← Kembali

Komedi · Cinere · 3 menit

Hilang Sandal di Resepsi

Pak Marno, 57 tahun, naik motor Honda Supra ke gedung serbaguna Cinere Mall, pernikahan keponakannya, anak adik istrinya. Sabtu sore. Pukul setengah lima.

Dia pakai batik lengan panjang coklat. Celana hitam. Sandal Swallow merek lokal — kuning-hitam, ukuran 42.

Dia parkir di parkiran motor. Helm dia titip di pos satpam.


Resepsi sudah ramai. Salaman ke pengantin. Foto bareng dua kali. Makan di prasmanan: nasi rames, sate ayam, opor. Soto betawi.

Sebelum makan, semua tamu lepas alas kaki di pintu masuk aula. Aulanya berkarpet, tidak boleh pakai sepatu. Pak Marno taruh sandalnya di pojok kanan, di antara puluhan sandal lain — mayoritas Swallow, Sentral, atau yang lain semerek.

Dia makan selama empat puluh menit. Dia ngobrol dengan adik iparnya tentang kondisi sawah di Klaten. Pukul setengah enam, dia pamit.

Di pintu aula, dia mencari sandalnya.

Sandal Swallow kuning-hitam, ukuran 42. Ada lima pasang yang mirip.


Pak Marno melihat satu pasang yang paling mirip dengan punyanya. Dia ambil. Dia pakai.

Sandal kiri terasa pas. Sandal kanan terasa, hmm, sedikit kekecilan.

Dia melihat ke bawah. Kedua sandal di kakinya — kanan dan kanan.

Dua-duanya sandal kanan.

Pak Marno menatap sandal-sandal lain di lantai. Salah satu pasti pasangan dari sandal yang dia pegang. Tapi semua kelihatan mirip. Beberapa sudah luntur, beberapa baru.

Dia berdiri di pintu aula selama dua menit, mencari sandal kiri yang pasangannya cocok. Tidak ada.

Yang punya sandal kiri Pak Marno, sepertinya, sudah pulang lebih dulu — dan dia juga membawa kanan-kanan.


Pak Marno menatap kakinya. Dia mengangkat bahu pelan. Dia jalan keluar dengan kanan-kanan.

Di parkiran, dia bertemu Pak Joko, tetangganya yang juga hadir.

“Mar, kaki kenapa?”

“Kanan-kanan, Pak Jok.”

Pak Joko menatap. “Hilang sandal?”

“Iya. Atau salah ambil.”

Pak Joko menatap kakinya sendiri. “Punyaku juga Swallow.”

Mereka berdua memeriksa kaki Pak Joko. Pak Joko: pasangan lengkap. Pak Marno: kanan-kanan.

“Mar, balik aja ke aula. Cari sandalmu.”

“Sudah saya cari. Yang punya pasangan kiri saya, kayaknya juga udah pulang.”

Pak Joko mengangguk paham. “Yaudah, pulang aja gitu. Toh sebentar.”


Pak Marno naik motor. Mengendarai motor dengan dua sandal kanan ternyata tidak senyaman yang dia kira. Kaki kanan masih pas. Kaki kiri — yang sebenarnya pakai sandal kanan — tersangkut di pijakan motor. Dia harus posisi miring sedikit.

Dia melaju pelan dari Cinere ke rumahnya di Pondok Labu. Lima belas menit. Dia berhenti dua kali untuk membenarkan posisi sandal.

Di lampu merah Pondok Labu, ojol di sebelahnya menatap kakinya.

“Pak, sandalnya kanan-kanan.”

“Iya, Mas. Tadi salah ambil di resepsi.”

Ojolnya tertawa. Pak Marno juga tertawa.

Lampu hijau. Mereka jalan bersama-sama, dua motor, dua kakek yang salah satunya kanan-kanan.


Sampai di rumah, Pak Marno melepas sandal di teras. Dia taruh kanan-kanan di rak.

Istrinya datang dari dapur. “Pak, sandal baru?”

“Bukan, Bu. Salah ambil di resepsi.”

“Yang satunya mana?”

“Hilang. Atau dipakai orang lain.”

Istrinya menatap rak. “Ya udah, simpen aja. Siapa tahu yang ambil sandal Bapak balik.”

“Iya, Bu.”


Sandal kanan-kanan itu masih di rak teras Pak Marno sampai sekarang. Pak Marno tidak buang.

Setiap minggu kalau ada acara di mana Pak Marno harus lepas sandal — ke masjid, ke acara warga, ke resepsi — dia tidak pakai Swallow lagi. Dia beli Bata, model yang ada striping merah di tengah. Susah salah ambil.

Sandal kanan-kanan tetap di rak. Menunggu yang punya pasangan kiri datang dengan kanan-kanan juga.


— Cinere, 5 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →