Anak Pulang Setelah Demo
16 Juni 2026 · 583 kata
Pak Hartono duduk di teras kontrakan Salemba. Kursi plastik. Termos kopi di lantai di samping kakinya. Jam tangan: setengah dua belas malam.
Anaknya, Adit, 23 tahun, mahasiswa UI semester delapan, belum pulang.
WA terakhir, pukul empat sore: Pak, aman. Demo masih lanjut. Pulang malam.
Pak Hartono membalas: Hati-hati.
Adit tidak membalas lagi.
Pak Hartono menyeruput kopinya. Sudah dingin. Dia tetap menyeruput.
Di gang Salemba, lampu jalan menyala satu-dua. Yang lain mati — entah karena umur, entah karena RT belum panggil orang PLN. Suara klakson dari jalan Salemba Raya sesekali terdengar.
Dia mengeluarkan HP. Dia membuka grup keluarga. Istrinya, Bu Yuli, di Bekasi — mereka pisah rumah sejak Adit kuliah, untuk alasan logistik kerjaan, bukan masalah pernikahan. Mereka tetap suami-istri, hanya tinggal di dua kota berbeda lima tahun belakangan.
Bu Yuli sudah tidur. Pak Hartono tidak mengetik.
Pukul dua belas tepat, dia membuka berita online. Detik, Kompas, Tempo. Tiga update demo malam ini:
Bentrok di depan kampus UI Salemba pukul 21.30. Massa membubarkan diri pukul 22.45.
Tiga belas mahasiswa ditangkap polisi.
Update: dua belas dilepas, satu masih ditahan.
Pak Hartono tidak tahu nama yang ditahan. Berita tidak mencantumkan.
Dia menatap HP. Lima menit. Dia tidak menelepon Adit. Dia pernah bilang ke Adit, waktu Adit kelas 2 SMA, dulu: “Dit, Pak gak akan pernah ngecek lo. Lo yang harus tahu pulang ke rumah. Lo yang harus tahu kabarin Pak.”
Pak Hartono tidak ingin menarik kembali kata-kata itu malam ini.
Pukul setengah satu, suara motor masuk gang. Pak Hartono melihat lampu motor menyusur jalan. Berhenti dua rumah sebelum kontrakannya. Anak tetangga, pulang kerja shift malam dari pabrik di Cikarang.
Bukan Adit.
Pak Hartono kembali menyeruput kopinya yang sudah benar-benar dingin.
Pukul setengah dua, dia masuk ke dalam rumah. Bukan untuk tidur. Untuk membuat kopi baru. Air panas di termos sudah habis.
Dia menyalakan kompor. Dia merebus air. Sambil menunggu, dia menatap foto Adit di dinding ruang tamu — foto wisuda SMA, Adit memakai toga, ibunya di sebelahnya, Pak Hartono di sebelah lainnya. 2020. Pandemic. Wisuda online tapi tetap mereka foto formal.
Air mendidih. Pak Hartono menuangkannya ke termos baru. Dia kembali ke teras.
Pukul setengah tiga pagi, suara motor lain masuk gang. Kali ini berhenti tepat di depan kontrakan Pak Hartono.
Adit turun dari boncengan. Yang naik motor, temannya — Pak Hartono tidak kenal namanya. Adit melambai, temannya mengangguk, lalu motor itu pergi.
Adit berjalan ke teras. Kemeja lengan panjangnya basah keringat. Di lengannya: plester perban kecil.
Pak Hartono tidak berdiri. Dia menatap Adit dari kursi.
“Pak.”
“Dit.”
Adit duduk di kursi sebelah. Dia menatap termos. “Pak masih ngopi?”
“Iya.”
Adit menuangkan kopi ke gelas yang sudah disediakan Pak Hartono di nampan. Dia menyeruput.
“Pak, maaf telat.”
“Lo aman?”
“Iya. Cuma kena pentungan sedikit di lengan.”
“Sakit?”
“Lumayan.”
Pak Hartono mengangguk. Dia tidak bertanya tentang demo. Dia tidak bertanya tentang teman yang ditahan.
Mereka berdua duduk di teras pukul setengah tiga pagi, menyeruput kopi yang sama dari termos yang sama. Adit melepas sepatunya. Pak Hartono mengeluarkan satu rokok Sampoerna, tapi tidak menyalakannya.
Pukul empat pagi, mereka masih duduk. Tidak ada yang masuk ke dalam.
Adzan subuh dari mushola di ujung gang berkumandang.
Pak Hartono mematikan rokoknya yang belum dinyalakan. Dia memasukkannya kembali ke kotak. Dia berdiri. Dia masuk ke dalam.
Adit tetap duduk, lima menit lebih, sebelum mengikuti.