← Kembali

Slice of Life · BSD · 3 menit

Warung Padang, Remote, BSD

Reza membuka Figma pukul sembilan pagi dari meja plastik merah di Warung Minang Pak Muis, ruko deretan ketiga di Jalan Pahlawan Seribu, BSD.

Mejanya goyang sedikit di sisi kiri. Dia sudah tahu. Dia selalu duduk miring ke kanan supaya layar tidak bergetar waktu dia mengetik.

Nasi rendang, Rp 18 ribu. Teh tawar panas, Rp 3 ribu. Total Rp 21 ribu. Dia membayar di awal — kebiasaan sejak minggu pertama, supaya tidak ada perasaan ditatap kalau duduk terlalu lama.


Pak Muis tidak pernah bertanya Reza kerja apa. Cukup mengangguk waktu Reza masuk, langsung bilang ke dapur: “Nasi rendang, teh tawar!”

Warung buka pukul tujuh, tutup pukul tiga. Peak hour antara sebelas siang sampai satu siang — meja penuh, suara sendok berdenting, bau gulai sapi menguar sampai ke trotoar. Di luar jam itu, tinggal dua-tiga orang. Reza selalu datang sebelum sepuluh.

Koneksi internet: tethering dari HP-nya sendiri, paket 20 GB sebulan, masih cukup. Sinyal Telkomsel di BSD area ini stabil di 4G, sesekali naik ke 5G kalau langit cerah.


Klien hari ini, startup logistik di Tangerang Selatan, kirim pesan pukul sembilan lebih dua belas menit.

Reza, maaf ya. Tim kita minta tombol CTA-nya dipindah. Ini revisi terakhir kok.

Reza membaca dua kali. Revisi kelima dalam tiga hari. Setiap kali dibilang terakhir.

Dia menggeser elemen di artboard. Macbook Air-nya — seri M2, beli tahun lalu, cicilan lunas bulan depan — menyala tenang. Tidak ada suara kipas. Di sebelah kanannya, Pak Muis sedang menyendok sayur daun singkong ke mangkok plastik.

Radio kecil di dekat kasir muter lagu lawas. Reza tidak tahu judulnya tapi melodinya familiar, mungkin pernah terdengar dari kamar ibunya dulu di Serpong.


Tiga minggu lalu dia masih kerja dari kafe specialty di BSD Junction. Kopi oat milk Rp 55 ribu, meja marble, colokan di setiap kursi, playlist lo-fi dari speaker ceiling. Nyaman. Tapi dia mulai hitung-hitung: sehari Rp 55 ribu, lima hari Rp 275 ribu, sebulan hampir Rp 1,1 juta — cuma untuk duduk.

Warung Pak Muis: Rp 21 ribu sehari. Sebulan Rp 420 ribu, termasuk makan siang.

Selisihnya cukup buat bayar setengah tagihan listrik kos.

Dia tidak bilang ke siapapun. Bukan malu — lebih ke tidak ada yang perlu tahu.


Pukul dua belas lewat, warung mulai ramai. Reza menyimpan file, menutup laptop, dan memesan nasi gulai tunjang tambahan. Pak Muis mengambilkan tanpa ditanya.

Revisi sudah dikirim pukul sebelas tiga puluh. Klien belum balas.

Reza makan dengan tenang. Di luar, motor lalu-lalang di depan ruko. Pohon trembesi di pinggir jalan BSD itu daunnya bergerak kena angin kecil — satu-satunya tanda bahwa hari tidak berhenti bergerak, meski meja ini tetap di tempat yang sama.

Klien balas pukul satu lebih: Oke, approved! Makasih Reza.

Reza membaca. Mengangguk sendiri. Memesan teh tawar kedua.


— BSD, 24 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →