← Kembali

Slice of Life · Kalimalang · 3 menit

Mahasiswa Tidur di Mushola

Pukul satu malam, mushola fakultas teknik di kampus dekat Kalimalang. Lampu masjid setengah dimatikan oleh marbot pukul sebelas. Yang menyala tinggal lampu wudhu dan satu lampu mihrab.

Bagas, 22 tahun, jurusan Teknik Mesin, semester tujuh, masuk mushola dengan tas ransel Eiger dan kantong plastik isi roti tawar Sari Roti.

Dia menaruh ranselnya di pojok belakang mushola — sisi laki-laki. Dia membuka kardigan, melipat dua kali, taruh di lantai. Dia mengambil sajadah hijau dari rak.

Dia tidur di lantai mushola. Bantal: tas ransel. Selimut: sajadah hijau tipis.


Besok pagi, pukul sembilan, sidang skripsi. Judul: Optimasi Heat Transfer pada Tube Heat Exchanger dengan Variasi Material. Pembimbingnya Bu Dr. Reni — yang minggu lalu meminta revisi BAB 4, ditandai dengan tinta merah seperti rapor SMA.

Bagas sudah revisi. Tapi dia khawatir masih ada yang kurang.

Sebelum tidur, dia melihat HP. Notifikasi WhatsApp dari Mama:

Bagas, sudah tidur? Besok sidang ya. Mama doain.

Bagas balas: Iya Ma. Doain. Bagas tidur di mushola, kos jauh.

Mama balas dalam tiga detik: Astagfirullah. Hati-hati Bagas. Bawa air minum.

Bagas balas: Iya Ma. Salam buat Bapak.


Dia menutup HP. Baterai HP-nya 18 persen. Dia tidak men-charge — colokan listrik di mushola hanya satu, dan itu untuk speaker. Dia tidak mau menggangu.

Dia tidur dengan posisi miring ke kanan. Sajadah hijau menutupi pundaknya. Tas ransel di bawah kepala — keras, tapi tidak terlalu. Di tas: dua buku tebal — Holman, Heat Transfer, dan Çengel, Thermodynamics — yang dia siapkan untuk pertanyaan dewan penguji.

Dia tidur dalam empat puluh menit. AC mushola tidak ada — hanya kipas angin di sudut yang masih jalan.


Pukul tiga subuh, Bagas terbangun. Dia tidak tahu kenapa. Mushola hening. Lampu wudhu masih nyala.

Dia duduk. Dia membuka tas. Dia mengambil botol Aqua 600 ml yang dia bawa dari kos.

Dia minum. Hampir setengah botol.

Dia membuka laptop — Asus VivoBook, baterai 23 persen. Dia colok ke colokan speaker. Speaker hilang sumber listriknya, tapi marbot tidur, tidak akan tahu.

Dia membuka file skripsi. BAB 4. Bagian “Pembahasan Hasil.” Dia membaca paragraf yang Bu Reni kasih komentar: “Argumentasi masih kurang. Tambahkan referensi dari minimal dua jurnal terbaru.”

Bagas mengetik di laptop selama empat puluh menit. Dia menambah dua paragraf, dua referensi dari Energy Conversion and Management 2024.


Pukul empat, dia menutup laptop. Baterai laptop 71 persen. Lebih dari cukup untuk sidang nanti.

Dia tidur lagi. Lima belas menit.

Pukul empat lewat dua puluh, adzan subuh dari mushola. Marbot — Pak Yusuf, 55 tahun — masuk mushola, melihat Bagas yang sudah duduk di sudut.

“Eh, ada Bagas. Sudah lama, Mas?”

“Sejak pukul satu, Pak.”

“Skripsi?”

“Sidang besok pagi, Pak.”

Pak Yusuf mengangguk. Dia tidak komentar lagi. Dia jalan ke depan, menyalakan mic, dan iqamat.

Bagas wudhu. Lalu salat subuh berjamaah dengan Pak Yusuf dan tiga mahasiswa lain yang baru masuk mushola dari kos.


Setelah subuh, Bagas tidak tidur lagi. Dia ke warung depan kampus, beli teh hangat Rp 4.000 dan satu indomie goreng Rp 9.000. Dia makan di warung sambil baca catatan sidang di kertas A5 — yang dia tulis ulang dari laptop kemarin malam.

Sidang nanti pukul sembilan. Lima jam lagi.

Dia kembali ke mushola. Dia ganti baju — kemeja putih lengan panjang, celana hitam, dasi yang dia pinjam dari teman kos.

Pukul sembilan kurang lima belas, dia jalan ke ruang sidang di lantai tiga gedung utama. Sajadah hijau dia kembalikan ke rak — sudah rapi terlipat.


— Kalimalang, 12 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Slice of Life →