← Kembali

Drama · Tanah Abang · 3 menit

Tetangga Meninggal di Kostan

Pak Marwan menjaga Kos Mutiara di Tanah Abang sejak 2008. Delapan belas tahun. Dia tahu setiap penghuni — yang sudah datang, yang sudah pergi, yang masih ada.

Pak Heri, kamar nomor 12, sudah di Kos Mutiara sejak 2019. Tujuh tahun. Pekerja toko grosir di Tanah Abang Blok B. 54 tahun. Bujang. Tidak pernah ada tamu wanita ke kosnya. Sesekali ada teman pria datang, ngobrol di teras, lalu pulang.

Sejak Sabtu, Pak Heri tidak terlihat keluar kamar. Pak Marwan mencatat — biasanya Pak Heri keluar pukul tujuh pagi ke toko grosir, pulang pukul tujuh malam. Selama tiga hari, kamarnya tertutup.


Senin pagi, pukul setengah sebelas, Pak Marwan mengetuk pintu kamar 12.

“Pak Heri, Pak Heri.”

Tidak ada jawaban.

Pak Marwan mencoba HP-nya. Telepon Pak Heri. Tut tut tut. Tidak diangkat. Dia menelepon dua kali. Tidak diangkat.

Pak Marwan kembali ke pintu. Dia mengetuk lebih keras.

“Pak Heri, ini Pak Marwan. Kalau Bapak gak buka, saya dobrak ya.”

Tidak ada jawaban.

Pak Marwan mengeluarkan kunci master dari saku. Dia memutar gagang. Pintu terkunci dari dalam. Kunci master tidak bisa membuka kunci slot — kalau penghuni mengunci dari dalam, hanya bisa didobrak.

Pak Marwan menghela napas. Dia menendang pintu sekali. Kayu pintu retak. Dia menendang lagi. Pintu terbuka.


Di dalam kamar, Pak Heri terbaring di kasur. Pakai kaos putih dan celana pendek hitam. Mata tertutup. Mulut terbuka sedikit.

Bau di kamar belum terlalu kuat. Mungkin AC menyala — Pak Marwan melihat AC kamar masih nyala di 18 derajat. Kamar dingin.

Pak Marwan mendekat. Dia menyentuh tangan Pak Heri. Kaku. Dingin.

Dia menarik tangannya. Dia menelepon Pak Hartono, ketua RT 03, langganannya sejak lama.

“Pak Hartono, Pak Heri di kamar 12 meninggal.”

“Kapan?”

“Saya gak tahu pasti, Pak. Mungkin satu-dua hari. Dia tidak keluar sejak Sabtu.”

“Saya ke sana sekarang.”


Pak Hartono datang sepuluh menit kemudian. Dia ikut masuk ke kamar. Dia melihat Pak Heri. Dia mengangguk pelan.

“Mar, panggil polisi.”

“Iya, Pak.”

Pak Marwan menelepon polsek. Mereka berjanji datang dalam 30 menit.

Pak Hartono mengeluarkan HP-nya. “Saya cari kontak keluarga dulu. Heri ada KTP di mana?”

Pak Marwan membuka laci meja Pak Heri. Dia menemukan KTP. Cirebon. Alamat lengkap di Plumbon. Dia juga menemukan satu foto — Pak Heri muda, mungkin umur 25-an, foto bareng wanita yang sepertinya istrinya, dan satu anak kecil. Foto sudah pudar di sudutnya.

Pak Hartono melihat foto itu. “Mar, lo tahu Pak Heri pernah married?”

“Tidak tahu, Pak. Dia gak pernah cerita.”


Polisi datang pukul setengah dua belas. Olah TKP. Foto-foto. Dugaan awal: sakit. Tidak ada tanda kekerasan, tidak ada surat wasiat di kamar, tidak ada obat-obatan mencurigakan.

Pukul satu siang, jenazah Pak Heri dievakuasi. Diangkut ambulans ke RS Tarakan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pukul setengah dua, Pak Hartono berhasil menghubungi adik kandung Pak Heri di Cirebon. Pak Heri masih punya adik perempuan. Adiknya tidak tahu Pak Heri sakit. Mereka terakhir kontak Lebaran tahun lalu.


Sore itu, Pak Marwan duduk di pos jaga depan kos. Kamar 12 sudah disegel polisi sementara. Penghuni kos yang lain — total 14 orang — sebagian sudah dengar kabar. Beberapa lewat di teras, melihat ke arah kamar 12, lalu ke arah Pak Marwan.

Bu Sulastri, kamar nomor 5, mendekati Pak Marwan.

“Pak Marwan, Pak Heri sebatang kara ya?”

“Sepertinya begitu, Bu.”

Bu Sulastri mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali ke kamarnya.

Pak Marwan menatap pintu kamar 12 yang sekarang ditempeli garis polisi kuning. Dia menyalakan rokok. Dia merokok satu sampai habis. Lalu satu lagi.


— Tanah Abang, 23 Juni 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Drama →