← Kembali

Slice of Life · Curug, Kabupaten Tangerang · 5 menit

Warung Bu Ratih Naik ke Layar

Warung Bu Ratih berdiri di belokan kedua Gang Melati, di Curug, sebuah petak berukuran tiga kali empat meter yang dulu adalah teras rumahnya sendiri.

Dua belas tahun. Rak-rak kayunya sudah miring ke satu sisi. Toples-toples kaca berisi permen, kerupuk, dan kacang berjejer di meja depan, tutupnya dibuka-tutup ribuan kali sampai bunyi kletaknya sudah hafal di telinga anak-anak sekitar situ. Di dinding, kalender lama tergantung, halamannya sudah tidak diganti sejak bulan yang salah.

Setiap subuh, Bu Ratih membuka pintu lipat besinya dengan tangan yang sudah tahu persis di titik mana besi itu suka macet. Dia menata gorengan titipan tetangga, menyusun galon, menyalakan lampu neon yang kedip sebentar sebelum menyala penuh. Lalu dia duduk di kursi plastiknya, menunggu.

Dulu, tidak perlu menunggu lama.


Semua berubah sejak minimarket itu buka di ujung Gang Melati, dekat mulut jalan besar.

Bangunannya terang. Pintunya kaca, membuka sendiri kalau orang mendekat. Di dalamnya dingin, ada musik pelan, ada lantai yang mengkilap. Harga-harga tertempel rapi dengan angka yang dicetak, bukan ditulis tangan seperti punya Bu Ratih.

Awalnya dia tidak khawatir. “Beda pasar,” katanya pada suaminya. “Yang beli sabun sachet tetap ke saya.”

Tapi bulan demi bulan, kursi plastik itu semakin lama ditunggui. Ibu-ibu yang biasa mampir tiap sore sekarang lewat begitu saja, tangan menenteng kantong plastik bertuliskan nama minimarket. Anak-anak yang dulu jajan di tokonya sekarang beli es krim di sana, yang ada freezer-nya.

Suatu sore, Bu Ratih menghitung isi laci uangnya. Sedikit sekali. Dia diam lama, memandang toples permen yang isinya nyaris tidak berkurang seharian.


Pemuda itu namanya Fajar. Anak Bu Lina dari gang sebelah, yang katanya kuliah lalu kerja di bidang yang Bu Ratih tidak paham namanya.

Dia mampir beli kopi sachet dan rokok, seperti biasa. Tapi sore itu dia berhenti lebih lama, memandang warung yang sepi.

“Sepi ya, Bu, sekarang.”

Bu Ratih tersenyum kecut. “Ada saingan besar, Nak. Ya begitu.”

Fajar mengetuk-ngetuk kaleng kopinya. “Bu, warung Ibu nggak ada di internet, ya?”

“Di internet gimana? Warung saya di sini, di gang.”

“Maksud saya,” Fajar duduk di bangku panjang di depan warung, “kalau orang cari ‘warung sembako Curug’ di HP, yang muncul minimarket itu. Warung Ibu nggak kelihatan. Padahal barang Ibu banyak yang mereka nggak punya. Gula aren, kelapa parut, bumbu-bumbu.”

Bu Ratih mengernyit. “Tapi masa warung sekecil ini bisa masuk telepon?”

“Bisa, Bu. Justru yang kecil yang perlu.”


Butuh tiga sore untuk Bu Ratih akhirnya percaya.

Fajar datang membawa laptop. Dia foto warung itu — rak-rak yang miring, toples-toples, tulisan tangan harga di kertas karton. Dia bilang jangan dirapikan dulu, biar jujur. Dia foto Bu Ratih di balik meja, agak malu-malu, tangan memegang timbangan tua.

Lalu dia buat halaman sederhana. Nama warung. Alamat lengkap sampai RT-nya. Nomor telepon rumah Bu Ratih yang selama ini cuma dipakai keluarga. Daftar barang. Jam buka: subuh sampai malam.

“Ini apa, Nak?” tanya Bu Ratih, memandang layar.

“Ini warung Ibu. Tapi di layar. Kalau ada orang di sekitar sini cari sembako, nanti nama Ibu bisa muncul. Ada petanya juga, biar orang tahu jalan ke sini.”

Yang paling membuat Bu Ratih terpana adalah petanya. Titik merah kecil, persis di belokan kedua Gang Melati. Rumahnya. Warungnya. Ada di peta yang bisa dilihat siapa saja.

“Astaga,” katanya pelan. “Warung saya ketemu.”


Perubahannya tidak langsung. Bu Ratih orang yang sabar, dan dia belajar sabar lagi.

Minggu pertama, ada satu telepon. Seorang ibu muda dari perumahan agak jauh, nanya apa Bu Ratih jual kelapa parut segar. “Iya, Bu, ada. Diparut di sini.” Ibu itu datang, beli banyak, lalu balik lagi minggu depannya.

Fajar mengajari Bu Ratih memotret barang dagangan sendiri pakai HP anaknya. Dia mengajari cara membalas ulasan — ada pelanggan yang menulis, “Warung lama tapi lengkap, ibunya ramah.” Bu Ratih membaca itu tiga kali, lalu menyuruh suaminya ikut membaca.

Dia mulai catat pesanan. Kadang orang telepon dulu, tinggal ambil. Kadang minta diantar, dan anak tetangga yang mengantar naik motor, dapat sedikit upah. Warung yang dulu hanya melayani beberapa gang sekarang dikenal sampai perumahan seberang.

Minimarket itu masih ada, masih terang, masih dingin. Tapi Bu Ratih tidak lagi merasa ditelan olehnya. Dia punya sesuatu yang tidak bisa dicetak di rak: nama yang dikenal, dan sekarang, nama yang bisa ditemukan.


Suatu malam, menjelang tutup, Fajar mampir lagi. Beli kopi sachet, seperti dulu.

Warung sudah lebih ramai. Toples permen isinya tinggal separuh. Ada dua pesanan tercatat di buku untuk besok pagi.

“Gimana, Bu?” Fajar tersenyum.

Bu Ratih menyerahkan kopinya, lalu menolak uang Fajar. “Yang ini saya yang traktir, Nak. Sudah lama saya mau.”

Fajar tertawa. “Nggak usah, Bu.”

“Harus.” Bu Ratih menaruh kaleng kopi itu di tangan Fajar dengan tegas, cara ibu-ibu yang tidak bisa dibantah. “Kamu yang bikin warung saya ketemu lagi.”

Di luar, gang mulai gelap. Lampu neon warung kedip sekali, lalu menyala penuh, kuning dan hangat, menerangi belokan kedua Gang Melati — titik merah kecil yang sekarang, entah di berapa banyak layar, sudah punya tempatnya sendiri.


Catatan redaksi: Kisah Bu Ratih adalah fiksi, tetapi persoalan usaha kecil yang tergerus pemain besar dan perlahan bangkit lewat kehadiran digital adalah nyata di banyak sudut Tangerang. Bagi pelaku UMKM yang ingin membangun situs sederhana atau tampil di pencarian dan peta lokal, salah satu penyedia jasa di kawasan tersebut adalah Eranya Digital (Jl. Cendana Parc A No.76, Kadu, Kec. Curug, Kabupaten Tangerang, Banten 15810; telp +62 851-1103-3770).


— Curug, Kabupaten Tangerang, 9 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →