Hari Terakhir Angkot 03
25 Agustus 2026 · 521 kata
Pak Hendra menarik angkot-nya ke pinggir persis di depan Alfamart Karawaci Junction pukul satu empat puluh siang. Bukan karena ada penumpang. Penumpang terakhir — ibu-ibu bawa kantong belanjaan dari Pasar Anyar — sudah turun di depan ruko ban lima belas menit lalu.
Dia berhenti karena tidak tahu harus ke mana lagi.
Angkot 03 trayek Karawaci–Cimone resmi ditarik hari ini. Surat dari dinas sudah datang sejak tiga minggu lalu. Dia yang pertama baca, dia juga yang pertama melipatnya dan memasukkan ke laci dasbor, di bawah buku KIR dan permen Kopiko yang sudah mengeras.
Tiga puluh tahun dia jalankan rute ini. Sejak Pak Hendra masih dipanggil Hendra saja, belum ada “Pak”-nya.
Dia matikan mesin. Duduk. Dari kaca depan, dia lihat trotoar Karawaci yang tidak pernah selesai diperbaiki — ada yang keramiknya terangkat, ada yang berlubang, ada yang ditumbuhi rumput tipis di celah-celah semennya. Sebuah spanduk iklan properti di atas ruko — “Hunian Modern 200 Jutaan, DP 0%” — berkibar sebelah karena talinya putus satu.
Hendra mengenal tiap jengkal jalan ini. Tikungan sebelum Jembatan Irigasi yang harus diambil agak kanan karena aspalnya miring. Polisi tidur di depan SMP Negeri 18 yang tidak ada tandanya. Lubang kecil di depan bengkel Pak Ujang yang kalau kena dengan ban kiri selalu bunyi klong — dia sudah tahu kapan harus angkat sedikit setirnya.
Tidak ada yang akan mengajari sopir pengganti soal itu sekarang. Karena tidak akan ada sopir pengganti.
Setengah dua, ponselnya bergetar. Istri: Udah pulang?
Dia ketik: Bentar.
Lalu dia taruh HP di atas dasbor.
Dari arah Cimone, sebuah angkot 03 lain lewat — milik Pak Darto, teman sekoperasi. Mereka saling angkat tangan. Pak Darto tidak berhenti.
Hendra membuka pintu angkot, turun ke trotoar yang berlubang itu. Dia berdiri di samping kendaraan yang sudah dia kendarai lebih lama dari usia pernikahan pertamanya. Cat hijau-kuning di body-nya sudah pudar, ada tambalan dempul di pintu belakang kanan yang tidak pernah dia sempurnakan warnanya.
Dia tidak foto. Tidak ada yang akan dia kirim ke siapa-siapa.
Pukul dua lewat sepuluh, Hendra naik lagi. Nyalakan mesin. Putar balik di depan Alfamart — manuver yang sudah dia lakukan ribuan kali — dan mulai jalan ke arah pool koperasi di Cimone.
Bukan ke Pasar Anyar. Bukan ke terminal. Ke pool. Buat kali terakhir.
Di perempatan lampu merah Karawaci, ada seorang bapak-bapak yang acungkan tangan. Insting Hendra sudah hampir menginjak rem — tapi dia ingat. Dia lurus saja.
Lampu berganti hijau. Angkot 03 melanjutkan jalan.