← Kembali

Komedi · Cikini · 4 menit

Drama Tunggu Klinik Gigi

Klinik gigi Pak Doni di Cikini buka pukul delapan pagi. Saya datang pukul setengah delapan, mengira saya akan jadi pertama. Saya ketiga.

Yang pertama: bapak-bapak 50-an, terlihat sudah menunggu sejak subuh, membawa kantong plastik berisi obat kumur dan buku tulisan tangan tentang asuransi BPJS. Yang kedua: anak SMA, berseragam, sambil pegang pipi yang bengkak ke kiri. Saya ketiga, urutan biasa-biasa saja.

Klinik Pak Doni sederhana. Empat kursi tunggu plastik biru, satu meja resepsionis dengan komputer dari sekitar tahun 2014, satu kipas angin yang berputar lambat tanpa banyak guna. Resepsionis: perempuan 30-an, tegas, tidak tersenyum tapi juga tidak galak. Namanya Bu Yanti.

Pukul delapan tepat, Pak Doni datang. Mengaminkan dengan cepat. Pelan-pelan turun dari ojek online, sapa Bu Yanti, masuk ke ruangan periksa. Pasien pertama dipanggil.

Saya menunggu. Pikiran saya: ini akan cepat, bapak pertama mungkin cuma tambal gigi, anak SMA cabut gigi belakang, saya yang scaling biasa selesai sebelum jam sepuluh.


Pukul sembilan kurang lima, bapak pertama keluar. Wajahnya merah, jalan pelan, dengan kapas di mulut. Dia ngomong ke Bu Yanti, “Bu, saya bayar dulu ya.”

“Tiga ratus delapan puluh, Pak.”

Bapak itu mengeluarkan dompet. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, “Bu… saya cuma ada dua ratus.”

Bu Yanti tidak terkejut. Mungkin dia sudah hafal pola ini. “Pak, tidak apa-apa. Bayar yang ada. Sisanya bayar lain kali, ya.”

“Saya gak yakin bisa bayar lain kali, Bu.”

“Bu Yanti diam. Pak Doni dari ruangan dalam ngomong, “Sudah, Pak. Bayar dua ratus aja. Sehat-sehat ya.”

Bapak itu mengangguk berulang kali, mengucapkan terima kasih banyak banyak banyak, lalu keluar.

Anak SMA dipanggil masuk.

Saya, di kursi plastik biru, mulai berpikir: dompet saya berisi cukup untuk scaling biasa. Tapi kalau di tengah-tengah Pak Doni temukan masalah lain, akan jadi berapa? Saya cek HP. Saldo m-banking cukup. OK.


Pukul setengah sepuluh, anak SMA keluar. Pipi bengkaknya sekarang dengan kapas tambahan. Dia bayar pakai QRIS, lima ratus dua puluh ribu. Cabut gigi geraham. Dia pergi tanpa banyak omong.

Saya dipanggil masuk.

Pak Doni: 60-an, kacamata baca tergantung di leher, senyum kecil. “Mas, scaling rutin?”

“Iya, Pak.”

“Kapan terakhir?”

“Setahun lalu, Pak.”

“Sudah lama. Yuk.”

Saya duduk di kursi pasien yang sudah agak miring engselnya. Pak Doni mulai. Suara alat scaling, getar kecil di gigi, satu jam yang biasa-biasa saja. Tidak ada drama.

Selesai. Saya berdiri. Pak Doni tersenyum: “Bagus, Mas. Sehat. Bayar di depan ya.”


Bu Yanti di meja resepsionis. “Mas, tiga ratus.”

Saya keluarkan empat ratus. “Bu, kembaliannya untuk bapak yang tadi. Yang kurang dua ratus.”

Bu Yanti memandang saya beberapa detik. Lalu, “Bapak yang tadi sudah pulang, Mas.”

“Saya tahu, Bu. Anggap saja kalau dia balik lagi, sudah lunas.”

Bu Yanti diam. Pak Doni dari ruangan dalam berkata, “Bu Yanti, terima saja. Catat di buku saya.”

Bu Yanti menerima uang saya. Memberi saya kuitansi tiga ratus. Saya pergi.


Di luar klinik, di trotoar Cikini, saya berdiri sebentar sebelum naik Gojek. Saya bukan orang yang biasanya sumbang ke orang asing. Saya bahkan tidak yakin kenapa saya melakukan itu tadi.

Mungkin karena bapak itu jalan pelan dengan kapas di mulutnya, dan saya tahu pulangnya dia masih harus naik angkot dua kali. Mungkin karena Pak Doni dan Bu Yanti yang menerima permintaannya tanpa drama. Mungkin karena dompet saya kebetulan punya empat ratus tunai.

Atau mungkin karena saya tahu, suatu hari nanti, saya akan jadi bapak yang masuk klinik dengan dompet tipis dan kapas di mulut. Saya hanya berharap, saat itu tiba, ada orang asing di kursi plastik biru yang punya empat ratus tunai dan tidak yakin kenapa dia mau melakukannya juga.

Saya naik Gojek. Driver bertanya, “Habis cabut gigi, Mas?”

“Cuma scaling, Bang.”

“Saya hari Senin mau cabut. Habis berapa kira-kira, Mas?”

“Lima ratus an. Tapi kalau di Pak Doni Cikini, mungkin tiga ratus. Tarif sosial.”

Driver mengangguk. Kami berjalan ke arah kantor saya.


— Cikini, 1 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →