Fotografer Jalanan Blok M
16 Juni 2026 · 457 kata
Mas Fajar, 34 tahun, berhenti dari agensi periklanan dua tahun lalu. Bukan dipecat. Dia yang mengajukan resign, di tengah proyek besar, dengan alasan yang tidak pernah cukup dia jelaskan kepada siapapun — termasuk kepada Mbak Rina.
Sekarang dia memotret jalanan Blok M. Setiap hari.
Terminal bus. Supir angkot yang menunggu sambil dengerin dangdut dari HP. Pedagang kaki lima di pelataran Blok M Square yang sudah buka sejak pukul tujuh pagi. Fajar datang dengan kamera Fujifilm X-T3 yang dia beli dari tabungan agensi, dan pulang dengan ratusan frame — kebanyakan tidak terpakai.
Dia jual print lewat Tokopedia. Harga per foto antara Rp 150 ribu sampai Rp 400 ribu. Penghasilan sebulan cukup buat makan, kadang tidak cukup buat listrik. Beberapa kali dia dapat pesanan dari kafe kecil di Kemang yang mau pajang foto jalanan di dindingnya — tapi itu tidak rutin.
Mbak Rina, istrinya, bilang seminggu lalu: “Gajinya jelas kalau balik ke agensi.”
Bukan pertama kali. Bukan juga salah.
Fajar tidak menjawab.
Selasa sore. Fajar duduk di warteg dekat Terminal Blok M, memesan nasi padang — rendang, gulai daun singkong — yang biasanya tidak dia pesan karena harganya.
Tiga puluh menit sebelumnya, dia dapat email dari redaktur majalah perjalanan Jepang. Mereka membeli satu foto. Rp 2.500.000.
Fotonya: Peron Terakhir Blok M.
Supir bus tidur dengan kepala bersandar di setir. Pukul dua pagi. Kaca depan bus memantulkan lampu terminal yang hampir padam — satu titik cahaya kuning di tengah bingkai hitam. Fajar mengambil foto itu tiga bulan lalu, setelah menunggu hampir empat jam di sudut terminal yang berbau solar dan mi instan dari kantin jaga malam. Tidak ada yang memintanya. Tidak ada brief klien. Tidak ada tenggat.
Hanya dia, kamera, dan satu supir bus yang tidak tahu sedang dipotret.
Redaktur Jepang itu menulis di email: “This photo is very quiet and very honest.”
Fajar makan pelan. Dia tidak lapar, tapi dia makan habis.
Di mejanya hanya ada piring nasi dan HP. Notifikasi email masih menyala di layar. Dia menutup notifikasi itu, membuka WhatsApp, membuka nama: Rina ❤️.
Dia ketik: makan di luar dulu ya.
Kirim.
Dia letakkan HP menghadap ke bawah.
Dia menatap piring yang sudah kosong. Di luar, bus terminal menarik mundur dari jalur parkir. Supir teriak ke kernet. Seseorang beli es teh dari pedagang di pinggir pagar.
HP bergetar.
Dia balik HP.
Rina membalas: hati-hati.
Dua kata. Seperti biasa. Seperti setiap kali dia bilang makan di luar, pulang telat, atau tidak menjawab.
Fajar menatap layar itu agak lama.
Dia belum memutuskan apa yang akan dia ceritakan. Apakah ini awal, atau masih hanya bara.
Di luar warteg, terminal Blok M terus berbunyi. Bus datang. Bus pergi. Supir-supir itu tidak tahu ada yang memotret mereka, dan tidak perlu tahu.
Fajar menyimpan HP di saku. Dia panggil mbak warteg untuk minta tambah nasi.