Tunggu di Lobby
9 Agustus 2026 · 511 kata
Reza mematikan mesin motor di area drop-off Elevee Apartment pukul setengah dua siang. Panas. Bayangan tenda besi parkir motor tidak cukup menutupi bahu kanannya.
Dia ambil dua kantong plastik dari kotak merah di bawah jok. Nasi ayam geprek satu, es teh manis satu. Order dari lantai sebelas. Nama penerima: Hendra H.
Nama itu dia hafal tanpa sengaja. Tiga tahun terakhir, muncul dua atau tiga kali seminggu di aplikasi. Selalu nasi dari Warung Mpok Siti di ruko Jalur Sutera, selalu es teh, selalu lantai sebelas, selalu diberi bintang lima tanpa komentar.
Di lobby, satpam Pak Budi sedang menandatangani sesuatu di meja. Ada koper besar di samping sofa — dua koper hitam, satu tas ransel abu-abu besar.
“Titip di sini aja, Mas Reza,” kata Pak Budi tanpa ngangkat kepala.
Reza menaruh kantong di meja konfirmasi. Biasanya begitu.
Tapi lift terbuka, dan keluar seorang laki-laki — mungkin awal empat puluhan, kemeja linen biru muda, celana chino, sepatu kulit tipis. Dia lihat koper dulu, lalu lihat meja, lalu matanya ketemu Reza.
“Oh, ini pesanan saya ya?”
“Iya, Pak. Hendra?”
“Betul.” Pak Hendra mengambil kantong, mengecek isinya sebentar. “Makasih.”
Reza mengangguk, membalik badan.
“Mas, ini pesanan terakhir saya dari sini,” kata Pak Hendra. Bukan memanggil, lebih seperti bicara ke udara.
Reza berhenti. “Pindah, Pak?”
“Iya. Ke Surabaya. Istri saya di sana. Saya sudah tiga tahun bolak-balik.” Pak Hendra menunjuk dua koper itu dengan dagunya. “Selesai.”
Reza tidak tahu harus bilang apa. Dia tidak terbiasa ngobrol panjang di lobby. Biasanya konfirmasi nama, kasih barang, selesai.
“Dari tadi siang saya makan sendirian di sini nunggu taksi bandara,” lanjut Pak Hendra. Nada suaranya bukan sedih. Lebih ke datar — seperti orang yang sudah selesai merasakan sesuatu dan sekarang tinggal menugggu prosedur berakhir.
“Pesawat jam berapa, Pak?”
“Empat sore. Soetta.”
Reza menghitung di kepala. Dari Alam Sutera jam segini, macet Tol Tangerang-Jakarta bisa makan satu setengah jam. Tidak terlalu mepet, tapi juga tidak santai.
“Taksinya sudah di jalan?”
Pak Hendra mengecek HP. “Sudah. Lima menit lagi.”
Mereka diam sebentar. Pak Budi masih sibuk dengan dokumennya di meja.
“Mpok Siti enak,” kata Reza akhirnya. Kalimat pertama yang terlintas.
Pak Hendra tertawa kecil. “Iya. Itu yang paling saya suka di sini. Selain nggak ada yang ganggu.”
Taksi masuk area drop-off. Pak Hendra mengangkat satu koper, Pak Budi otomatis berdiri dan membawa yang satunya ke luar.
Reza berdiri di lobby sebentar setelah mereka pergi. Pintu geser menutup. Udara AC terasa terlalu dingin.
Dia buka aplikasi. Order berikutnya sudah masuk — kopi susu dari Ruko The Loop, dua blok dari sini. Nama penerima: Sari K. Lantai tujuh.
Dia keluar.