Mantan di Acara Kondangan
21 Juni 2026 · 584 kata
Reni datang ke gedung serbaguna Cikini pukul setengah delapan malam. Sendirian. Pakai gaun hijau zaitun, sepatu pantofel hitam. Lipstik nude. Tas kecil dipinjam dari Mbak Linda di kantor.
Hari ini kondangan Vita — teman kuliahnya di sastra UI dulu, sekarang dosen di kampus swasta. Vita menikah dengan dokter spesialis kulit. Undangan diberi 30 hari lalu.
Reni hampir tidak datang. Tapi Vita teman dekat, ada satu kali dulu di semester enam Vita yang mengantar dia ke UGD karena demam berdarah. Jadi Reni harus datang.
Di pintu masuk gedung, antrian buku tamu. Reni berdiri di belakang dua tamu yang Reni tidak kenal. Dia membuka tas, mengambil amplop putih. Isinya: tiga ratus ribu. Lebih dari standar undangan, karena ini Vita.
Antrian maju.
Reni menulis nama di buku tamu — Reni Kartika. Lalu nama suami dikosongkan. Reni belum menikah. 32 tahun, masih single, alasan klasik yang tidak perlu dijelaskan ke siapa-siapa.
Dia menyerahkan amplop ke kotak souvenir. Petugas memberinya souvenir: satu botol kecil minyak telon, dengan label nama Vita dan suaminya.
Reni menyimpan souvenir di tasnya. Dia berbalik untuk ke ruang utama.
Lalu dia melihat Faisal.
Faisal berdiri di samping pintu masuk ruang utama. Pakai jas hitam tanpa dasi. Rambut sudah lebih pendek dari yang Reni ingat. Sedikit lebih kurus.
Dia juga melihat Reni. Mereka bertemu mata.
Lima detik. Faisal tersenyum dulu.
“Ren.”
“Fais.”
Mereka berjalan ke arah satu sama lain. Salaman. Tangan Faisal hangat. Cincin emas di jari manis kanannya — Reni melihat dengan jelas.
“Apa kabar, Ren?”
“Baik. Lo?”
“Baik. Vita teman lo kan?”
“Iya. Lo?”
“Suaminya, dr. Reza. Kakak kelas SMA gw.”
“Oh.”
Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Lima detik silence yang awkward. Lalu Faisal, “Yuk masuk ke dalam? Acara mau mulai.”
“Yuk.”
Mereka jalan ke ruang utama bersama. Lalu Faisal belok ke meja keluarga pria. Reni terus ke meja tamu undangan.
Reni duduk di meja nomor 14. Bersama empat teman kuliah dulu — Lila, Diana, Kanya, dan Putri. Mereka langsung bertanya soal kabar Reni. Reni menjawab dengan jawaban yang sudah dia hafal — masih single, masih di kantor yang lama, baru pindah kontrakan ke Cikini.
Lila, yang paling sensitif, melihat Reni. “Ren, lo barusan ngobrol sama Faisal?”
“Cuma salaman, La.”
“Dia udah married, Ren. Sama mbak Sinta. Lo tau?”
“Iya, baru tau hari ini.”
Lila tidak melanjutkan. Diana pindah topik. Mereka membahas menu — yang ada nasi briyani, soto Betawi, sate, dan satu spot dim sum.
Acara berjalan. Vita dan suaminya naik panggung. Pelaminan dengan dekorasi bunga putih dan emas. Vita pakai kebaya cream, suaminya pakai jas hitam. MC membacakan riwayat hidup keduanya.
Reni mendengar dari kursinya. Dia ikut tepuk tangan di bagian yang sesuai.
Selama acara, dia melihat Faisal sekali — duduk di meja keluarga pria, di samping perempuan yang Reni tidak kenal. Pasti Sinta. Pakai gamis biru, jilbab biru tua. Cantik. Manis senyumnya.
Reni tidak menatap lama.
Setelah salaman ke pengantin, Reni pamit ke teman-temannya. Pukul sepuluh malam dia keluar gedung. Dia memesan Grab.
Sambil menunggu Grab, dia membuka WhatsApp. Ada chat lama dengan Faisal — terakhir 2021. Fais, sehat-sehat ya.
Reni tidak mengetik apa-apa. Dia menutup WA.
Grab datang. Avanza putih, plat B 1893 ABC. Reni masuk. Sopir bertanya, “Mbak ke Cikini, ya?”
“Iya Pak.”
Reni menatap keluar jendela. Gedung serbaguna mengecil di kaca spion. Lalu hilang.