Kafe Anjing di Cipete
30 Mei 2026 · 720 kata
Bono Cafe di Jalan Cipete Utara adalah satu-satunya kafe yang saya tahu di Jakarta di mana anjing-anjing besar berkeliaran bebas di antara meja-meja pelanggan. Empat anjing: dua Golden Retriever (Bono dan Tuti), satu Labrador (Charlie), satu mix Bali (Maya). Semua sudah di kafe ini sejak mereka anjing kecil. Sekarang umurnya 6-9 tahun.
Pemilik kafe, Mas Adit, 40-an, menyebut anjing-anjing itu “staff”. Mereka punya tugas masing-masing: Bono menyambut pelanggan baru, Tuti tidur di pojok dekat heater, Charlie selalu mencari sisa makanan, Maya menjaga kasir tempat duduk Mas Adit kalau dia ke dapur.
Pelanggan reguler — 15-20 orang yang datang minimum dua kali seminggu — tahu nama-nama anjing lebih cepat dari nama satu sama lain. “Hai Bono!” lebih sering kedengaran daripada “Hai, kamu pelanggan yang biasa duduk di meja jendela!”
Saya pelanggan reguler sejak Bono Cafe buka tiga tahun lalu.
Sabtu pagi, pukul sembilan, saya datang seperti biasa. Bono datang menyambut — kepala besarnya nempel ke lutut saya, ekornya goyang. Saya elus kepalanya, dia mengembik kecil (anjing yang sudah lama tidur dan baru dibangunkan), lalu kembali ke matras di pojok.
Pelanggan di kafe pagi itu: Mbak Dini (datang setiap Sabtu jam 9, kerjanya freelance graphic design, selalu duduk meja sudut dengan iPad), Pak Anto (60-an, baca koran Kompas cetak sambil minum kopi tubruk, anjingnya sendiri Buddy menunggu di mobilnya), Bayu dan Tika (pasangan 30-an, datang akhir pekan untuk “date” yang berakhir lebih banyak ngobrol dengan staff anjing daripada satu sama lain).
Saya duduk di meja yang biasa, pesan ke Mas Adit. “Yang biasa, Mas. Plus telor mata sapi.”
“Oke, Mas.”
Setengah jam kemudian, pelanggan baru masuk: perempuan 30-an, sendirian, terlihat agak gugup. Dia berdiri di pintu sebentar, melihat ke arah anjing-anjing. Bono — yang biasanya cepat menyambut — kali ini tidak bergerak. Bono tahu kapan tidak menyambut.
Perempuan itu duduk di meja dekat pintu, jauh dari semua anjing. Dia pesan iced americano lewat Mas Adit dengan suara yang hampir berbisik.
Mas Adit setelah ngantar pesanannya, duduk sebentar di meja perempuan itu. Mereka ngobrol sebentar. Saya tidak dengar, tapi setelah obrolan, Tuti — Golden Retriever yang tidur di pojok dekat heater — berdiri pelan, jalan ke meja perempuan itu, duduk di sebelah kakinya, tidak menyentuh, tidak meminta apa-apa.
Perempuan itu menatap Tuti beberapa detik. Lalu, perlahan-lahan, dia mengulurkan tangannya. Tuti membiarkan tangan itu menyentuh kepalanya. Mata perempuan itu mulai berair.
Mereka tetap di posisi itu selama sepuluh menit. Tuti tidak bergerak. Perempuan itu pelan-pelan mengusap kepala Tuti, dengan air mata yang sekarang turun pelan-pelan tanpa diseka.
Tidak ada yang ngomong di kafe. Mas Adit di dapur. Mbak Dini di iPadnya. Pak Anto di Kompas-nya. Saya menulis ini di sketchbook saya.
Tuti dan perempuan itu — duduk bersama di meja dekat pintu, dengan iced americano yang belum disentuh.
Lima belas menit kemudian, perempuan itu menyeka air matanya, tertawa kecil ke Tuti, dan minum americano-nya. Dia memanggil Mas Adit, “Mas, anjing namanya Tuti, ya?”
“Iya, Mbak. Tuti.”
“Boleh saya difoto sama Tuti?”
“Tentu. Saya yang fotoin?”
Mas Adit ambil HP perempuan itu, motret dia dengan Tuti yang masih duduk di sebelah kakinya. Setelah selesai, perempuan itu menatap foto, mengangguk, lalu masuk HP-nya di tas.
Dia bayar. Sebelum pergi, dia berlutut, memeluk Tuti pelan, lalu berbisik sesuatu ke telinga Tuti. Tuti tetap diam, ekornya tidak goyang, hanya ada di sana.
Perempuan itu pergi.
Setelah dia keluar, kafe kembali normal. Tuti kembali ke pojok dekat heater dan tidur. Bono melihat ke arah saya dengan ekspresi yang saya bisa swear bermakna, “Itu yang lebih penting dari sekadar menyambut, Mas.”
Saya melanjutkan menulis. Sketchbook saya sekarang berisi catatan tentang perempuan tak dikenal yang menangis pelan di kafe Cipete dengan anjing yang tidak bergerak di sebelahnya. Saya tidak tahu siapa dia. Saya tidak akan pernah tahu kenapa dia menangis.
Tapi saya tahu satu hal: di Jakarta yang ramai dan klakson dan kejaran deadline, ada satu kafe di Cipete dengan empat anjing yang tahu kapan menyambut dan kapan hanya menemani.
Kafe ini akan terus ada. Tuti akan terus tahu kapan dia harus jalan ke pelanggan yang menangis di meja sudut. Bono akan terus tahu kapan tidak menyambut.
Mas Adit kembali ke kasir. Maya melompat ke pangkuannya. Saya selesai menulis, tutup sketchbook, dan minta kopi kedua.
Untuk pembaca yang juga concern tentang konsumerisme: editorial memilih flash sale tanpa FOMO.