← Kembali

Politik · Manggarai · 3 menit

Baliho Caleg di Pintu Air

Pak Suhardi berdiri di jembatan dekat Pintu Air Manggarai pukul setengah enam pagi. Dia memegang termos kopi tubruk yang sudah dibawanya sejak masih jadi hansip aktif. Sekarang dia pensiun. Tapi kebiasaan pagi tidak ikut pensiun.

Di atas Pintu Air, baliho Pak Hendarman — caleg dapil dua, partai tengah-tengah, nomor urut tujuh — masih menggantung. Banjir terakhir, hari Senin, airnya sampai mata kaki di jalan Tambak. Sekarang Kamis. Balihonya masih basah di bagian bawah, terlipat sedikit karena angin.

Wajah Pak Hendarman tersenyum lebar. Slogannya: Suara Anda, Aksi Saya.

Pak Suhardi menyeruput kopi. Pahit. Hangat.


Sejak 1997, Pak Suhardi sudah menonton baliho caleg silih berganti di tempat yang sama. Pertama baliho-baliho Golkar. Lalu reformasi, lalu macam-macam partai baru yang nama dan singkatannya susah dihafal. Wajah-wajah berubah. Kemeja koko, peci, batik. Slogan-slogan berubah: Untuk Rakyat, Bersama Membangun, Saatnya Berubah, Suara Anda, Aksi Saya.

Pintu Air Manggarai tidak berubah. Banjir tetap banjir. Tahun lalu rumah Bu Sumi di Tambak Selatan kebanjiran sampai pinggang. Tahun ini sampai mata kaki — lebih baik, tapi tetap kebanjiran.

Pak Suhardi tahu satu-dua caleg yang pernah datang ke kampungnya. Pak Hendarman bukan salah satunya.


Pukul enam pagi, tukang sapu jalan lewat. Pak Mulyono. Pak Mulyono menyapa Pak Suhardi dengan anggukan kecil. Dia menyapu sampah plastik di trotoar — botol Aqua, kantong plastik bekas mie ayam, satu sandal jepit sebelah kiri.

“Pak Hendarman tahun depan menang gak ya, Pak?” tanya Pak Mulyono, sambil terus menyapu.

“Saya gak tahu, Pak Mul.”

“Saya kira menang. Balihonya banyak. Dari sini sampai Tebet ada tujuh, saya hitung kemarin.”

“Banyak baliho belum tentu menang, Pak.”

“Tapi banyak baliho artinya banyak duit.”

Pak Suhardi mengangguk. “Itu betul.”

Pak Mulyono melanjutkan menyapu. Pak Suhardi melanjutkan menyeruput kopinya.


Di seberang jembatan, satu truk lewat membawa karung-karung pasir. Untuk Pintu Air, mungkin. Atau untuk proyek lain. Pak Suhardi tidak tahu. Sudah lama dia berhenti bertanya tentang proyek-proyek yang lewat di depan rumahnya.

Dia memperhatikan baliho Pak Hendarman sekali lagi. Di pojok kanan bawah, ada gambar partai. Nomor urut tujuh, tulisan kuning di atas latar merah. Di pojok kiri bawah, ada foto kecil Pak Hendarman bersalaman dengan seseorang yang sepertinya kepala daerah — Pak Suhardi tidak bisa lihat jelas dari jarak ini.

Pukul setengah tujuh, Pak Suhardi menghabiskan kopinya. Dia memutar tutup termos. Dia berjalan pulang.

Di jalan, dia melewati anak-anak SD yang berangkat sekolah. Salah satu dari mereka — anak Bu Sumi yang tahun lalu rumahnya kebanjiran — menyapa, “Pagi, Pak.”

“Pagi, Riko.”

Riko terus berjalan. Pak Suhardi terus berjalan ke arah berlawanan.


Di rumahnya, Pak Suhardi mencuci termos di bak. Istrinya, Bu Yati, sedang menyiapkan sarapan. Telur dadar dan nasi.

“Pak, baliho Pak Hendarman masih ada di Pintu Air?”

“Masih.”

“Sudah kotor banget.”

“Iya. Banjir kemarin kena.”

Bu Yati menaruh telur dadar di piring. Pak Suhardi duduk. Dia mulai makan. Bu Yati duduk di seberangnya.

“Tahun depan kita pilih siapa, Pak?”

Pak Suhardi mengunyah. Dia menelan. Dia menjawab, “Nanti saja kita pikir.”

Bu Yati mengangguk. Mereka makan tanpa bicara lagi.


— Manggarai, 1 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →