Demo BBM di Patung Kuda
3 Juni 2026 · 612 kata
Reza naik TransJakarta dari Cawang ke Halte Monas pukul setengah sebelas pagi. Dia mengambil cuti setengah hari. Di form HRIS, dia menulis: urusan keluarga.
Dia turun di Monas. Dia berjalan ke Patung Kuda. Sudah ada sekitar tiga ratus orang berkumpul. Mahasiswa, pekerja serikat buruh, beberapa orang yang sepertinya seperti Reza — kantoran, baju polos, masker hitam.
Reza membuka tasnya. Spanduk dari kain bekas, ditulis dengan cat semprot hitam: BBM NAIK, GAJI TIDAK.
Dia menulis sendiri di kamar kos minggu lalu.
Pukul dua belas siang, orasi dimulai. Pengeras suara dari mobil komando terdengar pecah-pecah. Reza tidak terlalu mengerti yang dibilang orator — angka-angka, persentase kenaikan, sebut nama menteri. Dia ikut mengangkat spanduk. Dia ikut teriak “Turunkan!” tiga kali. Dia minum air mineralnya.
Di sampingnya, seorang mahasiswa — kemeja almamater kuning, mungkin UI — bertanya, “Mas kuliah di mana?”
“Saya kerja, dik.”
“Oh, mas kantoran ikut demo. Salut.”
Reza tidak menjawab. Dia tidak yakin “salut” itu pujian atau ejekan halus.
Pukul setengah tiga, panas mulai memburuk. Spanduk Reza basah keringat. Beberapa orang sudah duduk di trotoar. Polisi berbaris di sisi seberang, dengan tameng tapi belum dipasang.
HP Reza bergetar di saku. WA dari Pak Adit, atasannya:
Bro, lo di mana? Klien Bukit Asam minta kita conference call jam 3.
Reza menatap HP. Dia menulis:
Pak, saya cuti setengah hari ya. Sudah saya submit kemarin.
Iya gw tau. Tapi klien minta. Bisa join 30 menit aja?
Reza memandang spanduk di tangannya. Cat semprotnya mulai luntur.
Dia menulis: Pak maaf. Saya benar-benar gak bisa join hari ini.
Pak Adit membaca dua menit kemudian. Tidak membalas.
Pukul empat sore, hujan turun mendadak. Massa berlarian ke teduhan — halte, kanopi gedung, pohon. Reza ikut berlari. Spanduknya jatuh, terinjak, dia tidak mengambilnya lagi.
Dia berlindung di pintu masuk halte Monas. Bersama belasan orang lain. Air masuk dari atas, atap halte bocor di satu titik.
Dia mengeluarkan HP lagi. Tiga WA dari Pak Adit:
Bro, klien udah nanya lo lagi.
Bro?
OK gw handle sendiri. Besok ngobrol ya.
Reza menatap WA itu lama. Dia tahu “besok ngobrol ya” artinya bukan obrolan biasa.
Dia menutup HP. Dia menatap hujan.
Demo bubar pukul setengah lima. Beberapa orang yang masih di Patung Kuda berdiri dengan spanduk basah. Polisi mulai mendorong massa pelan-pelan ke arah Harmoni. Tidak ada bentrok. Hanya basah.
Reza berjalan ke halte TransJakarta Harmoni. Dia naik bus ke Cawang. Bus penuh — banyak yang dari demo, beberapa yang dari kantor.
Di bus, dia memikirkan Pak Adit. Dia memikirkan klien Bukit Asam. Dia memikirkan KPR kontrakannya di Cawang, cicilan bulan depan. Dia memikirkan anak satunya, baru satu tahun, sedang dengan istrinya di rumah.
Dia tidak memikirkan harga BBM.
Di kontrakan, istrinya, Mira, sudah menunggu di teras dengan anaknya. Anaknya tidur. Mira menatap baju Reza yang basah.
“Demo, Bang?”
“Iya, Mi.”
“Atasan Abang tahu?”
“Tahu.”
Mira mengangguk. Dia tidak bertanya lebih. Dia membawa Reza masuk, memberi handuk, menyuruh dia mandi.
Reza mandi air dingin. Di kamar mandi, dia melihat luka kecil di sikunya — entah kena apa di kerumunan tadi. Dia tidak ingat.
Setelah mandi, dia membuka HP. Tidak ada WA baru dari Pak Adit.
Dia menaruh HP di meja. Dia menggendong anaknya yang masih tidur. Dia duduk di kursi teras, menatap gerimis yang masih turun di Cawang.