← Kembali

Komedi · Cipinang · 3 menit

Hansip Tidur Sambil Berdiri

Pukul setengah tiga subuh. Kompleks Cipinang Indah Blok H. Pos hansip di ujung gang, dekat gardu listrik. Lampu pos kuning lima watt.

Pak Wirta, 53 tahun, hansip sejak 2009, berdiri di depan pos. Tongkat di tangan kanan. Punggung sedikit miring ke pintu pos. Mata tertutup.

Suara dengkurannya halus. Bukan keras. Hanya cukup untuk didengar dalam jarak satu meter.


Bowo, 26 tahun, baru pulang shift malam dari restoran cepat saji di Cawang, lewat gang Blok H untuk ke kosnya. Dia berjalan pelan, helm di tangan. Dia melihat Pak Wirta.

Dia berhenti tiga langkah dari pos.

“Pak Wirta?”

Pak Wirta tidak menjawab. Dengkurnya kontinu.

Bowo mendekati. Dua langkah. Satu langkah. Dia melambai di depan muka Pak Wirta.

Tidak ada respon.

“Pak, Bapak tidur?”

Dengkurnya bergeser ke ritme yang sedikit lebih cepat. Tetap berdiri. Tongkat tetap di tangan.


Bowo mengeluarkan HP. Dia video Pak Wirta selama sepuluh detik. Bukan untuk TikTok — untuk grup WA RT. Dia kirim ke grup.

Lima menit kemudian, sembilan tetangga sudah lihat. Komentar:

Pak Joko: Hahaha. Skill langka. Bu Sumi: Astagfirullah, kasian. Pak RT: Bangunkan, Wo. Hati-hati ada maling.

Bowo membaca pesan Pak RT. Dia menatap Pak Wirta. Dia merasa, sedikit, ya, hati-hati ada maling.

Dia menggoyang bahu Pak Wirta pelan. “Pak.”

Pak Wirta sadar. Matanya terbuka. Tongkatnya jatuh ke tanah dengan bunyi tok.

“Eh, eh.” Pak Wirta panik dua detik. “Apa, ada apa?”

“Pak, Bapak tidur berdiri.”

“Berdiri?”

“Iya. Saya video. Sebelas detik.”


Pak Wirta mengambil tongkatnya dari tanah. Dia menatap Bowo. Dia menyentuh wajahnya — masih ada bekas tidur di pipi kiri. Dia tertawa sebentar.

“Wo, Bapak kayaknya udah dua jam berdiri.”

“Sejak pukul setengah satu?”

“Tadi habis patroli, terus saya berdiri di sini. Saya kira lima menit.”

“Pak, capek banget berarti.”

“Iya. Anak saya yang bungsu, kemarin, demam. Saya gak tidur dari Jumat.”

Bowo mengangguk. Dia tidak komentar lagi soal video.


Pak RT datang lima menit kemudian. Pakai sarung, kaos oblong. Wajah baru bangun.

“Wirta, ya udah, masuk pos. Tidur di pos. Sampai pagi gak apa-apa.”

“Pak RT, saya kebagian patroli.”

“Patroli besok aja. Sekarang lo perlu tidur.”

Pak Wirta mengangguk. Dia masuk pos. Dia naik ke tikar di dalam pos. Dia tidur dalam tiga menit.

Pak RT dan Bowo berdiri di depan pos. Pak RT mengulurkan rokok ke Bowo. Bowo terima. Mereka merokok.

“Wo, lo gak ngantuk?” Pak RT bertanya.

“Habis shift. Saya udah biasa subuh.”

“Maling sekarang, kalo masuk, gimana?”

“Saya jaga sampai subuh, Pak. Tapi pukul lima saya pulang kos, mau tidur.”

Pak RT mengangguk. “Yaudah. Subuh nanti gw bangunin Wirta.”


Pukul setengah empat, ada suara di teras rumah Pak RT — dua rumah dari pos hansip. Suara langkah pelan. Lalu suara sesuatu dipindah.

Pak RT lari ke arah rumahnya. Bowo ikut. Mereka melihat: tidak ada orang. Tapi dua kemoceng yang biasanya tergantung di teras Pak RT, hilang.

“Pak, dimaling kemoceng?”

“Iya kayaknya.”

Bowo menahan tawa. “Maling-nya kreatif, Pak.”

Pak RT mengangguk. “Ya udah. Besok gw beli baru.”

Mereka kembali ke pos. Pak Wirta masih tidur di dalam, dengkurnya jelas dari luar.

Bowo pulang kos. Pak RT pulang rumah. Pos hansip kembali kosong, dijaga oleh dengkuran Pak Wirta sampai subuh.


— Cipinang, 6 Juli 2026

Ditulis oleh Bagus Pramudita

← Semua cerpen Genre Komedi →