← Kembali

Slice of Life · Tangerang · 3 menit

Hari Terakhir di Loket

Pak Hendra tiba di kantor cabang Bank Nusantara Cikokol pukul tujuh kurang dua puluh. Lebih awal dari biasanya. Dia tidak tahu kenapa. Mungkin supaya bisa duduk sebentar sebelum orang lain datang.

Cabang ini kecil. Tiga loket, satu ruang kepala cabang, satu pantry dengan kulkas kecil yang pintunya tidak menutup sempurna sejak 2021. Pak Hendra sudah laporkan dua kali. Tidak pernah diperbaiki.

Dia duduk di kursi loketnya — loket dua — dan menyalakan komputer. Loading. Seperti biasa, butuh tiga menit.

Dua puluh tiga tahun dia duduk di kursi ini. Bukan kursi yang sama, tentu — sudah ganti tiga kali. Tapi posisinya sama. Loket dua, menghadap pintu masuk, di sebelah kiri mesin antrian.


Surat dari HRD datang tiga bulan lalu. Program Restrukturisasi Operasional — Fase Dua. Bahasa yang rapi untuk sesuatu yang sederhana: loket-loket di cabang kecil ditutup. Transaksi tunai dipindahkan ke ATM baru dan aplikasi. Teller tidak lagi dibutuhkan dalam jumlah yang sama.

Pak Hendra diberi dua pilihan: pindah ke cabang pusat Karawaci sebagai staf back office, atau mengambil paket pensiun dini. Dia 48 tahun. Istrinya kerja di apotek di Pasar Lama. Anaknya dua, yang pertama baru masuk SMA Negeri 4 Tangerang.

Dia memilih pensiun dini.

Tidak ada drama waktu bilang ke istrinya. Mereka duduk di meja makan, setelah anak-anak tidur. Istrinya bilang, ya sudah, kita lihat nanti. Kalimat itu cukup.


Pukul delapan, nasabah pertama masuk. Seorang ibu, mungkin enam puluhan, mau setor tunai. Dia tidak pakai aplikasi. Dia bilang, nggak bisa, matanya sudah tidak kuat baca layar HP kecil.

Pak Hendra melayani. Tangan bergerak otomatis — hitung uang, input nominal, cetak struk, cap, serahkan. Dua puluh tiga tahun otot ingatan ini.

Ibu itu bilang terima kasih. Pergi.

Pak Hendra melihat antrian. Enam orang. Lebih dari biasanya untuk hari Rabu. Mungkin tersebar dari cabang lain yang sudah duluan tutup.


Pukul tiga sore, Mbak Rini dari HRD datang dengan map biru. Serah terima. Tanda tangan tujuh lembar. Pak Hendra membaca semuanya, pelan. Mbak Rini menunggu tanpa terburu.

Kepala cabang, Pak Dedy, keluar dari ruangannya. Jabat tangan. Makasih ya, Pak Hen. Dua puluh tiga tahun, luar biasa.

Sama-sama, Pak.

Pak Hendra mengambil gelas blek-nya — gelas putih bergambar logo bank lama yang sudah ganti nama dua kali — dan memasukkannya ke tas.


Pukul setengah empat, dia keluar. Parkiran motor depan kantor. Motor Vario 2017-nya masih di tempat yang sama.

Dia menyalakan motor. Keluar ke Jalan MH Thamrin Cikokol, belok kiri menuju Pasar Lama. Mau jemput istrinya pulang.

Lampu merah di perempatan Cikokol menyala. Dia berhenti.

Motor-motor lain berhenti di sebelahnya.

Lampu hijau. Semua jalan.


— Tangerang, 13 Agustus 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →