← Kembali

Politik · Cipayung · 3 menit

Saksi TPS Bayaran

Pukul enam pagi, Yudi datang ke TPS 14 Cipayung. Dia memakai kemeja biru tua, celana hitam, sepatu pantofel yang sudah retak di tumit. Di tangan kanannya: satu map plastik berisi surat tugas dari Pak Burhan, caleg dapil tujuh.

Di saku belakang celananya: satu amplop coklat. Isinya 150 ribu rupiah. Tiga lembar 50 ribuan. Pak Burhan yang menyerahkan langsung kemarin sore di rumahnya.

“Yudi, lo jagain TPS 14 ya. Lihat aja proses penghitungan. Catat. Lapor gw kalau ada apa-apa.”

“Iya, Pak.”

“Ini untuk lo. Sarapan, makan siang, makan malam. Cukup ya.”

Yudi menerima amplop itu dengan dua tangan.


TPS 14 dibuka pukul tujuh. Pemilih mulai datang. Sebagian besar warga lansia — bapak-ibu yang antri sejak setengah tujuh karena takut kehabisan. Yudi duduk di kursi saksi, di pojok belakang, di samping saksi caleg lain dari partai sebelah.

Saksi sebelahnya, perempuan 30-an, namanya Bu Ratna. Dia ditugaskan caleg yang berbeda. Mereka tidak banyak bicara. Hanya bertukar nama dan kemudian fokus ke surat suara yang keluar dari bilik.

Pukul setengah dua belas, antrian mulai surut. Yudi makan nasi bungkus yang disiapkan KPPS — gratis untuk saksi, satu bungkus per orang. Telur dadar, sambal, tempe. Dia tidak menggunakan uang dari amplop.


Pukul satu siang, TPS ditutup. Penghitungan dimulai.

Ketua KPPS — Pak Burhanudin, 50-an, guru SMA — membuka kotak suara. Dia mengeluarkan surat suara satu per satu. Dia membacanya keras. Saksi mencatat di buku tabel masing-masing.

“Burhan, partai tujuh!”

Yudi mencatat satu garis.

“Susanto, partai dua!”

Bu Ratna mencatat satu garis.

“Burhan, partai tujuh!”

Yudi mencatat lagi.

Begitu seterusnya. Selama empat jam. Sampai pukul lima sore, hasil sementara: Pak Burhan dapat 47 suara. Pak Susanto dapat 39. Caleg lain 80-an, terbagi-bagi.

Pak Burhan menang di TPS 14.


Pukul tujuh malam, formulir C1 ditandatangani oleh semua saksi. Yudi menandatangani dengan pulpen sendiri, yang dia bawa dari rumah. Bu Ratna ikut menandatangani. Mereka berdua tidak mengajukan keberatan apa pun.

Yudi menyimpan salinan C1 di mapnya.

Pukul sembilan malam, dia pulang. Naik ojek Maxim ke rumahnya di Pondok Ranggon. Ongkos 18 ribu. Dia bayar dengan uangnya sendiri.

Di rumah, istrinya, Wati, sudah tidur. Anaknya yang umur empat sudah tidur. Yudi duduk di ruang tamu, membuka mapnya, menatap C1 yang baru dia tandatangani.

Dia mengeluarkan amplop coklat dari saku belakang. Amplop itu masih tertutup. Lemnya masih kering.

Dia membukanya. Tiga lembar 50 ribuan masih lengkap.


Esoknya, dia datang ke rumah Pak Burhan. Pak Burhan baru bangun, masih pakai sarung.

“Yudi, gimana semalam?”

“Pak Burhan menang TPS 14. 47 suara.”

Pak Burhan tersenyum. “Bagus.”

Yudi mengeluarkan amplop dari saku. Dia meletakkannya di meja Pak Burhan. “Pak, ini saya kembalikan. Saya gak pakai.”

Pak Burhan menatap amplop itu, lalu menatap Yudi.

“Lo gak butuh, Yud?”

“Saya butuh, Pak. Tapi kalau saya pakai, nanti saya ragu sendiri C1 yang saya tandatangani.”

Pak Burhan terdiam. Lalu dia mengangguk pelan. “Ya sudah.”

Yudi tidak menjelaskan lebih. Dia pamit. Dia naik ojek pulang.

Di rumah, dia menyimpan C1 di laci, di bawah ijazah SMA-nya. Dia duduk di teras. Wati membawakannya kopi.

“Bang, kerjaan kemarin lancar?”

“Lancar, Wat.”

Wati duduk di sampingnya. Mereka minum kopi tubruk pelan-pelan, sampai matahari naik penuh.


— Cipayung, 4 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →