← Kembali

Slice of Life · Kuningan · 3 menit

Kue Putu di Lampu Kuningan

Sore, pukul setengah lima. Jalan HR Rasuna Said. Pak Sukirman, 56 tahun, mendorong gerobak kue putu-nya dari arah Kuningan Barat ke arah Mega Kuningan. Roda kayu. Suara cit-cit di engsel kiri.

Di atas gerobak: tungku kecil, peluit uap, tepung beras, kelapa parut, gula merah. Stok hari ini: sekitar dua kilogram tepung. Bisa untuk seratus dua puluh kue.

Pak Sukirman tinggal di kontrakan di Karet Tengsin. Sudah enam belas tahun jualan kue putu — sebelumnya, dia tukang ojek, tapi motornya hilang di parkir Pasar Tanah Abang tahun 2010.


Peluit uap di gerobaknya bunyi: uuueeeet. Halus, melengking, khas. Tapi sore di Kuningan ramai sekali. Klakson mobil. Sirine ambulans. Suara TransJakarta pelan dari halte di Karet. Suara mobil-mobil hitam dengan kaca film gelap dari arah Mega Kuningan — Pajero, Lexus, Alphard.

Peluit kue putu Pak Sukirman bersaing. Sering kalah.

Tapi pelanggannya tahu dia di mana. Mereka mendengar dari jarak dekat — lima sampai sepuluh meter — kalau angin lagi tenang.


Mas Hari, satpam Gedung Setiabudi 2, keluar pukul lima kurang lima belas. Dia mendekat ke gerobak.

“Pak Sukir, lima ribu, dua bungkus.”

“Iya, Mas.”

Pak Sukirman menuang tepung ke cetakan bambu. Empat cetakan. Dia memasukkan ke tungku. Uap naik. Peluit kecil bunyi.

Empat menit. Kue jadi. Dia keluarkan dari cetakan, taruh di daun pisang, taburi kelapa parut.

Mas Hari membayar Rp 10.000 tunai.

“Pak, masih sampai jam berapa?”

“Sampai pukul tujuh malam. Kalau habis lebih cepat.”

“Saya order lagi kalau pulang shift, Pak.”

“Iya.”


Lima belas menit kemudian, dua orang office boy dari gedung di seberang — Wisma Bakrie 2 — datang. Mereka pesan tiga bungkus. Rp 15.000.

Pak Sukirman tuang tepung lagi. Cetak. Uap. Peluit.

Salah satu OB, 30-an, bertanya, “Pak, kapan-kapan masuk Wisma Bakrie nggak Pak? Ada acara kantor.”

“Saya nggak masuk gedung, Mas. Saya cuma di pinggir jalan.”

“Sayang ya, Pak. Kalau Bapak masuk, laku banget kue putunya.”

“Saya nggak punya seragam catering, Mas.”

OB-nya tertawa. “Iya juga.”


Pukul setengah enam, lampu merah Kuningan menyala. Macet panjang dari arah Sudirman. Mobil-mobil hitam berjajar. Dari jendela mobil Pajero putih di lampu tiga, seorang sopir membuka kaca.

“Pak putu! Sini, Pak!”

Pak Sukirman dorong gerobak ke pinggir, dekat mobil itu. “Berapa, Mas?”

“Lima bungkus.”

Sopir Pajero membayar Rp 25.000. Dia kasih ke majikannya di belakang — Pak berkacamata, baju safari, dasi dilepas, sedang baca koran Kompas.

“Pak, lima bungkus.”

Majikan itu mengambil. Dia tidak melihat ke Pak Sukirman. Dia hanya mengangguk.

Lampu hijau. Pajero jalan. Pak Sukirman dorong gerobaknya kembali ke pinggir jalan, dekat tiang lampu.


Pukul enam, sudah hampir maghrib. Lampu merah berikutnya, klakson dari belakangnya — Avanza biru, sopir taksi online.

“Pak, dua aja!”

“Sepuluh ribu, Mas?”

“Iya.”

Pak Sukirman cetak. Uap. Peluit. Sopir taksi online bayar pakai QRIS lewat HP — Pak Sukirman pakai QRIS sejak tahun lalu, anaknya yang setup-kan.

Sampai pukul tujuh, Pak Sukirman jual dua kilogram penuh — habis. Total pendapatan: Rp 165 ribu. Bersih, setelah modal tepung, gula merah, kelapa, dan kayu bakar: sekitar Rp 95 ribu.


Dia dorong gerobak pulang ke Karet Tengsin. Pukul tujuh lewat lima belas. Maghrib sudah selesai. Lampu jalan menyala kuning.

Di kontrakan, istrinya sudah masak nasi dan tempe goreng. Dia mandi, makan, salat isya, lalu tidur pukul sembilan.

Besok, pukul dua siang, dia akan keluar lagi dengan gerobak. Peluit uap akan bunyi lagi. Klakson tetap akan menang. Pelanggan tetap akan mendengar — yang penting itu.


— Kuningan, 11 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →