← Kembali

Satire · Sudirman · 4 menit

PT Janji Manis Sudirman

Hari pertama saya di PT Janji Manis Indonesia — startup fintech di Tower X Sudirman, lantai 34 — dimulai dengan ngenalan ke “family”.

HR Manager, namanya Andini, 30-an, blazer Massimo Dutti yang masih ada tag pricelabel sembunyi di leher belakang (saya lihat saat dia memutar badan). Andini ngomong: “Welcome to our family, ya! Kami di sini bukan cuma kerja, kami growth journey together!”

Saya mengangguk. Saya hapal pola ini. Saya sudah 6 tahun di Jakarta. Saya tahu apa yang harus dijawab.

“Terima kasih, Mbak. Saya excited sekali untuk join the journey.”

Andini tersenyum lebar. Mata-nya yang excited mengarah ke arah saya, tapi saya bisa lihat dia sudah ada di point berikutnya di slide deck onboarding-nya.


“OK, let me give you the tour. Ini desk kamu, OK? Open space — kita semua di sini transparant. No walls. We collaborate seamlessly.”

Desk saya: 60cm × 120cm, dengan monitor 24-inch yang sudah usang, dengan kursi yang engselnya berbunyi setiap kali saya geser. Di kiri saya: Pak Hartono, 45-an, financial analyst senior. Di kanan saya: Mbak Riska, 28-an, UX designer.

Andini lanjut: “Ini Riska, ya. UX. We’re so lucky to have her. She’s our north star untuk UX excellence.”

Riska tersenyum tipis ke arah saya. Saya tersenyum balik. Saya tahu Riska akan jadi orang yang paling normal di sini.

“Dan ini Pak Hartono. Beliau veteran. 8 years dengan kita. Knowledge holder yang amazing.”

Pak Hartono mengangguk pelan. Saya bisa lihat di matanya: dia sudah dengar pidato “knowledge holder” ini dari lima HR Manager berbeda. Dia tetap bekerja di sini karena dua puluh menit lagi dia akan menerima gaji bulanan yang membayar cicilan rumah anak di Bekasi.


“Lunch break kita di pantry. We have free snacks, free coffee. Kita encourage flexible breaks — take a break whenever you need to recharge.”

Saya kemudian tahu: free snacks itu maksudnya semangka dan biskuit kering yang sudah expired bulan lalu. Free coffee maksudnya 3-in-1 sachet yang harganya 800 rupiah di Indomaret. Flexible breaks maksudnya: take a break kalau kamu bisa, tapi kalau ada deadline (selalu ada deadline), break adalah optional.

Andini lanjut ke meeting room: “Ini Vision Room. Brainstorming happens here. Kita encourage out-of-the-box thinking. No bad ideas — only feedback.”

Vision Room adalah ruang kaca dengan whiteboard kosong dan 8 kursi. Di tengah ruang, ada poster motivational: “MOVE FAST AND BREAK THINGS — UNLESS IT’S COMPLIANCE.”


Akhir tour, Andini mengantarkan saya kembali ke desk. “Last but not least — gajimu transfer tanggal 25, OR before public holiday next month, whichever comes first. Insurance setup butuh 30 hari, jadi sabar ya, kita semua nunggu juga first month.”

Saya mengangguk. “Mbak, masalah cuti pulang ke kampung Lebaran?”

“Oh! Of course! Cuti is part of work-life balance. Submit via aplikasi, 7 days minimum advance notice. Manager harus approve. But you know, we work as a family, so kalau ada urgent project, sometimes cuti delayed. Tapi this is rare.”

Saya mengangguk lagi. Saya tahu pola ini juga. “Rare” maksudnya: setiap pengajuan cuti pertama.

Saya: “Saya start kerja minggu ini, dan Lebaran 5 minggu lagi. Saya sudah pesan tiket kereta.”

Andini ekspresi-nya berubah sebentar — yang lucu, dari “excited HR” ke “uh-oh HR” hanya dalam dua detik. Lalu balik ke mode professional: “OK we’ll discuss with your manager. Let’s be flexible. But we encourage being a team player ya.”

“Iya, Mbak.”


Pukul dua siang, di lunch break (yang ternyata cuma 30 menit, bukan flexible apapun), saya makan siang di kantin tower bareng Pak Hartono dan Riska. Mereka tidak ngomong banyak. Saya juga tidak.

Akhirnya Pak Hartono ngomong, tanpa menoleh: “Mas, you’ll learn the rhythm. Tahan dulu enam bulan. Setelah itu, atau ada raise, atau saya kasih tau loker lain yang lebih sehat.”

Riska tersenyum kecil. “Welcome to the family.”

Saya tertawa pelan. Kami melanjutkan makan.

Di luar kaca jendela kantin, gedung Tower Y bersinar dengan logo perusahaan rival. Di depan Tower X, parkir-parkir mobil mewah yang sebagian besar diiringi sopir yang menunggu di luar selama 8 jam. Di klakson tol dalkot di kejauhan, sopir-sopir taksi dan truk pulang dari shift sebelumnya.

Saya, day one di PT Janji Manis Indonesia, sudah tahu: family ini bukan family. Family ini structured group of people yang akan mendukung saya selama saya masih useful, dan akan keep professional distance saat saya pergi.

Itu tidak buruk. Itu hanya yang sebenarnya.

Saya buka aplikasi BCA, cek saldo, cek cicilan KPR yang harus saya bayar bulan depan. Saya simpan HP, pulang ke desk, mulai kerja.


— Sudirman, 29 Mei 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Satire →