← Kembali

Satire · Kemang · 3 menit

Kafe Specialty di Daerah Banjir

Hujan deras sejak pukul lima subuh. Kemang Selatan 1, gang ke arah Bangka, sudah tergenang sepuluh sentimeter. Pukul setengah delapan, gang dua nomor di belakang Kafe Earthen sudah tiga puluh sentimeter.

Kafe Earthen — concept “slow coffee, sustainable practice” — tetap buka pukul tujuh pagi. Plataran kafe berada di area yang sedikit tinggi, jadi airnya belum masuk. Tapi penjual sayur keliling yang biasa lewat depan kafe — Bu Sari — hari ini tidak lewat. Becak yang biasa stand di depan — kosong.

Barista, Mas Reza, 24 tahun, datang dengan sepatu Hunter karet pinjaman dari teman. Dia jalan dari Bangka dengan kaki naik turun banjir.


Pelanggan pertama: Mbak Karin, 27 tahun, lifestyle vlogger. Datang dengan ojol — Yamaha Lexi — yang akhirnya berhenti di depan kafe karena tidak bisa lewat banjir di tikungan. Dia turun, lompat dua langkah, dan sampai ke teras kafe dengan sepatu Adidas Samba putihnya basah sepuluh sentimeter di bawah.

“Mas, V60 Gesha, satu.”

“Iced atau hot?”

“Hot. Tujuh puluh lima ribu kan?”

“Iya.”

Mbak Karin bayar dengan QRIS. Dia duduk di meja samping jendela. Dia buka iPad — Pro 12.9 inch — dan mulai syuting story Instagram.


Story pertama: kopinya, ditata di meja dengan saucer kayu. Caption: “Hujan deras, kopi spesialti. Mood-nya tepat hari ini.”

Story kedua: pemandangan dari jendela kafe — gang Kemang Selatan yang tergenang setinggi 30 cm. Caption: “Jakarta rain mode. Cozy.” Sticker: tetes hujan. Lokasi: Kemang.

Mbak Karin tidak memotret rumah tetangga di gang — yang sudah berdiri tukar-tukar barang ke lantai dua karena air masuk ke ruang tamu mereka. Itu di luar frame.


Pelanggan kedua datang sepuluh menit kemudian. Mas Renzo, 30-an, designer freelance, pakai jaket coach baru dari uniqlo, sneakers Nike Cortez krem. Dia juga turun dari ojol di tikungan, jalan tiga langkah ke kafe.

“Mas, cold brew. Sama croissant almond.”

“Lima puluh delapan ribu.”

Mas Renzo bayar QRIS. Dia duduk di seberang Mbak Karin. Mereka tidak kenal, hanya bertukar senyum sopan.

Mas Renzo buka MacBook Air M3. Dia membuka Figma. Dia mulai mengerjakan deck pitch yang due jam sebelas — yang ironisnya, dia kerjain untuk klien yang minta materi tentang “iklan layanan masyarakat untuk kesadaran lingkungan.”


Pukul setengah sembilan, hujan masih deras. Mas Reza, barista, melihat keluar jendela. Banjir di gang naik dua sentimeter dari setengah jam yang lalu.

Dia berkata, pelan, ke pemilik kafe yang baru datang — Mbak Vania, 32 tahun, founder kafe Earthen. “Mbak, banjir naik.”

“Iya. Tapi air sampai sini masih aman?”

“Sejauh ini iya. Tapi kalau hujan terus, mungkin masuk pukul sebelas.”

“Yauda, tetep buka. Pelanggan tetep ada.”


Pukul sembilan, tiga pelanggan lagi datang. Total enam orang sekarang di kafe. Empat dari enam pelanggan motret kopinya, view jendela, dan caption tentang “Jakarta rain mood.” Dua dari empat itu tag lokasi: Kemang.

Tidak ada yang motret orang tetangga di gang yang sedang mengangkat sofa ke lantai dua. Tidak ada yang motret bayi yang dipangku ibunya, naik ke kursi plastik di tengah rumahnya yang sudah tergenang.


Pukul sepuluh, salah satu tetangga gang — Pak Hasan, 50-an, tukang ojek — keluar dari rumahnya, melewati banjir, dan datang ke teras kafe.

“Mbak, boleh nampang sebentar?”

Mbak Vania menatap Pak Hasan. Sepatu Hunter Pak Hasan basah. Celananya gulung sampai lutut. Air di kakinya sampai betis.

“Iya, Pak. Silakan.”

Pak Hasan duduk di teras. Dia tidak pesan apa-apa. Dia mengeluarkan rokok kretek, menyalakan, merokok pelan.

Mbak Vania jalan ke barista. “Reza, kasih dia segelas air putih ya.”

Mas Reza nyiapkan. Dia keluar, kasih ke Pak Hasan. “Pak.”

Pak Hasan menerima. “Makasih, Mas.”


Pukul setengah sebelas, hujan reda. Air mulai surut. Mbak Karin sudah selesai dua jam syuting di kafe. Dia pulang ke apartemennya di Bangka.

Di Instagram-nya, dia post sembilan story dan satu Reels — semua bertema “rainy day vibes.” Total views Reels: 47.000 dalam dua jam. Komentar terbanyak: “Mbak, kafe-nya di mana? Mau kesana juga.”

Mbak Karin balas: “Earthen Kemang. Cozy banget kan?”


— Kemang, 20 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Satire →