Aplikasi Lomba Tujuhbelas Berbayar
19 Agustus 2026 · 541 kata
Dimas menaruh MacBook Pro-nya di meja pojok Kopi Routine — co-working space di ruko kawasan BSD X, lantai dua, pemandangan ke parkiran Transpark. Dia memesan cold brew, 45 ribu. Dibayar pakai dompet digital perusahaan.
Merdeka App resmi live semalam pukul 23.59.
Dimas membuka dashboard. Total unduhan: 3.412. Cukup untuk press release. Tim mereka sudah menyiapkan tiga variasi judul: “Startup Lokal Modernisasi Lomba 17-an”, “Aplikasi Pertama yang Gamifikasi Kemerdekaan”, “Gen Y Kembali ke Akar Nasionalisme”. Yang terakhir ide Reza, co-founder-nya, yang juga menulis pitch deck dengan kalimat “kami bukan sekadar platform, kami adalah movement”.
Prinsip kerjanya sederhana: warga mendaftar, memasukkan nama RT/RW, lalu mengikuti lomba — balap karung virtual, tarik tambang dengan hitung waktu reaksi jari, makan kerupuk lewat kamera HP. Ada leaderboard nasional. Ada sistem poin. Ada tier: Gratis, Premium 29 ribu per bulan, Family Plan 49 ribu.
Reza masuk kafe pukul sembilan lewat. Dia langsung menaruh HP di meja, layar menghadap atas.
“Twitter,” katanya.
Dimas sudah tahu. Dia sudah baca sejak jam enam pagi, ketika notifikasi mention mulai masuk satu per satu sebelum kemudian berubah menjadi ratusan.
Tweetnya berasal dari seorang guru SD di Bekasi — bukan influencer, bukan wartawan — yang menulis: “Jadi lomba makan kerupuk sekarang harus bayar 29 ribu? Kenapa kita tidak bayar juga untuk bernafas udara Agustus?” Dua ratus ribu tayangan dalam enam jam.
Setelah itu: quote tweet berantai, meme akun @GalakGalak, thread panjang dari akun analisis startup, dan satu artikel opini di portal berita yang judulnya tidak perlu dibaca dua kali untuk dimengerti nada suaranya.
Tim crisis mereka — yaitu Dimas, Reza, dan satu orang junior bernama Tiara yang pagi itu minta izin masuk siang karena “kurang sehat” — duduk di meja yang sama sambil membaca komentar secara bergiliran.
“Kita perlu statement,” kata Tiara lewat pesan WA, terbukti dia tidak benar-benar sakit.
“Statement-nya apa?” balas Reza.
Dimas membuka dokumen Google yang pernah mereka buat bulan Juni, judulnya Crisis Communication Playbook. Dokumen itu berisi empat halaman, tiga di antaranya template dari artikel Medium. Untuk skenario “produk dianggap eksploitatif”, panduan mereka berbunyi: “Akui concern publik. Tunjukkan niat baik. Tawarkan solusi.”
Masalahnya, solusi apa yang logis untuk ini?
Mereka menghabiskan dua jam di meja itu. Cold brew Dimas sudah habis, diganti dengan air putih dari galon co-working yang gratis. Reza memesan croissant, lupa dimakan sampai melempem.
Pukul sebelas, mereka sepakat: tier Premium ditunda, fitur gratis diperluas, dan akan ada donasi 10 ribu per unduhan ke yayasan veteran.
Tiara yang mengetik draft-nya. Reza yang menyunting. Dimas yang menekan tombol publish di akun Twitter @MerdekaApp.
Dua ratus dua belas likes. Tiga ratus empat puluh tiga quote tweet yang isinya bervariasi, tapi mayoritas satu kata: “PR.”
Dimas menutup laptop. Di luar jendela, parkiran Transpark sudah penuh. Seseorang di bawah sana sedang memasang bendera plastik merah putih di spion motornya. Tanpa aplikasi. Tanpa leaderboard.
Dimas memesan cold brew lagi.