← Kembali

Politik · Sudirman · 3 menit

Reklame LED Capres di Sudirman

Pukul setengah delapan malam, mobil Bagas berhenti di jalur tengah Sudirman, depan Plaza BII. Macet total. Lampu merah di Dukuh Atas. Antrian sampai Sarinah.

Bagas mematikan mesin. AC tetap nyala karena suhu di luar 31 derajat. Dia membuka WA. Tiga grup kerjaan, satu grup keluarga, satu grup arisan kontrakan istrinya.

Di atas mobilnya, di gedung Allianz Tower yang berdiri di sisi kanan jalan, reklame LED ukuran 30 meter menyala.

Lima detik: wajah Capres A. Tersenyum lebar. Slogan: Indonesia Lebih Baik.

Lima detik: wajah Capres B. Tersenyum lebar. Slogan: Kuatkan Bangsa.

Lima detik: iklan minuman isotonik.

Lima detik: Capres A lagi.


Bagas memandang LED itu selama dua menit penuh. Bukan karena tertarik. Karena macet, dan layar itu satu-satunya yang bergerak di pemandangannya.

Capres A tersenyum lagi.

Bagas menelepon istrinya. Mira angkat di dering pertama.

“Bang, sampai mana?”

“Macet Sudirman, Mi.”

“Yaudah. Adek udah tidur. Aku siapin makan.”

“Mi, jangan disiapin. Aku gak laper.”

“Kenapa?”

“Capek.”

Mira tidak menjawab langsung. Lalu, “Yaudah Bang, hati-hati.”

Bagas menutup telepon.


LED-nya berganti ke Capres B. Tersenyum. Slogan baru. Kuatkan Bangsa.

Bagas menatap. Dia memikirkan: kapan Capres A dan Capres B macet di Sudirman seperti ini? Mereka punya pengawalan. Mereka bisa pakai jalur khusus, atau mereka tidak ada di Sudirman pada jam ini sama sekali, karena di Sudirman pukul setengah delapan malam hanya ada orang seperti Bagas yang baru pulang dari kantor lantai 22.

Capres A muncul lagi.

Bagas membuka radio. Frekuensi 87.6 FM. Berita malam. Pembawa berita membaca update dari kampanye capres. Kunjungan ke Surabaya. Kunjungan ke Makassar. Kunjungan ke Bali.

Tidak ada kunjungan ke Sudirman. Sudirman bukan tempat kampanye. Sudirman tempat baliho, layar LED, dan macet.


Pukul setengah sembilan, mobil mulai bergerak. Bagas mematikan radio. Dia maju sepuluh meter. Berhenti lagi.

Pengemudi ojol di sebelah kirinya, motor matic warna biru, terlihat sedang menyeruput minuman botol — Pocari, biru. Driver itu menatap LED juga.

Lima detik Capres A. Lima detik Capres B. Lima detik iklan motor listrik.

Driver itu melirik Bagas. Mereka bertukar pandang lima detik. Bagas mengangguk kecil. Driver itu mengangguk balik.

Tidak ada yang dibilang. Tapi keduanya tahu mereka memikirkan hal yang sama: kapan ini akan jalan?


Pukul sembilan kurang sepuluh, Bagas sampai di Dukuh Atas. Dia belok kanan ke Cawang via tol dalkot. Lalu lintas mulai mengencang.

LED Sudirman menghilang di kaca spion.

Bagas menyalakan musik dari Spotify. Album lama Iwan Fals — Bento. Dia ikut menyanyi pelan-pelan tanpa benar-benar sadar.

Pukul setengah sepuluh, dia masuk pintu kontrakannya di Cawang Atas. Mira sudah tidur di sofa, menunggu, dengan Netflix masih nyala. Adek tidur di kamar.

Bagas mematikan TV. Dia menyelimuti Mira dengan jaket yang dia bawa dari mobil. Dia masuk ke kamar mandi.


Di kamar mandi, dia mencuci muka. Air dingin. Dia menatap cermin. Wajahnya — bukan wajah capres, bukan wajah yang ada di LED 30 meter. Hanya wajahnya. 33 tahun, lingkar mata gelap, jenggot tumbuh sebagian.

Dia mengeringkan muka. Dia masuk ke kamar tidur. Dia tidak menyalakan lampu.

Adek bernafas pelan di boks-nya. Bagas duduk di pinggir tempat tidur, memandang anaknya tidur, selama dua menit, sebelum dia sendiri merebahkan badan.


— Sudirman, 8 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →