Kantin Pabrik Dua Puluh Lima Tahun
27 Agustus 2026 · 512 kata
Warso masih ingat meja itu. Pojok kiri, dekat kipas angin gantung yang satu bilahnya bengkok sejak entah kapan. Tahun 2001, dia masuk sebagai karyawan baru di bagian pencelupan. Hari pertama makan siang, dia tidak tahu aturan tidak tertulis kantin — meja mana milik mandor, meja mana milik bagian finishing, meja mana yang aman untuk orang baru.
Dia duduk di pojok kiri.
Perempuan yang sudah duduk di sana mengangkat kepala. “Kamu juga baru?”
Namanya Lilis. Bagian administrasi gudang. Juga hari pertamanya.
Mereka makan siang bersama karena tidak ada pilihan yang lebih mudah dari itu.
Sekarang Agustus 2026. Warso 53 tahun, Lilis 51. Anak pertama mereka sudah kerja di Serpong. Anak kedua baru masuk SMA di Cipondoh. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang sudah mereka beli tahun 2009 di Jatiuwung, jalan masuknya sempit, got di depan suka mampet kalau hujan lebat.
Pabrik Nusatama sudah berganti nama dua kali, berganti manajemen sekali, sempat mau tutup tahun 2015 lalu diselamatkan oleh investor baru dari Surabaya. Kantin direnovasi tahun 2018 — keramik diganti, cat diperbarui, ditambah dua kipas angin baru di sisi kanan. Tapi kipas angin di pojok kiri yang bilahnya bengkok itu tidak pernah diganti. Entah karena tidak ada yang ingat, atau karena tidak ada yang mau repot.
Warso dan Lilis masih duduk di meja pojok kiri.
Pagi itu Lilis memesan nasi pecel dengan tahu goreng. Warso memesan nasi dengan tempe orek dan telur dadar. Sudah dua puluh tahun lebih pesanan mereka hampir tidak berubah — Lilis sesekali beralih ke soto, Warso kadang minta ayam kalau dapat rezeki lebih.
“Minggu depan ada pertemuan wali murid Dani,” kata Lilis.
“Sabtu atau Minggu?”
“Sabtu. Kamu bisa?”
“Bisa.”
Warso menyeruput teh manis panas dari gelas plastik. Di meja sebelah, dua anak magang dari SMK sedang scroll HP sambil makan. Salah satu dari mereka tertawa, lalu menutup mulut.
Lilis memandangi dua anak itu sebentar. “Kamu ingat waktu kita pertama kali duduk di sini?”
“Kamu pakai seragam kebesaran. Lengannya dilipat.”
“Kamu pakai sepatu yang kegedean. Bunyi ‘kletek-kletek’ di lantai.”
“Pinjam punya kakak.”
Lilis tersenyum ke arah piringnya. Bukan senyum yang lebar — lebih seperti sudut bibir yang naik sedikit, ekspresi yang hanya muncul kalau dia benar-benar tidak sedang berusaha.
Warso tahu senyum itu.
Di luar kantin, klakson forklift berbunyi dua kali. Tanda shift siang mau masuk. Mereka menghabiskan makan siang.
Kipas angin di pojok kiri berputar. Bilah yang bengkok itu mengeluarkan suara gesekan kecil, ritmis, seperti jam yang jalannya sedikit tidak sempurna tapi tidak pernah berhenti.