← Kembali

Drama · Cilincing · 3 menit

Suami Pulang Tengah Malam

Sinta duduk di sofa ruang tamu kontrakan Cilincing. Lampu TV menyala, channel kesayangannya — Trans 7, acara dokumenter alam — tapi suara dimatikan. Dia menatap ke arah pintu tanpa benar-benar melihat.

Jam dinding: pukul satu pagi.

Bayu, suaminya, belum pulang. Hari ke-12 berturut-turut pulang lewat tengah malam. Kerjaan di kantornya — manajer operasional pabrik di Pluit — sedang puncak musim audit tahunan.

Setidaknya itu yang Bayu bilang.


Sinta hamil tiga bulan. Mual masih kadang datang. Bidan terakhir bilang, semuanya normal. Bayu yang menemani waktu kontrol pertama, tiga minggu lalu. Setelah itu, Sinta yang sendiri ke bidan dua kali.

Dia tidak protes ke Bayu. Dia juga tidak protes ke dirinya sendiri tentang tidak protes.


Pukul satu lewat lima belas, pintu terbuka. Bayu masuk. Kemeja batik biru tua kusut, dasi sudah dilonggarkan, tas selempang di pundak kiri. Di tangan kanan: kantong plastik putih.

“Sin, masih bangun?”

“Iya, Bang.”

Bayu menaruh tasnya di sofa. Dia mengangkat kantong plastik. “Aku beli martabak di Pluit. Cokelat-keju. Buat kamu.”

Sinta menatap kantong itu. Lima detik.

“Bang, aku udah berhenti makan martabak.”

“Sejak kapan?”

“Sejak hamil. Tiga bulan.”

Bayu terdiam. Dia menatap martabak di tangannya. “Oh.”

Dia menaruh martabak di meja makan. Pelan.


Bayu duduk di sofa sebelah Sinta. Dia melepas dasinya sepenuhnya. Dia menghela napas.

“Sin, audit hampir kelar. Minggu depan sudah lebih longgar.”

“Iya, Bang.”

“Aku ngerti aku gak ada di rumah belakangan. Maaf.”

Sinta tidak menjawab. Dia memegang remote TV. Dia menyalakan suaranya — pelan, supaya ada ruang.

Acara dokumenter: tentang lumba-lumba di laut Banda. Narator membaca data tentang migrasi musiman.

Bayu menatap TV. “Sin, kamu udah makan?”

“Udah, Bang. Tadi bareng sama Bu Yati.”

“Bu Yati siapa?”

“Tetangga sebelah. Yang sering kasih kue ke kita waktu pindahan.”

Bayu mengangguk. “Oh iya. Aku lupa namanya.”

Sinta menatap suaminya. Bayu tidak menatap balas. Dia masih ke TV.


Pukul dua kurang seperempat, Sinta berdiri. “Bang, aku tidur dulu ya.”

“Iya Sin. Aku mandi sebentar lalu nyusul.”

Sinta masuk ke kamar. Dia menutup pintu. Dia berbaring di sisi kanan tempat tidur — sisi yang biasa Bayu duduki kalau Bayu pulang awal dan ngobrol dengan dia di kamar.

Dia menarik selimut. Dia menutup mata.

Di luar kamar, dia mendengar Bayu masuk ke kamar mandi. Suara air shower menyala. Bayu mandi sekitar 10 menit.

Lalu Bayu masuk kamar. Mematikan lampu. Dia berbaring di sisi kiri.

Mereka tidak saling sentuh. Tapi Sinta tidak bergerak menjauh. Bayu juga tidak.

Sinta tetap menutup mata. Bayu menarik napas panjang, lalu napasnya pelan-pelan mendatar.


Pukul tiga pagi, Sinta belum tidur. Bayu sudah tidur. Sinta bisa mendengar napasnya yang teratur.

Sinta pelan-pelan keluar kamar. Dia ke dapur. Dia melihat kantong martabak yang masih di meja.

Dia membuka kantongnya. Martabak cokelat-keju. Masih hangat.

Dia mengambil satu potong kecil. Dia menggigit.

Manis. Lemak susu. Cokelat yang meleleh di langit-langit mulutnya.

Dia mengunyah pelan. Habis satu potong. Lalu satu potong lagi.

Dia menutup kantongnya. Dia menyimpan martabak di kulkas.

Dia kembali ke kamar. Dia berbaring di sisi kanan tempat tidur.

Bayu masih tidur. Napasnya teratur.

Sinta menutup mata. Kali ini dia tidur.


— Cilincing, 20 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →