← Kembali

Romansa · Menteng · 3 menit

Kawin Beda Kelas

Lintang menyetir Pajero Sport hitam. Riko duduk di kursi penumpang. Di antara mereka, di kursi tengah, satu kotak kayu — isinya cincin yang Riko cicil enam bulan dari Frank & co.

Mereka masuk ke Jalan Diponegoro, Menteng. Pagar rumah Lintang setinggi tiga meter. Satpam buka pintu. Lintang melambai. Pajero masuk.

Riko belum pernah ke rumah Lintang sebelumnya. Mereka sudah pacaran dua tahun, semua di luar — kafe di Senopati, bioskop CGV, kos Riko di Tebet.

Lintang parkir di samping Range Rover.

“Mas,” Lintang berkata sebelum mereka turun. “Bapak bakal nanya banyak.”

“Iya.”

“Jujur aja. Jangan dilebih-lebihin.”

“Iya.”


Ayah Lintang menerima mereka di ruang tamu. Sofa Italia. Lukisan Affandi di dinding — Riko mengenali dari kuliah seni rupanya semester satu. Pak Bagaskara, ayah Lintang, mengenakan polo Lacoste hitam dan jam Audemars Piguet yang Riko hanya pernah lihat di YouTube.

Ibu Lintang membawa kopi. Bukan kopi sachet. Kopi yang baru diseduh dari mesin espresso di dapur.

“Riko, ya?” Pak Bagaskara membuka.

“Iya, Om.”

“Kerja di mana?”

“Saya freelance, Om. Desain grafis.”

“Hmm.” Pak Bagaskara mengangguk pelan. “Income per bulan berapa?”

Riko terdiam dua detik. Lintang menggenggam tangannya di bawah meja.

“Variabel, Om. Antara lima sampai lima belas juta.”

“Sebulan?”

“Iya.”

Pak Bagaskara mengangguk lagi. “Tinggal di mana?”

“Kos di Tebet. Tebet Timur.”

“Plat mobilnya berapa?”

“Saya nggak punya mobil, Om. Motor. Honda Vario.”


Ibu Lintang menyela. “Pak, sudah dulu pertanyaannya. Anak-anak baru sampai.”

Pak Bagaskara mengangkat tangannya. Diam. Dia menyeruput kopi.

“Riko,” dia mulai lagi, lebih pelan, “Lintang anak saya satu-satunya. Saya tidak menentang siapa pun. Saya hanya nanya supaya jelas.”

“Iya, Om.”

“Lintang sudah cerita sama saya, kalian mau lamaran.”

Riko membuka kotak kayu di tangannya. Cincin platinum sederhana. Tidak ada berlian. Dia tidak bisa beli yang ada berliannya.

Pak Bagaskara melihat cincin itu. Dia melihat Lintang. Dia melihat Riko lagi.

“Anak saya tidak akan dapat warisan kalau dia ke luar dari rumah ini. Itu sudah saya bilang sama Lintang sejak dia 17 tahun. Bukan ancaman. Aturan keluarga.”

Riko mengangguk.

“Lintang, kamu sudah tahu ini?” Pak Bagaskara bertanya ke anaknya.

“Sudah, Pak.”

“Kamu sudah mikir?”

“Sudah, Pak.”

Pak Bagaskara diam dua puluh detik. Ibu Lintang menatap suaminya. Riko menatap karpet — Persia, mahal, motif yang Riko tidak bisa namai.


“Ya sudah,” Pak Bagaskara akhirnya berkata. “Saya tidak halangi. Tapi saya juga tidak bantu. Kalau Lintang pindah dari rumah ini, dia pindah dengan koper yang dia bawa sendiri. Mobil ini bukan mobilnya — itu mobil saya yang dia pakai. Kartu kredit saya yang dia pegang, akan saya tutup besok.”

Lintang mengangguk.

“Saya tetap ayahmu,” kata Pak Bagaskara. “Saya akan tetap ada kalau kamu kenapa-kenapa. Tapi finansial, kamu mandiri mulai dari hari kalian menikah.”

“Iya, Pak.”


Pukul setengah delapan malam, Riko dan Lintang keluar rumah. Lintang menyerahkan kunci Pajero ke satpam. Mereka jalan keluar pagar.

Di Jalan Diponegoro, mereka menunggu ojol. Lintang masih pakai dress, sepatu hak tinggi. Dia memegang tangan Riko.

“Sals,” kata Riko — dia salah panggil, tapi tidak diralat. “Lintang, maksud gw.”

“Iya?”

“Lo yakin?”

Lintang menatap pagar tiga meter di belakangnya. Dia menatap Riko. Dia mengangguk satu kali.

Ojol datang. Yamaha Lexi merah. Lintang naik di belakang Riko. Helm pinjaman.

Mereka jalan ke Tebet. Empat puluh menit lewat jam pulang kantor. Lintang memegang pinggang Riko sepanjang jalan. Dia tidak melepaskan satu kali pun.


— Menteng, 28 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Romansa →