Kurir Paket di Tengah Hujan
7 Juli 2026 · 1032 kata
Pukul sembilan lewat empat puluh malam, hujan belum juga reda.
Rudi berhenti di bawah pohon di pinggir Jalan Tebet Raya, mematikan mesin motor sebentar untuk mengecek layar HP. Cahaya biru aplikasi memantul di visor helmnya yang penuh titik air. Satu paket lagi. Satu-satunya yang tersisa dari empat belas antaran hari ini.
Penerima: Ibu Marlina. Alamat: Gang Kenanga III, RT 04.
Kotaknya kecil, seukuran dua telapak tangan, dibungkus plastik tebal warna cokelat. Ringan. Rudi sudah bawa paket itu sejak sore, tapi tiga kali dia lewat area ini gangnya selalu terlewat — tenggelam di antara deretan kontrakan dan pagar rumah yang mirip satu sama lain.
Dia masukkan HP ke dalam jaket, di dada, tempat paling kering yang tersisa. Jas hujannya sudah bocor di bagian bahu sejak dua bulan lalu. Belum sempat ganti. Selalu ada yang lebih mendesak dari jas hujan.
Dia nyalakan lagi motor. Air menyembur dari roda depan setiap kali dia lewat genangan.
Gang Kenanga III ternyata terlalu sempit untuk motor.
Rudi memarkir motornya di mulut gang, di bawah tritisan warung yang sudah tutup. Dia turun, angkat paket, selipkan di balik jas hujan biar tidak basah. Lalu dia masuk ke dalam gang dengan jalan kaki.
Air setinggi mata kaki. Sandal jepitnya — dia memang lebih sering pakai sandal daripada sepatu, lebih cepat kalau harus turun-naik motor puluhan kali sehari — terendam penuh. Dingin naik dari telapak sampai betis.
Rumah-rumah di gang ini rapat sekali. Genteng saling menempel. Dari balik jendela, cahaya televisi berkedip-kedip. Ada bau masakan, ada suara azan dari langgar entah di mana, ada anak kecil menangis lalu diam.
Nomor rumah tidak berurutan. Rudi menyorot pintu-pintu dengan senter HP, satu per satu. RT 04 nomor 12. Nomor 12. Nomor 12.
Akhirnya dia menemukannya di ujung gang, rumah paling kecil, dengan pintu kayu yang catnya sudah mengelupas dan pot-pot tanaman di depannya yang basah kuyup.
Dia ketuk. “Paket, Bu.”
Tidak ada jawaban.
Dia ketuk lagi, lebih keras, mencoba mengalahkan suara hujan. “Paket, Buuu!”
Terdengar langkah pelan dari dalam. Kunci diputar. Pintu terbuka sedikit, dan dari celahnya muncul wajah seorang perempuan tua — mungkin tujuh puluh, mungkin lebih. Rambutnya putih, disanggul kecil. Dia memicingkan mata ke arah Rudi, lalu ke arah hujan di belakangnya.
“Ibu Marlina?”
“Iya, Nak. Saya.”
“Ada paket, Bu. Tolong tanda tangan di sini.” Rudi menyodorkan HP-nya, layar tanda tangan sudah terbuka, sambil berusaha melindunginya dari tetesan air yang jatuh dari atap.
Ibu Marlina menerima kotak itu dengan kedua tangan. Perlahan. Seperti sedang menerima sesuatu yang jauh lebih berat dari beratnya.
Dia balik kotak itu, membaca nama pengirim di label. Dan Rudi — yang sudah bersiap pamit, sudah setengah membalik badan menuju gang yang gelap — melihat sesuatu berubah di wajah perempuan tua itu.
Matanya berkaca.
“Dari cucu saya,” katanya pelan, lebih ke diri sendiri daripada ke Rudi. “Di Surabaya. Dia… dia janji mau kirim sesuatu buat ulang tahun saya.”
Rudi berhenti.
“Hari ini ulang tahun saya,” lanjut Ibu Marlina. Dia tersenyum, tapi senyum yang aneh — senyum yang menahan sesuatu. “Saya kira dia lupa. Dari pagi tadi saya nunggu. Hujan gini, saya pikir nggak ada yang datang.”
