← Kembali

Slice of Life · Cikini · 3 menit

Sopir Bajaj Subuh Cikini

Pukul empat subuh, Stasiun Cikini. Pak Ramli, 38 tahun, mendorong bajaj merahnya keluar dari pangkalan. Plat bajaj: B-7421-VOR. Sudah enam tahun dia narik bajaj ini. Sebelumnya, ojol — tapi punggungnya bermasalah sejak jatuh tahun 2018.

Dia menyalakan mesin. Suara bajaj khas — dua-tak, getar.

Dia jalan dua puluh meter ke warung Bu Limah di depan stasiun. Buka 24 jam, walaupun Bu Limah sendiri tidur dari pukul satu sampai pukul tiga subuh.

“Pak Ramli, biasa?”

“Biasa, Bu.”

Kopi tubruk pakai gelas plastik. Rp 4.000. Rokok Sampoerna Mild satu, Rp 3.500. Total Rp 7.500.


Dia duduk di kursi plastik di samping warung. Stasiun Cikini masih sepi. Kereta pertama dari Jakarta Kota ke Bogor pukul lima kurang sepuluh.

Dia menyeruput kopi. Pahit. Manis sedikit. Hangat.

Bu Limah ngobrol dari balik warung. “Hari ini hujan, Pak Ramli?”

“Awan tebal, Bu. Mungkin pagi gerimis.”

“Bajaj saya bocor atapnya.”

“Saya juga, Bu. Atap depan.”

“Sudah lima tahun atap saya bocor.”

“Saya tiga tahun.”


Pukul empat lewat dua puluh, penumpang pertama datang. Ibu-ibu 40-an, kerudung biru, keranjang sayur kosong. Mau ke Pasar Senen.

“Tiga puluh ribu, Bu.”

“Dua puluh lima aja, Pak.”

“Dua puluh tujuh.”

“Dua puluh lima ya, Pak. Saya ada permen Sugus.”

Pak Ramli mengangguk. Ibu itu naik. Keranjang sayur ditaruh di lantai bajaj.

Mereka jalan pelan ke Pasar Senen — lewat Cikini Raya, Salemba Raya, ke Senen. Empat belas menit.

Selama jalan, ibu itu tidak banyak bicara. Hanya komentar sekali: “Pak, langitnya merah ya.”

Pak Ramli melihat ke atas. Memang merah. Awan subuh yang biasanya abu-abu, hari ini sedikit kemerahan.

“Iya, Bu.”


Di Pasar Senen, ibu itu turun. Dia bayar Rp 25.000 lewat tunai. Dia memberi tiga permen Sugus kuning ke Pak Ramli.

“Buat ngemil, Pak.”

“Makasih, Bu.”

Pak Ramli memasukkan permen ke saku jaket. Dia memasukkan Rp 25.000 ke kotak uang di bawah jok. Setoran hari ini sudah dimulai.

Dia balik ke Cikini.


Sampai di pangkalan pukul lima lewat lima belas, sudah ada lima penumpang menunggu. Tiga orang ke arah Salemba, dua orang ke Menteng. Dia ambil yang ke Salemba — tiga orang, satu kali jalan, Rp 25 ribu per orang.

Sampai pukul tujuh, dia sudah delapan kali jalan. Pendapatan: Rp 285 ribu. Setoran sehari: Rp 120 ribu (untuk pemilik bajaj). Bensin: Rp 35 ribu. Makan siang: Rp 20 ribu.

Bersih: sekitar Rp 110 ribu kalau dia narik sampai pukul enam sore.


Pukul setengah delapan, dia balik ke warung Bu Limah untuk sarapan. Nasi uduk Rp 10 ribu, tempe Rp 3 ribu, teh hangat Rp 3 ribu.

“Pak Ramli, anaknya udah masuk SD?”

“Udah, Bu. Kelas dua.”

“Cepet ya.”

“Iya.”

Dia makan pelan-pelan. Dia membuka HP — Samsung A14, layar agak retak. Dia mengecek WA istrinya.

Mas, anak udah berangkat sekolah. Aku ke pasar dulu.

Pak Ramli balas: Iya. Hati-hati.


Pukul sembilan, dia jalan lagi. Penumpang dari pangkalan Cikini ke Bunderan HI. Rp 50 ribu. Penumpang lakinya muda, dua puluhan, sudah pakai kemeja kantor.

Sampai HI, penumpang turun. Pak Ramli pulang ke Cikini.

Hari masih panjang. Awan masih merah sedikit. Sugus kuning di saku jaketnya — dia tahu — akan dia makan sekitar pukul sebelas, sebelum istirahat siang di warung Bu Limah.

Itu rencananya. Hari biasa.


— Cikini, 8 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →