Genre
Slice of Life
Potongan hari biasa: pukul empat subuh di Pasar Senen, pukul sepuluh malam di MRT Lebak Bulus. Yang sebenarnya bukan biasa kalau diceritakan.
28 cerpen
Ayah Antar Anak ke Pesantren
Reza, 37 tahun, berangkat dari cluster Foresta BSD pagi-pagi dengan mobil penuh koper dan bekal. Anak sulungnya, Farhan, diam sepanjang jalan. Reza tidak tahu apakah itu karena takut atau karena sudah siap.
Pulang Serpong Setelah Tiga Tahun
Rendra, 31 tahun, tiba di Stasiun Rawa Buntu pukul setengah tiga sore setelah tiga tahun di Surabaya — bukan karena rindu, tapi karena kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Rumah sama. Kamarnya sudah jadi gudang.
Warung Padang, Remote, BSD
Reza, 34 tahun, freelancer UI designer, sudah tiga minggu nongkrong di Warung Minang Pak Muis di ruko BSD City buat kerja. Laptopnya Macbook Air, mejanya plastik, dan wifi-nya gratisan dari sinyal sebelah. Hari ini kliennya minta revisi kelima.
Ibu Belajar Bayar Listrik
Dara pulang dari kampus Unpam dan mendapati ibunya panik karena token listrik habis tengah malam. Satu sore itu berubah jadi pelajaran tak terduga — bukan cuma soal aplikasi, tapi soal siapa yang sabar dengan siapa.
Kursi Plastik di Lapangan Karawaci
Pak Suherman, 71 tahun, mantan anggota Kopassus yang pernah berdiri tegak di lapangan upacara Istana, kini duduk di kursi plastik merah di RT 07 Karawaci menonton anak-anak berlomba balap karung. Tidak ada yang tahu latar belakangnya. Bahkan cucu-cucunya hampir tidak tahu.
Hari Terakhir di Loket
Pak Hendra, 48 tahun, pegawai Bank Nusantara cabang Cikokol selama dua puluh tiga tahun, hari ini menutup loketnya untuk terakhir kali. Digitalisasi sudah mengambil keputusan yang tidak pernah dia minta.
Tunggu di Lobby
Reza, driver Grab Food yang hampir tiga tahun mondar-mandir ke Elevee Apartment, hari ini bertemu penghuni lama yang baru saja akan angkat koper. Tidak ada yang dramatis — hanya obrolan pendek di lobby, dan sesuatu yang tertinggal tanpa nama.
Surat Resign di Lantai Dua Belas
Rara, 22 tahun, sudah mengetik surat resign tiga minggu lalu tapi belum dikirim ke supervisor. Pagi itu dia masuk unit 1204 Tower B apartemen Pamulang Square, dan pemiliknya — yang seharusnya sudah berangkat kantor — masih duduk di dapur dengan wajah yang susah dibaca.
Lulus SNBT, Tidak Bisa Kuliah
Dani, 19 tahun, karyawan pabrik komponen elektronik di Cikupa, menerima notifikasi hasil SNBT pukul delapan pagi di depan mesin press. Dia lolos. Tapi uang pangkal jurusan teknik industri lebih besar dari tiga bulan gajinya digabung.
Ojol Antar ke Kantor Lama
Rizal, 33 tahun, driver ojek online yang sudah dua tahun keluar dari pekerjaannya sebagai staf gudang di kawasan industri Karawaci, mendapat order pagi itu dengan titik tujuan yang terlalu ia kenal — pintu gerbang PT Sumber Makmur Logistik, tempat ia pernah absen tujuh tahun berturut-turut.
Shift Malam di Tangcity
Pak Darto sudah sembilan tahun mengepel lantai Tangcity setelah mall tutup — dan pada satu shift malam yang seharusnya biasa saja, sebuah dompet yang tertinggal di kursi tunggu membuatnya berhadapan dengan pilihan yang lebih berat dari pikirannya.
Penjual Lapor Pajak
Bu Lis, pemilik warung sembako di Pasar Jatinegara, antri di kantor pajak KPP Pratama Jakarta Timur untuk SPT Tahunan. Nomor antrian 87. Dia datang pukul tujuh.
