Surat Resign di Lantai Dua Belas
6 Agustus 2026 · 521 kata
Rara masuk lift Tower B pukul 08.17. Dia menjepit mop di ketiak kiri, tas kecil di bahu kanan, dan di dalam tas kecil itu ada HP dengan surat resign yang sudah tiga minggu hidup sebagai draft WhatsApp ke supervisor.
Lantai dua belas. Unit 1204.
Dia mengetuk dua kali sesuai prosedur, lalu membuka dengan master key. Biasanya unit ini kosong jam segini. Pak Dimas — nama di daftar unit — biasanya sudah turun ke parkiran sebelum pukul delapan.
Tapi hari ini tidak.
Pak Dimas duduk di kursi bar dapur, laptop buka, mug kopi di tangan. Dia tidak kaget. Dia hanya menoleh.
“Rara ya?”
“Iya, Pak. Maaf, saya permisi masuk dulu ya. Kalau Bapak mau saya balik nanti—”
“Gak usah. Masuk aja.”
Rara masuk. Dia mulai dari pojok ruang tamu seperti biasa — lap meja, angkat bantal, bersihkan sela-sela sofa. Unit 1204 tipe studio besar, 38 meter persegi, view ke Jalan Raya Pamulang yang jam segini sudah mulai macet arah Ciputat.
Pak Dimas tidak pergi ke kantor. Dia juga tidak banyak bicara. Hanya mengetik sesekali, lalu berhenti, lalu menatap layar kosong.
Rara bekerja dalam diam. Mop, sapu, lap wastafel, toilet. Semua 22 menit kalau tidak ada hambatan.
Tapi di menit ke-14, Pak Dimas tiba-tiba bilang: “Kamu sudah lama kerja di sini?”
Rara berhenti mengepel. “Hampir sebelas bulan, Pak.”
“Betah?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi Rara tidak langsung menjawab. Dia menekan mop ke lantai, memeras, lalu bilang: “Lumayan, Pak.”
Pak Dimas mengangguk ke arah laptopnya. “Gw juga lagi mikir mau resign.”
Rara tidak tahu harus bilang apa. Dia melanjutkan mengepel.
“Dari kantor lama. Sudah delapan tahun.” Pak Dimas menutup laptopnya pelan. “Susah juga ternyata.”
Rara hampir bilang: saya juga lagi mau resign. Tapi dia tidak jadi. Bukan karena takut. Lebih karena terasa aneh — dua orang dengan keputusan yang sama, di ruangan yang sama, pada pagi yang sama.
Dia selesai mengepel pukul 08.41. Dua puluh empat menit, sedikit lebih lama dari biasa.
“Terima kasih ya,” kata Pak Dimas waktu Rara mengambil tas.
“Sama-sama, Pak.”
Di lift turun, Rara membuka HP. Draft WhatsApp ke supervisor masih di sana. Tiga minggu. Dia membacanya sekali lagi — sudah bagus, sudah jelas, tidak perlu diedit.
Dia menutup draft itu tanpa mengirim.
Bukan karena berubah pikiran. Hanya hari ini rasanya bukan hari yang tepat. Mungkin besok. Mungkin minggu depan.
Lift berhenti di lantai dasar. Pintu terbuka. Rara keluar ke lobi yang dingin, menjepit mop lagi di ketiak kiri, dan berjalan ke unit berikutnya.