KPPS Subuh di Kebon Jeruk
6 Juni 2026 · 552 kata
Pukul tiga subuh, Pak Hambari menyalakan kompor di dapur. Dia merebus air untuk kopi. Dia menyetrika kemeja putih lengan panjang di ruang tamu. Istrinya, Bu Iyah, masih tidur.
Hari ini pemilu. Pak Hambari ketua KPPS TPS 22 Kebon Jeruk, di SD Negeri 03 pagi, jalan Kebon Jeruk Raya samping warung Pak Asep.
Honor satu juta dua ratus ribu. Sudah dia hitung di kepala. Untuk kacamata baca Bu Iyah, yang sudah retak sejak tiga bulan lalu.
Pukul setengah lima, Pak Hambari berangkat. Dia jalan kaki — TPS jarak tiga menit dari rumahnya. Di tangan kanannya: tas selempang berisi pulpen, kalkulator kecil, dan termos kopi.
Di SD Negeri 03, sudah ada empat anggota KPPS lain. Bu Marni, Pak Joko, Mas Edi, dan Mbak Sari — yang paling muda, mahasiswa semester akhir.
Mereka mulai setting TPS. Meja-meja dijejer. Bilik-bilik suara — empat unit kardus dengan tirai biru — diatur di depan. Kotak suara kosong diletakkan di samping meja ketua. Daftar pemilih ditempel di papan tulis.
Pukul setengah enam, segalanya siap.
Pukul tujuh, pintu dibuka. Antrian sudah panjang sejak pukul enam. Sebagian besar lansia. Pak Hambari menyapa setiap pemilih dengan satu kalimat: “Selamat pagi, Bu/Pak. Silakan ke meja registrasi.”
Bu Tatik, 70-an, datang dengan tongkat. Pak Hambari memegang lengannya, membantunya ke bilik. Bu Tatik mencoblos. Dia memasukkan surat suara ke kotak. Pak Hambari mencelupkan jari kelingkingnya ke tinta ungu.
“Pak Hambari, ini siapa yang menang?”
“Ibu, belum dihitung.”
“Saya pilih yang nomor satu.”
“Iya, Bu. Itu rahasia Ibu sendiri.”
Bu Tatik tertawa kecil. Pak Hambari membantunya keluar.
Pukul satu siang, TPS ditutup. 312 dari 350 pemilih datang. Penghitungan dimulai.
Mas Edi membaca surat suara. Bu Marni dan Mbak Sari mencatat di papan tulis. Pak Joko memvalidasi. Pak Hambari mengawasi.
Surat suara 14: tidak sah. Dicoblos dua kali di partai berbeda.
Surat suara 27: tidak sah. Dicoblos di garis tepi.
Surat suara 89: sah. Caleg nomor urut 5, partai biru.
Begitu seterusnya. Pukul tujuh malam, penghitungan presiden selesai. Pukul sepuluh malam, DPR RI selesai. Pukul dua belas tengah malam, DPRD provinsi selesai.
Saksi-saksi caleg menandatangani C1 satu per satu. Tidak ada keberatan.
Pak Hambari menutup laptop laporan elektronik. Dia mengirim hasilnya ke server KPU lewat aplikasi Sirekap.
Pukul satu pagi, Pak Hambari pulang. Di tangan kanannya: amplop coklat berisi honor satu juta dua ratus ribu.
Bu Iyah masih bangun. Lampu teras menyala.
“Pak, gimana?”
“Lancar, Bu.”
Bu Iyah menyiapkan teh hangat. Pak Hambari duduk di kursi rotan. Dia menaruh amplop di meja.
“Ini, Bu. Untuk kacamata Ibu.”
Bu Iyah tidak langsung mengambil. Dia menatap Pak Hambari. “Pak, gak usah. Ini untuk kebutuhan Bapak.”
“Bu, ini emang untuk kacamata. Sudah saya niatkan.”
Bu Iyah mengambil amplop itu pelan. Dia menyimpan di laci buffet.
Pak Hambari minum tehnya. Pahit-manis. Pas.
Pukul setengah dua, dia masuk kamar. Dia tidur tanpa mengganti baju. Kemeja putih yang dia setrika sendiri pagi tadi sudah bau keringat dan tinta.
Bu Iyah memberinya selimut. Lampu kamar dimatikan.
Pak Hambari tidur. Pemilu lima tahunan, selesai untuk dia.