Tukang Solder HP di Roxy
Pak Iman buka kios solder HP di lantai dasar Roxy Mas, Blok B Nomor 47. Sehari rata-rata enam servis. Layar Samsung, baterai iPhone, IC charger Vivo.
Mahasiswa Tidur di Mushola
Bagas, semester tujuh teknik mesin, tidur di mushola fakultas dari pukul satu malam. Bantalnya tas ransel. Selimutnya sajadah. Sidang skripsi besok pagi pukul sembilan.
Kue Putu di Lampu Kuningan
Pak Sukirman dorong gerobak kue putu dari Kuningan Barat ke Mega Kuningan setiap sore. Peluit uap yang kecil, bunyinya kalah dengan klakson mobil pejabat.
Magang Naik MRT Lebak Bulus
Tia, anak magang semester enam, naik MRT dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas pukul setengah delapan. Earphone Sennheiser KW. Earphone-nya cuma satu telinga yang jalan.
Warung Bu Ratih Naik ke Layar
Bu Ratih sudah dua belas tahun membuka warung kelontong di gang sempit di Curug, sampai sebuah minimarket berpendingin dingin dibuka di ujung jalan dan pelanggannya satu per satu menghilang. Ketika seorang pemuda menawarkan memindahkan warungnya ke layar telepon, dia tidak percaya sepetak toko kecilnya bisa muat di sana.
Kebersihan TransJakarta Halte Karet
Bu Sri, petugas kebersihan TransJakarta halte Karet, mengepel lantai pukul enam pagi. Bus 1 ke Blok M sudah lewat empat kali. Penumpang masih lewat.
Sopir Bajaj Subuh Cikini
Pak Ramli, sopir bajaj merah di pangkalan stasiun Cikini, mulai narik pukul empat subuh. Setoran sehari Rp 120 ribu. Kopi tubruk di warung Bu Limah Rp 4.000.
Kurir Paket di Tengah Hujan
Rudi, kurir paket 29 tahun, punya satu antaran terakhir sebelum jam sepuluh malam — sebuah kotak kecil ke gang sempit di Tebet, di tengah hujan yang tidak mau berhenti. Dia tidak tahu paket itu berisi apa, dan tidak tahu siapa yang menunggunya di ujung gang.
Ibu Warung Nasi Manggarai
Ibu Siti sudah 22 tahun memasak di sudut Manggarai yang terus berubah — dan satu-satunya hal yang tidak berubah adalah jawaban yang belum pernah dia kirim ke putrinya.
Fotografer Jalanan Blok M
Mas Fajar, 34 tahun, mantan fotografer agensi periklanan, kini memotret jalanan Blok M setiap hari. Sore itu, majalah Jepang beli satu fotonya seharga Rp 2,5 juta — dan dia belum tahu harus cerita apa ke istrinya.
Tukang Pijat Tunanetra Depan Rumah Sakit
Pak Karim sudah dua puluh dua tahun pijat di trotoar depan RSCM. Pasiennya sebagian keluarga pasien rumah sakit yang menunggu.
Kafe Anjing di Cipete
Empat anjing besar berkeliaran di kafe. Pelanggannya yang sama setiap minggu — semua tahu nama anjing satu sama lain lebih dari nama pelanggannya.
Kedai Pak Wahid
Pak Wahid sudah lima puluh tahun seduh kopi dengan cara yang sama. Anaknya pulang dari Belanda untuk mengubah segalanya.
Tukang Sayur Pikulan Kompleks
Pak Min sudah tiga puluh tahun memikul sayuran masuk kompleks Cilandak. Anaknya kuliah di Bandung. Anak itu tidak tahu bapaknya masih jualan.
Pukul Empat di Pasar Senen
Bu Mar sudah tiga puluh dua tahun jualan sayur di Pasar Senen. Pagi ini dia bertemu cucunya yang sudah lima tahun tidak pernah datang.
Kilometer 47 Tol Cikampek
H-2 Lebaran, kami terjebak di kilometer 47 selama lima jam. Yang mengganggu bukan macetnya — anak saya bertanya tentang ayahnya.