Ibu Belajar Bayar Listrik
21 Agustus 2026 · 512 kata
Dara baru turun dari angkot Pamulang—Ciputat ketika ibunya menelpon.
“Dara, listrik mau habis nih. Token tinggal dikit. Ibu nggak ngerti cara belinya.”
Dara menoleh ke jam di HP-nya. Pukul setengah lima sore. Warung Mang Udin di seberang jalan sudah tutup. Minimarket terdekat kira-kira 800 meter, lewat gang sempit Perum Pamulang Permai yang aspalnya masih bolong di tiga titik sejak Lebaran.
“Ibu di rumah? Dara ke sini dulu ya.”
Ibunya sudah duduk di depan HP tua — Samsung A13, layar sedikit retak di pojok kanan atas — ketika Dara masuk. Di atas meja ada nota token listrik bulan lalu, tulisan tangan, nomor ID pelanggan dilingkari pulpen merah.
“Belinya di mana?” tanya ibunya.
“Di GoPay bisa, Bu. Atau m-banking.”
Ibunya mengerutkan dahi. “Ibu punya BCA.”
“Oke, kita pakai BCA aja.”
Dara duduk di samping ibunya. Dia buka aplikasi myBCA di HP sang ibu, yang ternyata perlu update dulu. Tiga menit menunggu. Ibunya mengetuk-ngetuk meja.
“Kok lama?”
“Update bentar, Bu.”
Selesai update, Dara menunjuk menu: Beli & Bayar, lalu Token Listrik. Ibunya mengikuti dengan jari telunjuk — bukan ibu jari seperti umumnya orang muda — mengetuk pelan, hati-hati, seperti khawatir HPnya bisa pecah kalau ditekan lebih keras.
“Yang ini?”
“Iya.”
“Terus?”
“Masukkan nomor ID pelanggan, Bu. Yang di nota itu.”
Ibunya mengetik. Salah satu angka. Hapus. Ketik lagi.
Dara menahan napas. Biasanya dia sudah ambil alih dari langkah kedua. Tapi kali ini dia biarkan.
“Sudah masuk nomornya. Terus?”
“Pilih nominal. Ibu mau beli berapa?”
“Dua puluh ribu dulu.”
“Oke, ketuk yang dua puluh ribu.”
Ibunya mengetuk. Halaman konfirmasi muncul. Nama pelanggan, alamat Pamulang Barat, nominal. Ibunya membaca semuanya pelan.
“Bener ini rumah kita?”
“Bener, Bu.”
“Oke.” Ibunya mengetuk Konfirmasi.
Halaman PIN muncul.
“PIN apa, Bu?”
“Yang enam angka itu?”
“Iya.”
Ibunya mengetik. Berhasil. Layar berubah: Transaksi Berhasil. Token: 1234-5678-9012-3456-78.
Ibunya menatap layar diam sebentar.
“Itu kodenya diapain?”
“Dimasukin ke meteran, Bu. Tombol biru di meteran luar.”
“Oh, kayak dulu beli fisik.”
“Sama persis.”
Ibunya bangkit, keluar ke teras, mengetuk kode di meteran. Dari dalam, Dara dengar bunyi bip tiga kali — tanda berhasil.
Ibunya masuk lagi. Duduk.
“Gampang juga ya.”
Dara tidak menjawab. Dia mengambil segelas air putih dari dapur.
“Nanti kalau Ibu lupa, ajarin lagi ya.”
“Iya, Bu.”
“Bisa diajarin lagi kan?”
Dara minum airnya. “Bisa.”
Di luar, lampu teras menyala. Tetangga depan baru pulang kerja, suara motornya masuk gang. Suara biasa Pamulang sore hari yang tidak ada yang spesial — tapi entah kenapa sore itu terasa cukup.