Halte Manggarai, Sore
4 Juni 2026 · 720 kata
Reza dan saya pacaran selama dua tahun di Manggarai. Kuliah di kampus dekat stasiun, kantin di gang sempit yang kami sebut “tempat ngutang”, indekos kami di gang yang sama dengan pemilik yang sama. Tiga tahun lalu kami lulus. Reza diterima kerja di perusahaan tambang di Bogor. Saya diterima di kantor konsultan di Bekasi. Kami pisah kota, tetap pacaran.
Sekarang setiap Jumat sore, kami janjian di Stasiun Manggarai. Saya naik KRL dari Bekasi, dia naik KRL dari Bogor. Kami bertemu di peron 4 — peron transit, peron yang paling padat di seluruh Indonesia, peron yang menjadi katedral kecil bagi pasangan LDR Jabodetabek.
Pertemuan kami satu jam. Dia turun, saya turun, kami makan di gerobak nasi goreng di luar stasiun, lalu kami kembali ke peron untuk pulang. Saya kembali ke Bekasi, dia kembali ke Bogor.
Satu jam adalah waktu yang aneh. Terlalu cepat untuk benar-benar bersama, terlalu lama untuk basa-basi. Kami sudah hafal urutan obrolan: kerjaan minggu ini, drama keluarga, kabar teman kuliah, lalu hal-hal kecil yang kami simpan sepanjang minggu untuk diceritakan. Kalau ada konflik yang lebih besar, kami simpan untuk WhatsApp tengah malam — tidak boleh terbawa ke Manggarai.
Jumat tadi, Reza terlambat tiga puluh menit. KRL dari Bogor mogok di Stasiun Tebet. Saya berdiri di peron 4, melihat KRL ke Bogor lewat, melihat KRL dari Bogor datang tanpa Reza, melihat sandal jepit dari Aldi, ibu-ibu yang bawa keranjang plastik penuh sayuran dari Pasar Senen, anak SMA yang baru pulang sekolah dengan tas yang masih basah dari hujan tadi pagi.
Saya berdiri di tempat yang sama selama tiga puluh menit. Saya tidak buka HP. Saya hanya berdiri.
Yang lewat di hadapan saya: kaki-kaki yang bergerak dengan tergesa, suara pengumuman yang sama persis setiap kereta datang, klakson kereta yang berbeda-beda tergantung jurusan, dan pikiran-pikiran saya sendiri yang biasanya saya tahan untuk diceritakan ke Reza.
Saya menyadari, untuk pertama kalinya dalam dua tahun LDR ini, bahwa saya bisa menikmati Manggarai sendirian.
Reza akhirnya tiba. Mukanya merah karena keringat dan minta maaf yang berlebihan. Kami pergi ke gerobak nasi goreng, makan dalam diam beberapa menit pertama, lalu obrolan biasa dimulai.
“Pekerjaan?”
“Lumayan. Bos ngajak ke Singapura minggu depan, kemungkinan dua hari.”
“Wow, gimana cuti?”
“Sudah disetujui. Pas dengan jadwal makan minggu depan kita, jadi mungkin kita skip.”
“Oke.”
Saya tidak terkejut. Bukan karena saya tidak peduli. Karena saya tahu, sebelum dia bilang, bahwa Jumat depan dia tidak akan datang. Dan saya tahu juga bahwa Jumat berikutnya, saya mungkin yang tidak datang. Klien meminta saya ke Surabaya.
Kami berdua sudah mulai punya jadwal yang tidak terbawa lagi ke Manggarai.
Pukul tujuh tiga puluh, kami kembali ke peron 4. KRL ke Bogor datang lebih dulu. Reza naik, mencium pipi saya, melambai dari jendela. Saya melambai balik. Pintu tertutup. Kereta jalan.
Tiga menit kemudian, KRL ke Bekasi datang. Saya naik. Tidak ada yang melambaikan tangan untuk saya.
Saya duduk di kursi dekat jendela. KRL berjalan. Saya menatap ke arah Manggarai yang menjauh.
Saya tidak tahu kapan kami akan berhenti datang ke Manggarai. Bukan karena hubungan kami akan berakhir — saya tidak yakin itu. Tapi karena suatu hari nanti, salah satu dari kami akan mengaku bahwa satu jam per minggu tidak cukup, dan yang lain akan mengaku bahwa satu jam per minggu sudah terlalu banyak.
Yang akan jadi mantan dari kami berdua, saya belum tahu. Yang saya tahu: Manggarai akan tetap di sana, dengan peron 4 yang sama, dengan ibu-ibu yang sama, dengan anak SMA yang masih basah dari hujan pagi.
Manggarai tidak akan pernah jadi mantan. Manggarai akan jadi tempat — bukan kenangan, hanya tempat.
Bacaan terkait dari format puisi pendek: puisi Pasar Lama Tangerang.