← Kembali

Komedi · Pondok Bambu · 3 menit

Tetangga Aerobik Subuh

Pukul empat lewat empat puluh lima, Pondok Bambu, kompleks RW 06. Belum subuh. Adzan masih lima belas menit lagi. Burung-burung belum bunyi.

Bu Endang, 54 tahun, sudah pakai legging hitam dan kaos pink bertuliskan “I Heart Aerobic.” Rambut ikat ekor kuda. Di teras rumahnya, dia menyalakan speaker JBL Bluetooth yang dia beli online tahun lalu — Rp 480 ribu, kado dari anaknya.

Dia membuka Spotify. Playlist namanya “Senam Pagi Bu Endang.”

Lagu pertama: “Aerobic Mix Vol. 3” — track yang sama dengan yang dia ikuti di Sasana Tirta tahun 1998. Volume: maksimal.


Pak Sutejo, tetangga sebelah, terbangun dari tidur lima belas menit lebih awal dari biasanya. Dia tidur lagi. Tidak bisa. Dia turun ke dapur. Dia menyalakan teko. Dia melihat keluar jendela.

Bu Endang sudah grapevine. Tangan ke atas, ke samping, ke atas, ke samping.

Pak Sutejo membuka WA. Dia kirim ke grup RT 03.

Pagi semua. Bu Endang aerobik lagi. Pukul 04.45.

Bu Lila, tetangga di gang sebelah, langsung balas.

Kompak. Setahun ini terus.

Pak Hendra: Saya udah lapor RT minggu lalu. Katanya beliau yang lapor langsung.


Pak Wahyudi, ketua RT 03, bangun jam empat lewat lima puluh karena notifikasi WA. Dia pakai sarung. Dia jalan keluar rumah, ke teras Bu Endang.

“Bu Endang.”

“Pak RT. Ikut senam?”

“Bu, ini masih pukul lima kurang.”

“Iya, biasanya saya mulai pukul lima. Hari ini saya curi start. Sehat-sehat.”

“Bu, tetangga ngeluh.”

Bu Endang mengangguk. Dia tetap grapevine. “Pak RT, dokter saya bilang kolesterol saya 280. Saya nggak mau minum obat seumur hidup. Pilihan saya: senam, atau wafat dini. Tetangga pilih yang mana?”

Pak RT diam tiga detik. “Bu, volumenya.”

“Volumenya saya turunin sedikit.”


Bu Endang menggeser slider Bluetooth-nya dua kali. Volume turun dari maksimal ke sembilan puluh persen. Dia melanjutkan grapevine.

Pak RT pulang. Lima rumah ke kanan, dia mampir ke rumah Pak Sutejo.

“Pak Sut, Bu Endang turunin volumenya.”

“Saya masih dengar suara musiknya, Pak RT.”

“Iya. Tapi sudah lebih kecil.”

“Pak, ini Aerobic Mix Vol. 3. Lagu yang sama selama setahun setiap pagi.”

“Iya.”

“Saya hafal.”

“Iya, saya juga hafal.”


Pukul lima lewat sepuluh, adzan subuh berkumandang dari masjid di ujung gang. Bu Endang mematikan speaker. Dia masuk rumah untuk salat. Lalu dia keluar lagi.

Pukul lima lewat tiga puluh, dia menyalakan speaker lagi. Lagu kedua di playlist: “Tarian Kupu-Kupu.” Versi remix yang lebih cepat.

Volume: kembali maksimal.

Pak Sutejo melihat dari jendela dapurnya. Dia menyeduh kopi tubruk yang dia siapkan dari subuh. Dia menyeruput. Dia menatap istrinya yang baru bangun.

“Bu Endang udah masuk lagu kedua, Pak?”

“Iya.”

Istrinya mengangguk. Dia ke dapur untuk mulai masak.


Pukul enam pagi, Bu Endang selesai. Dia mematikan speaker. Dia masuk rumah. Dia mandi.

Pak Sutejo keluar rumah pukul setengah tujuh untuk ke kantor. Bu Endang sudah pakai daster lagi, duduk di teras, minum teh hangat.

“Pak Sut, pagi.”

“Pagi, Bu Endang.”

“Ke kantor?”

“Iya.”

“Hati-hati ya.”

Pak Sutejo mengangguk. Dia jalan ke garasi. Mobilnya — Avanza coklat — sudah siap. Dia menyalakan mesin. Dia keluar dari pagar.

Di Jalan Pahlawan Revolusi, dia menyalakan radio. Suara penyiar pagi. Dia mengganti channel. Pop tahun 2000-an. Dia mengganti channel lagi. Berita.

Dia memutuskan radio. Dia diam sampai kantor.

Pukul empat lewat empat puluh lima besok, dia tahu pasti, Bu Endang akan menyalakan speaker lagi.


— Pondok Bambu, 2 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →