Pom Bensin Karawaci, Pukul Sepuluh Malam
31 Mei 2026 · 800 kata
Hujan mulai pukul empat sore. Pukul lima, jalan-jalan Tangerang sudah jadi sungai. Pukul tujuh, tol arah Jakarta ditutup karena longsor di kilometer 19. Pukul sepuluh malam, saya — yang pulang dari kantor klien di Karawaci — terjebak di pom bensin Pertamina di pinggir Boulevard Diponegoro.
Saya bukan satu-satunya. Di pom bensin itu juga ada: seorang ibu dengan dua anak kecil yang baru pulang dari rumah neneknya, dan seorang bapak setengah baya dengan mobil yang AC-nya tidak mau menyala. Plus pegawai pom bensin yang shift malam, Mas Andi — 20-an, baru lulus SMK, kerja di pom karena belum dapat kerjaan lain.
Kami berempat — tidak kenal sebelumnya — menjadi semacam komite darurat di pom bensin malam itu.
Ibu yang bawa anak namanya Bu Vina. Anak yang besar enam tahun, namanya Sasha; yang kecil tiga tahun, namanya Dimas. Mereka pulang dari rumah nenek di Cikupa. Tujuan: BSD. Jarak normal: satu jam. Malam ini: tidak bisa pulang sama sekali, mobil mogok di tengah banjir di Curug, dan Bu Vina memutuskan turun ke pom Karawaci untuk minta bantuan.
Bapak setengah baya, namanya Pak Hermawan. 55-an, dari Cilegon, mau ke Bekasi mengantar ipar yang dirawat di rumah sakit. Mobilnya bermasalah, dia berhenti di pom untuk perbaiki. Hujan deras, tol ditutup, dia memutuskan tunggu di pom sampai pagi.
Saya, di antara mereka, adalah yang paling kecil masalahnya: cuma terjebak, tidak ada anak menangis, tidak ada mobil rusak. Saya memutuskan tunggu di pom karena pulang ke kos di Kemang lewat banjir dengan motor matic kecil saya akan bunuh diri kecil-kecilan.
Mas Andi, pegawai pom, menerima kami dengan ekspresi yang sudah hafal: pelanggan terjebak hujan adalah event mingguan di Karawaci selama musim hujan.
“Mas, kopi tiga gelas dari toko sebelah ya. Ditambah susu coklat dua untuk anak-anak.”
Mas Andi yang ngomong. Dia keluar dari pom dengan jas hujan, jalan ke minimarket di seberang. Pak Hermawan ikut bayar, saya juga. Bu Vina menolak, lalu menerima, lalu menolak lagi, lalu menerima.
Kami duduk di pom bensin. Anak-anak Bu Vina mulai mengantuk. Bu Vina membuka jaket, dilipat dua, ditaruh di lantai sebagai bantal untuk Dimas. Sasha mengeluh dingin, jadi Pak Hermawan mengeluarkan jaket cadangan dari bagasi mobilnya, dipinjam ke Sasha. Sasha tersenyum, akhirnya tertidur.
Saya, Bu Vina, Pak Hermawan, Mas Andi — duduk berempat di pom bensin pukul sebelas malam, dengan kopi dingin, dengan hujan yang tidak berhenti, dengan dua anak yang tertidur di lantai dengan jas dan jaket pinjaman.
Pak Hermawan akhirnya bicara. “Saya orang yang gak biasa minta bantuan.”
Bu Vina mengangguk. “Saya juga.”
Mas Andi tersenyum. “Saya yang biasa kasih bantuan. Tapi cuma karena pekerjaan saya di sini.”
Saya tidak ngomong. Saya hanya duduk.
Pak Hermawan lanjut: “Ipar saya kena kanker. Bulan depan operasi. Saya minta cuti dari kerja untuk antar, tapi bos saya bilang ‘gak bisa, deadline’. Saya cuti tetap. Bos saya marah. Mungkin saya kena PHK pas balik.”
Bu Vina menatapnya, lalu, “Suami saya juga lagi sakit. Bukan kanker, tapi bisnisnya hancur sejak Covid. Sekarang dia di rumah, saya yang kerja kantor. Anak-anak ini… mereka belum tahu kalau mungkin tahun depan mereka harus pindah sekolah ke yang lebih murah.”
Mas Andi: “Saya… saya pulang ke kampung minggu depan. Nikah. Tunggangan udah lima tahun. Akhirnya tabungan cukup. Tapi kerjaan ini gak akan saya bisa lanjutkan setelah nikah — istri saya di Lampung, saya harus pindah.”
Mereka bertiga semua memandang ke arah saya. Saya merasa harus berbagi sesuatu juga.
“Saya… gak ada cerita besar. Saya cuma terjebak hujan.”
Pak Hermawan tertawa kecil. “Itu juga cerita, Mas. Yang penting, malam ini Anda tidak sendiri.”
Pukul satu pagi, hujan mulai mereda. Tol dibuka. Pak Hermawan, dengan mobilnya yang masih bermasalah AC tapi bisa jalan, menawarkan tumpang Bu Vina dan anak-anaknya sampai BSD. Bu Vina ragu — naik mobil orang asing — tapi melihat kondisi mobilnya yang mogok di Curug dan dua anak yang harus tidur di kasur, dia menerima.
Mereka pergi. Mas Andi dan saya tinggal. Mas Andi kembali ke pos shift-nya. Saya tunggu sampai pukul dua, lalu naik motor pulang.
Sebelum pergi, saya kasih kartu nama saya ke Mas Andi. “Mas, kalau setelah nikah butuh kerja di Jakarta, hubungi saya. Saya kenal beberapa orang yang cari karyawan.”
Mas Andi menerima kartu, mengangguk. “Terima kasih, Mas.”
Saya pulang. Jalan-jalan masih basah, tapi bisa dilewati. Sampai kos pukul tiga pagi. Saya tidur dengan baju yang masih lembab.
Saya tidak tahu apakah Mas Andi akan menghubungi saya. Mungkin tidak. Tapi malam itu, di pom bensin Karawaci, kami berempat menjadi sesuatu yang lebih dari pelanggan dan pegawai dan orang asing. Kami menjadi orang-orang yang terjebak di tempat yang sama, di waktu yang sama, dengan cerita yang berbeda-beda tapi sama beratnya.
Itu cukup. Untuk satu malam, itu cukup.