Rudi tidak tahu harus bilang apa. Di aplikasi, ini hanya antaran nomor empat belas. Kode, alamat, waktu tempuh. Tidak ada kolom untuk ini.
“Selamat ulang tahun, Bu,” akhirnya dia berkata.
Ibu Marlina mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya dia benar-benar menatap Rudi — bukan sebagai kurir, tapi sebagai orang. Dia lihat jaket Rudi yang basah tembus, celana yang lengket ke kaki, sandal jepit yang terendam.
“Astaga, Nak. Kamu basah semua.” Suaranya berubah, seperti suara ibu ke anaknya. “Sudah malam, hujan deras begini masih kerja.”
“Ini antaran terakhir, Bu. Habis ini pulang.”
Ibu Marlina tidak langsung menutup pintu.
“Sebentar.” Dia masuk ke dalam, meninggalkan pintu setengah terbuka. Rudi berdiri kaku di bawah tritisan yang sempit, air menetes dari ujung helmnya. Dia melirik HP — mestinya dia sudah tekan tombol selesai, lanjut pulang. Tapi dia tunggu.
Perempuan tua itu kembali sambil membawa sesuatu. Sebuah gelas plastik berisi teh yang masih mengepul, dan dua potong pisang goreng di piring kecil yang dibungkus tisu.
“Ini. Buat kamu. Baru saya goreng tadi sore, buat nemenin nunggu paket.” Dia tertawa kecil. “Nggak enak kalau saya makan sendiri.”
Rudi menatap gelas teh itu. Uapnya naik, hangat, di tengah malam yang basah dan dingin. Dia tidak ingat kapan terakhir kali ada orang menawarkan sesuatu — bukan tip, bukan bintang lima, tapi sesuatu yang tidak diminta.
“Nggak usah repot, Bu.”
“Repot apa. Minum dulu. Di sini, di bawah atap. Hujannya deras banget.”
Rudi menerima gelas itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang sudah lama membeku. Dia minum sedikit. Manisnya pas. Teh yang diseduh dengan tangan orang yang tahu caranya.
Mereka berdiri di depan pintu itu — perempuan tua yang baru terima kado ulang tahun dari cucunya, dan kurir muda yang tinggal satu antaran menuju rumah. Tidak banyak bicara. Hujan mengisi diamnya.
“Cucu saya baik,” kata Ibu Marlina setelah beberapa saat, memeluk kotak kecilnya. “Sibuk, tapi nggak pernah lupa.”
Rudi mengangguk. Dia teringat ibunya di kampung, di Brebes, yang seminggu lalu dia janji akan kirim uang lebih tapi belum sempat karena setoran belum cukup.
Dia habiskan tehnya. Pisang gorengnya dia bungkus tisu, dia simpan di dalam jaket buat dimakan nanti.
“Terima kasih, Bu. Saya pamit ya. Sehat-sehat terus, panjang umur.”
“Hati-hati di jalan, Nak. Pelan-pelan. Terima kasih sudah antar sampai sini.”
Rudi berjalan kembali menyusuri gang yang tergenang, ke arah motornya yang menunggu di mulut gang.
Hujan masih sama derasnya. Sandalnya masih basah, jaketnya masih bocor di bahu, dan besok pagi dia harus mulai lagi dari antaran nomor satu.
Tapi di dada, di balik jaket, ada bungkusan pisang goreng yang masih hangat — dan sesuatu yang lebih hangat lagi, yang tidak muat di kolom mana pun di aplikasi.
Dia nyalakan motor. Sebelum berangkat, dia menoleh sekali ke ujung gang.
Pintu rumah kecil itu sudah tertutup. Tapi lampunya menyala, kuning dan tenang, menembus tirai hujan.
Rudi tersenyum di balik helmnya.
Lalu dia melaju pulang.
— Tebet, Jakarta Selatan, 7 Juli 2026
Ditulis oleh Bagus Pramudita