di depan masih tanah merah, waktu banjir bisa sampai dengkul. Raka menyimak sambil makan roti bakar coklat-keju beli dari gerobak depan gang.

Itu Raka yang Mbah Siti kenal.

Raka yang sekarang: berbicara dengan nada yang berbeda kalau sedang di depan kamera HP-nya. Lebih keras sedikit. Ada aksen yang bukan dari mana-mana. Tertawa untuk hal-hal yang tidak Mbah Siti pahami lucu-nya.


Sore itu, Raka pulang bawa minuman bubble dari gerai di Ciledug Town Square. Dia beli satu untuk dirinya, satu untuk ibunya.

Tidak untuk Mbah Siti.

Bukan karena lupa dengan sengaja. Raka memang tidak tahu Mbah Siti mau atau tidak. Tidak pernah terpikir untuk tanya.

Mbah Siti melihat dua gelas plastik itu di meja. Dia tidak berkomentar. Dia masuk ke dapur, mencuci piring siang yang belum selesai.

Di balik suara air keran, dia bisa dengar Raka tertawa di kamar. Suaranya sampai ke bawah. Keras, lepas — tawa untuk penonton yang tidak kelihatan.

Mbah Siti mengusap piring itu sampai kering betul.


— Ciledug, 23 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →