← Kembali

Politik · Pegangsaan · 3 menit

Janji Pavement RT 03

Pak Karto, ketua RT 03 Pegangsaan, menyimpan amplop coklat di laci meja kerjanya sejak tiga tahun lalu. Di dalam amplop: satu surat bermaterai 6.000, tanda tangan Pak Darmadi, janji pengaspalan dan paving block gang sepanjang 120 meter.

Tiga tahun. Gang RT 03 masih tanah merah yang berubah jadi lumpur kalau hujan, debu kalau panas.

Pak Darmadi sekarang sudah dilantik jadi anggota dewan. Sudah dua kali Pak Karto coba telepon. Nomor diangkat staffer. “Pak Darmadi lagi sidang, Pak.”


Hari Kamis, Pak Karto mengumpulkan warga di rumah Bu Hartini. Ada sembilan kepala keluarga yang hadir. Yang lain bekerja, atau mengantar anak ke SMP.

“Bapak Ibu, saya tidak punya kabar baru soal paving.”

“Pak Karto, sudah berapa kali kita rapat soal ini?”

“Empat kali, Bu.”

“Lalu kita ngapain rapat lagi?”

Pak Karto tidak menjawab. Dia menyeruput teh manis yang disiapkan Bu Hartini. Teh-nya sudah dingin.

Pak Slamet, tukang ojek pangkalan depan, berbicara. “Pak Karto, kita patungan saja. Sudah cukup nunggu.”

“Patungan berapa, Pak?”

“Hitung. 120 meter kali harga paving block. Saya tanya tukang di Tebet, satu meter persegi sekitar 80 ribu sudah pasang. Lebar gang dua meter. Total mungkin 19 juta.”

“19 juta dibagi 40 KK, sekitar 475 ribu per KK.”

Tidak ada yang langsung menjawab.


Pak Karto pulang malam itu pukul sembilan. Istrinya, Bu Sumi, sudah tidur. Dia duduk di teras, menyalakan rokok Sampoerna.

Dia membuka kembali amplop coklat di laci. Surat dari Pak Darmadi. Tanda tangan tinta hitam. Materai 6.000.

Dia mengingat hari itu, tiga tahun lalu. Pak Darmadi datang dengan dua mobil. Bersalaman dengan semua KK. Foto bersama. Pak Darmadi pidato di rumah Pak RW, bilang dia “anak Pegangsaan”, “tidak akan lupa kampung halaman”.

Pak Karto, waktu itu, percaya. Bukan karena dia naif. Tapi karena Pak Darmadi punya tanda tangan dan materai.

Sekarang Pak Karto tahu: materai 6.000 tidak berarti apa-apa kalau orangnya tidak datang lagi.


Senin pagi, Pak Karto kembali ke pangkalan ojek Pak Slamet. Dia membawa uang 500 ribu dari kas RT.

“Pak Slamet, saya mau patungan.”

Pak Slamet mengangguk. Dia mengeluarkan buku tulis. Dia menulis nama Pak Karto di baris pertama. Karto Wibowo - 500.000.

Hari itu, sepuluh KK lain ikut menulis nama. Total terkumpul: 4,2 juta. Masih jauh dari 19 juta.

“Sebulan lagi kita kumpul lagi, Pak Karto. Kalau cukup, kita pasang. Kalau enggak, kita tunggu lagi.”


Sore itu, Pak Karto kembali ke rumah. Bu Sumi sudah pulang dari pasar, sedang menggoreng tempe.

“Pak, ada kabar dari Pak Darmadi?”

“Belum, Bu.”

“Tadi saya lihat di TV, dia ngomong soal infrastruktur. Katanya akan bangun jembatan di Jatinegara.”

Pak Karto mengangguk. Dia masuk ke kamar, mengambil amplop coklat dari laci, dan membakarnya di tempat sampah di belakang dapur. Kertas itu hangus dalam lima detik.

Dia kembali ke meja. Dia makan tempe goreng dengan nasi. Bu Sumi tidak bertanya soal amplop.

Di luar, hujan turun. Gang RT 03 mulai berlumpur lagi.


— Pegangsaan, 2 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Politik →