Ayah Antar Anak ke Pesantren
29 Agustus 2026 · 511 kata
Reza berangkat pukul enam kurang seperempat dari cluster Foresta, BSD. Koper Farhan sudah di bagasi sejak semalam — koper biru 24 inci yang dibeli di Living World Alam Sutera tiga minggu lalu, waktu masih terasa jauh.
Di depan pintu, istrinya, Nida, memeluk Farhan. Lama. Farhan membiarkan dirinya dipeluk. Tidak membalas, tapi tidak menghindari.
Reza menepuk bahu Farhan. “Yuk.”
Mereka keluar.
Di jalan BSD City, lampu jalan masih menyala. Toko-toko belum buka. Ada satu dua motor ojol dan truk kecil pengangkut sayur. Farhan duduk di kursi belakang meskipun kursi depan kosong. Reza tidak berkomentar.
Reza menghidupkan radio. Berita pagi. Dia matikan lagi.
Mereka keluar tol Serpong, masuk Parung, lalu naik ke jalan provinsi yang mulai berbukit. Pesantren itu di Bogor Selatan — dua jam dari BSD kalau jalanan bersahabat.
Di KM 14, Farhan bertanya, “Nanti malam kita tidur di mana, Yah?”
“Kamu tidur di sana. Ayah pulang.”
Farhan tidak menjawab.
Reza melihat ke kaca belakang sebentar. Farhan menatap keluar jendela. Mukanya tidak bisa dibaca.
Reza ingat dia umur dua belas ketika pertama kali naik kereta sendiri dari Tanah Abang ke Bekasi, ke rumah om-nya. Tidak ada yang mengantar. Dia duduk pegang tas ransel, jaga dompet, turun di stasiun yang benar. Dia tidak ingat takut. Atau mungkin dia lupa.
Farhan tidak pernah naik angkot sendiri.
Bukan karena Reza melarang. Tapi di BSD tidak ada angkot. Ada Grab, ada antar-jemput sekolah, ada Reza yang bekerja dari rumah.
Itu baru terasa seperti sesuatu sekarang.
Mereka tiba pukul delapan lewat dua puluh. Gerbang pesantren ramai — puluhan mobil dari berbagai plat nomor. Reza turunkan koper. Seorang ustaz muda datang, ceklis nama Farhan di tablet.
“Farhan Reza? Kamar B4. Silakan ikut Kak Hamzah.”
Farhan menoleh ke Reza. Ekspresinya masih datar, tapi matanya bertanya sesuatu yang tidak diucapkan.
Reza mengulurkan tangan. Farhan menyalaminya — tangan kanan, sedikit cium tangan seperti yang diajarkan neneknya dulu.
“Hati-hati,” kata Reza.
“Iya, Yah.”
Farhan berbalik, ikut Kak Hamzah masuk ke dalam.
Reza berdiri di samping mobilnya sampai punggung Farhan menghilang di balik bangunan asrama.
Dia masuk mobil. Pasang seatbelt. Hidupkan mesin.
Di depannya, ada mobil Alphard plat B yang masih parkir, ibu-ibu di dalamnya menangis, suaminya menepuk-nepuk punggungnya pelan.
Reza tidak menangis. Tapi dia duduk di sana lima menit lebih lama dari yang dia rencanakan, menatap gerbang pesantren yang sekarang sudah sepi.
Kemudian dia putar balik, ke jalan provinsi, ke tol, ke BSD.
Di dapur nanti, Nida pasti sudah siapkan kopi. Dia akan bilang: Farhan baik-baik saja. Nida akan mengangguk. Mereka akan minum kopi bersama dan tidak banyak bicara.
Itu sudah cukup untuk hari ini.