Adik Hilang Kontak Sebulan
17 Juni 2026 · 612 kata
Rina membuka WhatsApp Aldi setiap pagi sebelum berangkat kerja. Bertanya satu hal yang sama:
Aldi, kamu di mana?
Dia mengirim pesan itu 31 kali. Setiap pagi. Tidak ada satu pun yang dibalas.
Story IG Aldi tetap update tiap dua-tiga hari. Foto kopi, foto kucing, foto langit Jakarta yang oranye. Tapi lokasinya selalu dimatikan. Caption-nya tidak menjelaskan apa-apa.
Aldi 22 tahun. Adik Rina, satu-satunya. Kuliah di Trisakti, semester enam.
Hari Sabtu, Rina mengambil ojek Grab ke Cawang. Kos terakhir Aldi yang dia tahu — Kos Mawar, gang masuk dari jalan Cawang Atas, lantai dua kamar nomor 8.
Penjaga kos, Pak Aman, duduk di kursi plastik di depan pintu pagar. Sedang merokok.
“Pak, saya kakaknya Aldi. Aldi yang di kamar 8.”
Pak Aman melihat Rina. “Mbak, Aldi sudah pindah tiga minggu lalu.”
Rina menatap Pak Aman. Lima detik. “Pindah ke mana, Pak?”
“Saya gak tahu Mbak. Dia bayar deposit kemarin, ambil barangnya, pamit. Gak ngasih alamat baru.”
“Pak, ada motornya?”
“Motornya sudah dia jual seminggu sebelum pindah. Saya lihat dia ngepak motor dengan orang yang dia bilang temen.”
Rina menarik napas. “Pak, ada teman dia yang sering ke sini?”
Pak Aman menggeleng pelan. “Saya jarang lihat dia bawa temen. Dia lebih sering sendirian. Apalagi belakangan.”
Rina pulang ke kontrakan dia di Cawang Atas — bukan jauh dari kos Aldi, dua belas menit jalan kaki. Dia duduk di sofa. Dia menatap HP.
Dia membuka chat WA Aldi. 31 pesan unread.
Dia menulis pesan ke-32:
Aldi, kakak baru dari kos kamu. Pak Aman bilang kamu udah pindah. Kakak gak marah. Kakak cuma mau tau kamu aman. Balas aja satu kata: aman. Itu cukup.
Dia menatap layar. Last seen Aldi: kemarin pukul 23.47.
Dia menekan send. Status pesan: centang biru tidak muncul. Centang abu-abu satu.
Senin pagi, Rina ke kantor. Dia bekerja di perusahaan e-commerce di Sudirman, customer service supervisor. Hari itu rapat banyak. Dia tidak buka HP sampai jam makan siang.
Saat makan siang, dia buka WA. Centang biru sudah muncul di pesan ke-32. Pukul 11.13.
Aldi membaca. Tidak membalas.
Rina menatap layar HP. Dia menyeruput kopi dingin dari Starbucks yang dia beli pagi tadi. Sudah hambar.
Dia mengetik pesan ke-33:
Aldi, kamu baca. Itu cukup buat kakak.
Dia menekan send. Tidak menunggu jawaban.
Sore itu, Rina pulang lebih awal. Pukul setengah lima dia sudah di kontrakan. Dia membuka kulkas. Tidak ada makanan. Dia memesan ShopeeFood — nasi ayam geprek dari warung dekat halte Cawang.
Sambil menunggu, dia membuka IG. Story baru Aldi — diposting 30 menit lalu. Foto langit oranye lagi, kali ini dengan reflection di kaca jendela. Caption: malam.
Lokasi: dimatikan.
Tapi di pantulan kaca, Rina bisa melihat sedikit — bayangan plang toko. Tulisan tidak jelas tapi ada satu kata yang dia bisa baca: Bekasi.
Bekasi. Aldi di Bekasi.
Rina menyimpan screenshot story itu. Dia tidak posting. Dia tidak menulis ke Aldi soal itu.
ShopeeFood datang. Dia makan nasi ayam geprek di meja kayu kontrakannya. Sambal pedas. Dia tetap habisin.
Setelah makan, dia menatap HP. Dia membuka chat WA Aldi. Dia menulis:
Aldi, kalau kamu udah siap, kakak ada di Cawang. Pintu kakak terbuka. Selalu.
Dia mengirim. Centang abu-abu satu. Lalu, lima menit kemudian, centang biru.
Aldi tidak membalas.
Rina menutup HP. Dia mencuci piringnya di wastafel. Dia membiarkan piring kering sendiri di rak.
Lalu dia duduk di sofa, menyalakan TV, dan menonton sinetron sampai dia tertidur.